{"id":5043,"date":"2016-01-20T14:00:20","date_gmt":"2016-01-20T22:00:20","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5043"},"modified":"2016-01-20T09:59:43","modified_gmt":"2016-01-20T17:59:43","slug":"benci-dan-iri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5043","title":{"rendered":"Benci dan Iri"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Born_Again_by_DodgeNBurn.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"  wp-image-3907 aligncenter\" src=\"http:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2015\/04\/Born_Again_by_DodgeNBurn-811x1024.jpg\" alt=\"Born_Again_by_DodgeNBurn\" width=\"188\" height=\"235\" \/><\/a><\/p>\n<p>Bacaan Markus 3:1-6<\/p>\n<p>Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.\u00a0 Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: &#8220;Mari, berdirilah di tengah!&#8221;\u00a0 Kemudian kata-Nya kepada mereka: &#8220;Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?&#8221; Tetapi mereka itu diam saja.<\/p>\n<p>Kalau mata dan hati kita dipenuhi iri dan benci, segala perbuatan baik orang lain akan terlihat tetap buruk di mata kita. Kebencian membuat mata kabur dan buta. Tak bisa melihat hal baik. Hanya rasa tidak puas dan dengki menguasai perasaan. Bahkan kita mencari-cari alasan untuk membenarkan diri, dan meneruskan mencari kesalahan orang. Kalau rasa benci itu membuncah, kita tak mau lagi diajak berdamai lagi.<\/p>\n<p>Itulah yang terjadi pada orang Farisi dan ahli Taurat, sejak awal mereka mengamati Yesus kalau dia membuat kesalahan dan melaporkannya pada pihak berwenang. Yesus menyembuhkan orang yang tangannya mati rasa, tak bisa digerakkan, mungkin dia kena stroke dalam bahasa kita sekarang.<\/p>\n<p>Yesus tidak menyentuh orang itu, dia hanya berkata padanya, &#8220;ulurkan tanganmu!&#8217; dan saat sang sakit mengulurkan tangan, ia menjadi sembuh. Namun, orang Farisi tak melihat penyembuhan itu sebagai tindakan baik. Mereka menuduh Yesus melanggar hukum karena menyembuhkan di hari Sabat.<\/p>\n<p>Yesus mengajak berdialog dengan orang Farisi, &#8220;mana yang lebih baik berbuat baik atau berbuat jahat di hari Sabat?&#8221; Namun orang Farisi tak mau menjawab, hanya diam. Mereka tak ingin berdamai dan mencari jalan keluar yang baik bersama Yesus. Mata mereka buta oleh kebencian dan rasa iri. Rasa benci itu tak bisa pupus, hingga akhirnya mereka bersekongkol dengan pengikut raja Herodes untuk membunuh Yesus.<\/p>\n<p>Apakah ada perasaan iri dan benci yang tak tersembuhkan dalam hati kita? Dua hal itu akan merusak relasi dan hidup bila tak ditangani. Hari ini mintalah agar Allah juga menyembukan hati kita yang tak bisa bergerak menjadi baik, beku dan tak bisa melihat hal baik dalam hidup orang lain.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bacaan Markus 3:1-6 Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.\u00a0 Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: &#8220;Mari, berdirilah di tengah!&#8221;\u00a0 Kemudian kata-Nya kepada mereka: &#8220;Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?&#8221; Tetapi mereka itu diam saja. Kalau mata dan hati kita dipenuhi iri&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5043\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5043","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5043","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5043"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5043\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5044,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5043\/revisions\/5044"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5043"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5043"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5043"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}