{"id":4946,"date":"2016-01-14T14:30:49","date_gmt":"2016-01-14T22:30:49","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=4946"},"modified":"2016-01-13T20:39:24","modified_gmt":"2016-01-14T04:39:24","slug":"berkorban-melakukan-sesuatu-yang-tidak-biasa-dengan-tujuan-yang-bermanfaat-untuk-orang-lain-karena-kasih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4946","title":{"rendered":"Berkorban Melakukan Sesuatu Yang Tidak Biasa, Dengan Tujuan Yang Bermanfaat Untuk Orang Lain, Karena Kasih"},"content":{"rendered":"<p><strong>Hari Jumat Minggu Pertama Masa Biasa<\/strong><br \/>\n<strong> 15 January, 2016<\/strong><\/p>\n<p><strong>1 Samuel 8:4-7, 10-22a<\/strong><br \/>\n<strong> Markus 2:1-12<\/strong><\/p>\n<p>Saudara-saudariku terkasih,<\/p>\n<p>Kalau setiap hari kita melakukan sesuatu yang routine untuk memenuhi tugas dan tanggungjawab kita atas kehidupan yang Tuhan berikan, sudah sangat tepat karena itu adalah komitmen dan sekaligus telah menjadi ungkapan pertumbuhan relasi kita dengan Tuhan. Segala sesuatu yang routine seperti waktunya untuk tidur, waktu untuk berdoa atau kapan kita meninggalkan rumah ke tempat kerja dan lain sebagainya. Tetapi bukan tidak mungkin hal-hal yang routine itu sempat kacau kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan lalu lintas yang membuat perjalanan kita ke tempat kerja itu tidak lancar (macet total), atau mobil kita mogok, bahkan ada halangan lain; ada anggota keluarga yang sakit dan sudah harus segera dihantar ke dokter dan lain sebagainya. Tantangan-tantangan seperti ini benar-benar terjadi di luar rencana, di luar schedule routine dan di luar kemampuan kita untuk menghindarinya atau bersikap masa bodoh. Bukan mustahil bahwa dalam keadaan yang sudah tidak berdaya, kita lari kepada Tuhan minta tolong, minta terang Roh Kudus untuk bisa dengan sabar, tenang serta bijaksana mengatasi tantangan-tantangan itu.<\/p>\n<p>Keempat sahabat bahkan juga mungkin anggota keluarga dari orang yang lumpuh dalam bacaan Injil hari ini, diluar dugaan telah melakukan sesuatu yang tidak biasa&#8230;menghantar orang yang lumpuh itu kepada Yesus. Keputusan yang mereka ambil itu hanya berdasarkan pada kepercayaan yang penuh kepada Allah. Sebelum kita melakukan permenungan yang lebih jauh dan mendalam, kita perlu memberi perhatian yang khusus kepada keempat sahabat itu. Seperti yang sudah saya katakan, bahwa sangat mungkin mereka itu adalah sahabat dekat\/akrab dari si lumpuh itu dan bahkan sangat mungkin bahwa mereka itu adalah anggota keluarganya. Rupanya mereka sudah pernah melakukan pelbagai macam cara untuk membantu proses kesembuhan dari si lumpuh itu.<\/p>\n<p>Saudara-saudari terkasih,<\/p>\n<p>Ketika mereka mendengar bahwa Yesus &#8211; yang sudah menyembuhkan begitu banyak orang, baik di kampungnya sendiri maupun di kampung orang lain, mereka sepakat untuk meninggalkan segala kesibukannya, acara pekerjaannya setiap hari lalu focus untuk menghantar si lumpuh itu kepada Yesus. Mereka berani melakukan hal itu karena mereka &#8220;percaya&#8221;. Karena kepercayaan mereka yang begitu luar biasa, sampai tidak peduli lagi cara dan jalan apa saja yang mereka tempuh; bahkan sampai harus membongkar atap rumah orang lain dimana Yesus tinggal. Yang penting bahwa si lumpuh itu dapat bertemu dengan Yesus. Mereka terpaksa melakukan hal itu karena terlalu banyak orang baik di luar maupun di dalam rumah dimana Yesus berada. Hambatan itu tidak membuat mereka putus asa, atau menyerah kepada keadaan. Dikatakan bahwa: &#8220;Ketika Yesus melihat iman mereka (keempat orang itu), berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: &#8216;Hai anakKu, dosamu sudah diampuni!'&#8221; Selanjutnya untuk membuktikan bahwa Yesus punya kuasa untuk mengampuni dosa, Yesus berkata kepada si lumpuh itu: &#8220;Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!&#8221; &#8220;Dan orang lumpuh itu bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu&#8230;&#8221;<\/p>\n<p>Lalu apa relevansinya untuk kita? Pertama-tama kita perlu kembali melihat acara harian kita yang menunjukkan rasa tanggungjawab kita, komitmen kita kepada kehidupan yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Selain itu kita juga perlu mawas diri, dan bertanya: sudah sejauh mana kepercayaan kita kepada Yesus seperti kepercayaan keempat sahabat si lumpuh dalam bacaan injil hari ini? Apakah kita juga cukup fleksibel mengorbankan waktu routine kita untuk bisa memenuhi kebutuhan orang lain yang sungguh-sungguh membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita? Dan kalau kita sudah bisa atau sudah pernah melakukan hal yang sama seperti yang sudah dilakukan oleh keempat orang sahabat si lumpuh dalam bacaan injil hari ini, &#8220;apakah pengorbanan yang kita persembahkan untuk membantu orang lain itu, sudah berdasarkan pada cintakasih yang murni\/tulus ataukah ada perhitungan lain? Selamat bermeditasi. Tuhan memberkati. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari Jumat Minggu Pertama Masa Biasa 15 January, 2016 1 Samuel 8:4-7, 10-22a Markus 2:1-12 Saudara-saudariku terkasih, Kalau setiap hari kita melakukan sesuatu yang routine untuk memenuhi tugas dan tanggungjawab kita atas kehidupan yang Tuhan berikan, sudah sangat tepat karena itu adalah komitmen dan sekaligus telah menjadi ungkapan pertumbuhan relasi kita dengan Tuhan. Segala sesuatu yang routine seperti waktunya untuk tidur, waktu untuk berdoa atau kapan kita meninggalkan rumah ke tempat kerja dan lain sebagainya. Tetapi bukan tidak mungkin hal-hal&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=4946\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-4946","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4946","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4946"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4946\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4948,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4946\/revisions\/4948"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4946"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4946"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4946"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}