{"id":5281,"date":"2016-04-04T20:16:39","date_gmt":"2016-04-05T03:16:39","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5281"},"modified":"2016-04-04T20:16:39","modified_gmt":"2016-04-05T03:16:39","slug":"komunis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5281","title":{"rendered":"Komunis"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/First-Christian-Alm.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/First-Christian-Alm-300x141.jpg\" alt=\"First Christian Alm\" width=\"300\" height=\"141\" class=\"aligncenter size-medium wp-image-5282\" srcset=\"https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/First-Christian-Alm-300x141.jpg 300w, https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/First-Christian-Alm-500x235.jpg 500w, https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2016\/04\/First-Christian-Alm.jpg 528w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Bacaan I\t: Kis. 4:32-37<br \/>\nBacaan Injil\t: Yoh. 3:7-15<\/p>\n<p>Salah satu tantangan memasuki penggemblengan hidup rohani di novisiat-tahap awal formasi hidup religius- adalah banyaknya istilah-istilah khas dan khusus. Sudah sedari awal sebelum bergabung di dalamnya, terbata-bata saya mencoba memahami \u201cdunia lain\u201d ini mulai dari hal yang paling sederhana: bahasa. Meski nampak sederhana, bahasa membawa bersamanya seluruh konsep yang menentukan identitas, cara berpikir dan cara hidup, hingga akhirnya tidak sesederhana yang dikira. Salah satu hal kecil yang sempat membuat saya terpana adalah penggunaan kata \u201ckomunis\u201d. Kenaifan saya selalu mengkaitkan komunis dengan ateis, buah indoktrinasi masal negara yang menjadikan komunis kata yang berkonotasi jahat, seperti hantu yang berbahaya dan selalu siap menerkam lewat pemikiran atau gerakan sosial yang membahayakan kepentingan bangsa dan negara. Teman saya dengan tenang dan ceria menjelaskan: Ardi, ini kotak komunis, artinya ini kotak untuk menyimpan barang-barang bersama. Kan komunis itu asalnya bahasa Latin yang artinya umum, berbagi. Dan ini cara hidup utama kita: berbagi. <\/p>\n<p>Paus Fransiskus yang sangat peduli persoalan sosial, menyatakan bahwa Komunisme (sebagai sebuah ideologi dan kekuatan politik) mencuri \u201cbendera\u201d Kristianitas, 20 abad setelah bendera itu dikibarkan. Bendera Kristianitas adalah orang-orang miskin. Kepedulian sosial sudah menjadi jantung hati Gereja sedari komunitas perdana, mengikuti semangat Sang Guru. Dan kemurahan hati mengalir dari pribadi-pribadi penuh kasih, bukan aturan negara. Matius 25 menjabarkan bagaimana pengadilan akhir akan ditumpukan pada kerelaan kita berbagi tanpa bertanya latar belakang suku agama ras golongan, dan Kotbah di Bukit menghibur mereka yang terpinggir tersingkirkan secara ekonomi dan sosial. Maka jemaat perdana pun memeluk cara hidup berbagi dengan murah hati dan menekankan penghayatan bahwa milik mereka adalah milik bersama, yang kalau dibutuhkan siap dikembalikan untuk anggota komunitas yang memerlukan, seperti digambarkan dalam bacaan pertama hari ini dari Kisah Para Rasul. <\/p>\n<p>Kepedulian pada mereka yang miskin dan lapar menjadi bagian dari \u201cLiturgi\u201d (ibadat dan pelayanan) Kristiani. Yohanes Krisostomus, uskup Konstantinopel abad ke 4 menyatakan pada umatnya: \u201cJika engkau melihat seseorang menderita kesusahan, jangan bertanya-tanya terlalu banyak.. [mereka] adalah milik kepunyaan Tuhan, tak peduli dia kafir atau Yahudi, karena meski dia bukan orang beriman, dia tetap butuh bantuan.\u201d Sangat sedikit orang tahu bahwa negara sosialis pertama di dunia dibangun di Paraguay 1811 berbasis pemikiran para Yesuit yang berkarya di tengah suku Indian Guarani pada abad ke 17 (seperti digambarkan dalam film the Mission), hampir 200 tahun sebelum Karl Marx lahir dan menciptakan ajaran komunismenya. Kesetaraan dalam struktur sosial, prioritas pada kesejahteraan umum, dan nilai kolektif diatas individu, menjadi pilar-pilar masyarakat yang dibangun diatas semangat Injili peduli dan berbagi.<\/p>\n<p>Saat kelahiran baru dalam Roh didiskusikan antara Yesus dan Nicodemus, fokus pembicaran bukan sekedar sesalehan rohani atau pun relasi pribadi ekslusif dengan Allah. Kelahiran baru menandai kehadiran Roh yang membawa pribadi-pribadi mengikuti Dia yang berbagi sehabis-habisnya di ketinggian Salib, kemuliaan sejati dalam pengosongan diri yang membalikkan ukuran-ukuran dunia: kesuksesan, kekayaan, kejayaan, kekuasaan. Dalam berbagi, kita bertambah kaya. Dalam kebersamaan, kita makin menjadi individu yang menemukan jati dirinya. Dalam ketaatan pada Bapa, kita makin bebas mewujudkan impian dan dambaan diri: karena yang berarti hanyalah yang sungguh mengantar pada kebangkitan manusia baru yang siap memasuki bumi dan langit yang baru.  Dalam kebersamaan dan kesatuan. Dengan Allah. Dengan segala ciptaan yang dimuliakan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bacaan I : Kis. 4:32-37 Bacaan Injil : Yoh. 3:7-15 Salah satu tantangan memasuki penggemblengan hidup rohani di novisiat-tahap awal formasi hidup religius- adalah banyaknya istilah-istilah khas dan khusus. Sudah sedari awal sebelum bergabung di dalamnya, terbata-bata saya mencoba memahami \u201cdunia lain\u201d ini mulai dari hal yang paling sederhana: bahasa. Meski nampak sederhana, bahasa membawa bersamanya seluruh konsep yang menentukan identitas, cara berpikir dan cara hidup, hingga akhirnya tidak sesederhana yang dikira. Salah satu hal kecil yang sempat membuat saya&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5281\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5281","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5281"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5281\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5284,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5281\/revisions\/5284"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}