{"id":5237,"date":"2016-03-24T13:00:13","date_gmt":"2016-03-24T20:00:13","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5237"},"modified":"2016-03-23T16:15:53","modified_gmt":"2016-03-23T23:15:53","slug":"jumat-agung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5237","title":{"rendered":"Jumat Agung"},"content":{"rendered":"<div class=\"readMsgBody\">\n<div id=\"bodyreadMessagePartBodyControl451f\" class=\"ExternalClass MsgBodyContainer\" data-link=\"class{:~tag.cssClasses(PlainText, IsContentFiltered)}\">\n<p dir=\"ltr\">Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19;42<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Lihatlah manusia itu&#8221; (Yoh 19:5).<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ketika Ponsius Pilatus mengatakan kata-kata ini pada hari Jumat Agung, ia sedang mencoba untuk membuktikan bahwa Yesus tidak bersalah. Ia telah mengadili Yesus dan mendapatiNya tidak ada alasan untuk dihukum mati. Seakan-akan Pilatus berseru kepada Sanhedrin, lihat, saya sudah mengadili orang itu. Bahkan saya telah menghukumNya dengan aniaya atas tindakan kriminal yang kalian tuduhkan kepadaNya. Saya sudah melakukan apa yang harus saya lakukan. Sekarang, biarkan Dia pergi. Biarkan saya juga pergi. Jangan libatkan saya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Tetapi itu tidak cukup. Sanhedrin berhasil menghasut masa yang berkumpul untuk melakukan tindakan anarkhis. Masa menuntut agar Yesus dihukum mati. Dan Pilatus memang terkenal sebagai gubernur yang lemah dan penakut mengabulkan permintaan masa.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dua ribu tahun kemudian. Ucapan Pilatus terus masih bergema, namun memiliki makna baru yang lebih mendalam. Pada hari ini, Allah Bapa bertanya kepada kita &#8220;Lihatlah manusia itu!&#8221; Allah Bapa bertanya pada kita untuk melihat pada Yesus yang terluka, memar dan dimahkotai duri dan melihatNy sebagai Sang Penyelamat, Tuhan dan Raja kita.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Lihatlah manusia itu hari ini. Lihatlah manusia yang menderita itu, meratap dan yang menanggung dosa-dosa kita manusia. Lihatlah manusia yang tidak bersalah itu menjadi korban bagi penebusan umat manusia. Lihatlah rencana Allah Bapa untuk menyelamatkan kita melalui kematian PuteraNya yang terkasih. Lihatlah Cinta Yesus, dalamnya cintaNya membuat Ia rela mati dengan keji di kayu salib. Lihatlah manusia itu yang memeluk nasibnya karena Ia mencintai kita.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Akan tetapi masih ada lagi yang perlu kita renungkan. Ketika kita melihat manusia itu, kita juga memegang kemanusiaan kita sendiri. Kita melihat kedosaan kita sendiri, iri hati kita dan egoisme kita. Kita melihat bagaimana dosa kita membuat kita menderita. Seperti sosok manusia yang dirampok dan dipukuli di tengah jalan dan diselamatkan oleh orang Samaria yang baik hati itu. Tuhan Yesus mendampingi kita untuk menunjukan kepada kita betapa kita akan menderita jika tanpa pendampinganNya. Ia menunjukkan kepada kita apa jadinya jika dunia ini tanpa Dia. Lihatlah bagaimana Manusia itu telah menyelamatkan dunia.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Marilah kita menyembah salibNya. Berterima kasih atas pengorbananNya. Marilah kita berikan hidup kita pada Manusia itu yang telah memberikan hidupNya kepada kita.<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19;42 &#8220;Lihatlah manusia itu&#8221; (Yoh 19:5). Ketika Ponsius Pilatus mengatakan kata-kata ini pada hari Jumat Agung, ia sedang mencoba untuk membuktikan bahwa Yesus tidak bersalah. Ia telah mengadili Yesus dan mendapatiNya tidak ada alasan untuk dihukum mati. Seakan-akan Pilatus berseru kepada Sanhedrin, lihat, saya sudah mengadili orang itu. Bahkan saya telah menghukumNya dengan aniaya atas tindakan kriminal yang kalian tuduhkan kepadaNya. Saya sudah melakukan apa yang harus saya lakukan. Sekarang, biarkan Dia pergi. Biarkan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5237\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5237","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5237","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5237"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5237\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5238,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5237\/revisions\/5238"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}