{"id":5495,"date":"2016-06-04T09:09:40","date_gmt":"2016-06-04T16:09:40","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5495"},"modified":"2016-06-04T09:09:40","modified_gmt":"2016-06-04T16:09:40","slug":"hati-tak-bernoda-maria","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5495","title":{"rendered":"Hati Tak Bernoda Maria"},"content":{"rendered":"<div id=\"ecxAppleMailSignature\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignleft wp-image-5496 size-medium\" src=\"http:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/image1-300x168.jpg\" alt=\"image1\" width=\"300\" height=\"168\" srcset=\"https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/image1-300x168.jpg 300w, https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/image1-1024x575.jpg 1024w, https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/image1-500x281.jpg 500w, https:\/\/lubukhati.org\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/image1.jpg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">2Tim 4:1-8<\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">Lukas 2:41-51<\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\"><\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">Setelah perayaan untuk menghormati Hati Terkudus Yesus, Gereja merayakan hati tak bernoda Maria.<\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\"><\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">Rujukan devosional perayaan ini terletak pada hati Maria yang penuh kasih kepada Yesus dan kepada Allah. Rujukan berikutnya terletak pada hati Maria yang terbuka kepada belas kasih Allah sehingga memungkinkannya menjadi tempat yang layak bagi kelahiran Yesus. Sedangkan tujuan khusus devosi ini yakni merayakan iman akan kesatuan Allah dengan manusia yang terjadi melalui &#8220;Fiat&#8221; Maria terhadap tawaran kasih Allah itu.<\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\"><\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">Tanggapan Maria ketika disambut Elizabet di rumahnya memerlihatkan kerendahan hati, kasih dan imannya yang tangguh. Lukas 1:46 melukiskan suasana hati dan jiwa Maria: &#8220;Jiwaku memuliakan keagungan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah penyelamatku.&#8221;<\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\"><\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">Ketika Maria sudah melahirkan Sang Putra, Simeon bernubuat tentang sebilah pedang yang akan menusuk jiwanya. Saat itu Maria mulai merenungkan nasib yang akan menimpa anaknya itu.<\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\"><\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">Kemudian di kaki salib, Maria harus menyaksikan sendiri anaknya menderita dan ditolak dengan siksaan terberat oleh para algojo, bermahkota duri, dipaku, digantung dan wafat.<\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\"><\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">Kayu salib adalah tempat siksaan tiara tara yang harus diterima orang-orang berdosa. Betapa teriris hati sang ibu melihat anaknya yang tanpa dosa dan salah diperlakukan sekejam itu.<\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\"><\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">Lukas menyebut Maria sebagai wanita yang <i>menyimpan semua itu di dalam hati dan merenungkannya. <\/i>Kekuatan Maria sebagai wanita yang mampu menyimpan misteri-misteri iman dalam hidupnya, dan merenungkannya terjadi karena &#8220;kuasa Allah yang maha tinggi menaunginya.&#8221;<\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\"><\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">Merenungkan hati tak bernoda Maria membawa kita untuk belajar dari ketangguhannya dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup.<\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\"><\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">Pertama, Maria mengajarkan agar kepada kita agar selalu melihat hidup kita dalam terang penyelenggaraan Ilahi. Hati dan jiwa yang terikat pada Allah menjadi sumber kegembiraan dan sukacita sejati.<\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\"><\/div>\n<div id=\"ecxAppleMailSignature\">Kedua, Maria mengajarkan kepada kita tentang bagaimana berhadapan dengan persoalan-persoalan berat dalam hidup. Ada kontradiksi-kontradiksi dalam hidup ini yang sifatnya sangat eksistensial. Bagaimana melampaui kontradiksi-kontradiksi ini? Di kaki salib, Maria tidak membiarkan Yesus sendirian. Maria bukan hanya pasrah atas nasib anaknya. Ia aktif mengikuti jalan salib dan memberi dukungan bagi Yesus. Yesus yang menderita dan tersalib menyiksa hati dan jiwanya, tapi di saat yang sama, Yesus adalah jawaban semua misteri hidup ini. Kematian-Nya di salib dan kebangkitan-Nya membawa hidup baru dan keselamatan bagi jiwa-jiwa yang beriman dan taat kepada-Nya.<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>2Tim 4:1-8 Lukas 2:41-51 Setelah perayaan untuk menghormati Hati Terkudus Yesus, Gereja merayakan hati tak bernoda Maria. Rujukan devosional perayaan ini terletak pada hati Maria yang penuh kasih kepada Yesus dan kepada Allah. Rujukan berikutnya terletak pada hati Maria yang terbuka kepada belas kasih Allah sehingga memungkinkannya menjadi tempat yang layak bagi kelahiran Yesus. Sedangkan tujuan khusus devosi ini yakni merayakan iman akan kesatuan Allah dengan manusia yang terjadi melalui &#8220;Fiat&#8221; Maria terhadap tawaran kasih Allah itu. Tanggapan Maria ketika&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5495\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5495","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5495","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5495"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5495\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5497,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5495\/revisions\/5497"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5495"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5495"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5495"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}