{"id":5077,"date":"2016-02-04T14:30:19","date_gmt":"2016-02-04T22:30:19","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5077"},"modified":"2016-01-31T07:31:12","modified_gmt":"2016-01-31T15:31:12","slug":"peringatan-st-agata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5077","title":{"rendered":"Peringatan St. Agata"},"content":{"rendered":"<p>Jumat, 5 Pebruari 2016<\/p>\n<p>Sirakh 47: 2-11<\/p>\n<p>Markus 6: 14-29<\/p>\n<p>Lebih baik mengatakan kebenaran dan membuat orang menangis, dari pada mengatakan kebohongan dengan mulut manis namun beracun. Dari ungkapan ini kita bisa belajar bahwa ternyata mengatakan apa yang benar seringkali menyakitkan. Namun apa yang menyakitkan itu menyelamatkan. Hal ini jauh lebih baik dari pada mengatakan kebohongan dengan mulut manis namun berujung kematian. Santo Yohanes Pembaptis sebagai orang yang benar dan lurus mengatakan apa yang tidak benar dalam praktek perkawinan Herodes dan Herodias. Namun ternyata apa yang ia katakan tidak diterima dan menimbulkan dendam. Akibatnya ia dibunuh. Memang badannya mati, namun semangat kebenaran yang ia wartakan tetap hidup dalam hati para pengikutnya bahkan dalam diri Yesus sepupunya. Yesus sedemikian mengagumi keberanian Yohanes Pembaptis. Herodes dan Herodias yang telah membunuh Yohanes, untuk sementara mengalami bahagia karena penghalang hubungan haram mereka tak ada lagi. Namun sebagai akibat dari hubungan haram itu mereka dengan seluruh keluarga dan bahkan kerajaannya mengalami kehancuran. Tak selamanya apa yang baik dan enak selalu benar. Terkadang apa yang baik dan enak justru mengandung maut di dalamnya.<\/p>\n<p>Hari ini kita juga merayakan keberanian seorang gadis, Agata. Ia juga berani menyuarakan kebenaran berkaitan dengan haknya sebagai seorang beriman. Ia menolak untuk dipersunting seorang perwira. Sebagai akibatnya perwira itu dendam dan membunuh dia dengan kejam. Meskipun Agata mati, namun keberaniannya mampu memberikan inspirasi bagi banyak orang Kristen untuk berani menyuarakan kebenaran. Semoga kitapun juga mampu untuk menyuarakan kebenaran karena apa yang benar selalu membuahkan kebaikan hidup. Santa Agata dan Santo Yohanes Pembaptis, doakanlah kami agar mampu menyuarakan kebenaran dalam hidup kami. Amin.<\/p>\n<p>Doa:<\/p>\n<p>Allah Tritunggal Mahakudus, mengatakan suatu hal yang benar seringkali membutuhkan kekuatan dan nyali yang kuat. Terkadang kami takut mengatakan apa yang benar karena kami takut dibenci ataupun dijauhi. Ya Allah Tuhan kami, kuatkanlah kami untuk selalu mengutamakan apa yang baik dan benar di atas segala sesuatu. Kami ingin agar hidup kami berguna bagi banyak orang karena kami mau mewartakan hal-hal yang baik dan benar lewat skap hidupdan perkataan kami. Berkati kami selaluu ya Tuhan dengan kuasa RohMu. Amin. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat, 5 Pebruari 2016 Sirakh 47: 2-11 Markus 6: 14-29 Lebih baik mengatakan kebenaran dan membuat orang menangis, dari pada mengatakan kebohongan dengan mulut manis namun beracun. Dari ungkapan ini kita bisa belajar bahwa ternyata mengatakan apa yang benar seringkali menyakitkan. Namun apa yang menyakitkan itu menyelamatkan. Hal ini jauh lebih baik dari pada mengatakan kebohongan dengan mulut manis namun berujung kematian. Santo Yohanes Pembaptis sebagai orang yang benar dan lurus mengatakan apa yang tidak benar dalam praktek perkawinan Herodes&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5077\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5077","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5077","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5077"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5077\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5078,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5077\/revisions\/5078"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5077"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5077"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5077"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}