{"id":5175,"date":"2016-03-10T13:44:57","date_gmt":"2016-03-10T21:44:57","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5175"},"modified":"2016-03-06T07:45:54","modified_gmt":"2016-03-06T15:45:54","slug":"proses-menuju-kematian-seringkali-menakutkan-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5175","title":{"rendered":"Proses menuju kematian seringkali menakutkan kita"},"content":{"rendered":"<p>Yoh 7:1-2.10.14.25-30<\/p>\n<p>Dalam melaksanakan kehendak Bapa, Yesus menghadapi tantangan dan kesulitan. Seperti yang diceritakan dalam injil hari ini, Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea? Karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuhNya (Yoh 7:1). Yesus sungguh mengetahui bahwa misiNya adalah untuk menyelamatkan manusia dan menebus dosa-dosa manusia. Hal itu juga akan membawa konsekuensi pengorbanan dan penderitaan yang mencapai puncaknya dalam kematian di kayu salib. Namun itu semua tidak menjadi akhir, salibNya akan mengalahkan dosa, hukuman salib menjadi tanda pengampunan dan pembebasan, dan kematian berubah menjadi kemuliaan dan hidup kekal. Yesus berani menghadapi penderitaan salib bahkan kematian. Kemuliaan salib menjadi nyata dalam peristiwa kebangkitanNya untuk membebaskan kita dari hukuman dosa.<br \/>\nBacaan injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan perjalanan hidup kita sebagai orang yang mengimani Yesus Kristus. Apa yang menjadi tantangan bagi kita untuk melakukan kehendak Allah? Salah satu tantangannya adalah ketakutan, terutama TAKUT akan kematian, TAKUT akan kehilangan. Seringkali memang bukanlah kematian yang kita takuti tetapi poses yang membawa pada kematian, itulah yang kita takuti, misalnya pengalaman sakit yang berkepanjangan atau peristiwa kematian yang secara tiba-tiba. Proses menuju kematian juga bisa terjadi dalam konteks hidup rohani. Oeh karena itu dalam hidup rohani, kita juga membutuhkan keberanian menghadapi kematian. Keberanian menghadapi kematian berarti berani menyangkal diri. Proses kematian diri sendiri seringkali terjadi dalam hidup batin kita, misalnya ketika kita berani mengampuni seseorang, berani untuk setia dalam perkawinan dan panggilan hidup religius, berani untuk berkorban dalam pelayanan.\u00a0 Dalam masa prapaskah ini kita diundang untuk merenungkan hidup Yesus yang memberikan teladan keberanian untuk menghadapi kematian demi melaksanakan kehendak Bapa dan untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Dia berani menderita demi mencintai umat manusia. Dia merangkul salib untuk menebus kita dari dosa dan memberikan kepada kita hidup yang baru. Marilah kita memohon rahmat keberanian untuk menghadapi kematian diri sendiri, dengan berani mengampuni sesama dan melayani sesama dengan cinta dan belas kasih. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yoh 7:1-2.10.14.25-30 Dalam melaksanakan kehendak Bapa, Yesus menghadapi tantangan dan kesulitan. Seperti yang diceritakan dalam injil hari ini, Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea? Karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuhNya (Yoh 7:1). Yesus sungguh mengetahui bahwa misiNya adalah untuk menyelamatkan manusia dan menebus dosa-dosa manusia. Hal itu juga akan membawa konsekuensi pengorbanan dan penderitaan yang mencapai puncaknya dalam kematian di kayu salib. Namun itu semua tidak menjadi akhir, salibNya akan mengalahkan dosa,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5175\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5175","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5175","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5175"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5175\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5176,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5175\/revisions\/5176"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5175"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5175"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5175"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}