{"id":5536,"date":"2016-06-12T14:55:07","date_gmt":"2016-06-12T21:55:07","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5536"},"modified":"2016-06-12T05:55:53","modified_gmt":"2016-06-12T12:55:53","slug":"hari-senin-dalam-minggu-biasa-ke-11","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5536","title":{"rendered":"Hari Senin dalam Minggu Biasa ke 11"},"content":{"rendered":"<div>\n<div>\n<div><\/div>\n<div><\/div>\n<div>13, Juni 2016<\/div>\n<div><\/div>\n<div dir=\"ltr\">1 Raja-Raja 21:1-16<\/div>\n<div dir=\"ltr\">Matius 5:38-42<\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\">Saudara-saudariku terkasih,<\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\">Salam jumpa lagi!<\/div>\n<div dir=\"ltr\">Pertanyaan diatas, &#8220;Masih adakah keadilan sosial di bumi tercinta ini?&#8221; mengajak kita untuk diam sejenak, menyimak, mendalami, merenungkan artinya, keberadaannya di dunia modern ini,&#8230;lalu mau kita apakan? Dikatakan bahwa pada zaman dahulu orang kebanyakan masih memusatkan perhatiannya kepada &#8220;criminal justice&#8221;, hukum dan peraturan-peraturan yang melindungi masyarakat banyak dari kriminalitas serta pelanggaran-pelanggaran hukum lainnya. Tetapi dewasa ini pusat perhatian lebih kepada &#8220;keadilan sosial&#8221;, social justice.<\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\">Apa sih sebenarnya &#8220;keadilan sosial&#8221; itu? Teritimewa keadilan di kalangan masyarakat sekular dan di dunia ini pada umumnya? Keadilan dalam kehidupan gereja dan arti serta makna keadilan itu dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen? Pada dasarnya kalau kita berbicara tentang keadilan sosial baik arti maupun maknanya boleh dibilang arti dan maknanya sama saja baik di kalangan masyarakat umum (sekular) maupun di kalangan orang beriman. Perbedaannya bukan pada konsep liberal lawan konserfatip menurut pandangan politik, tetapi pada hal-hal yang lebih dalam dan mendasar yakni pada &#8220;bagaimana kita memandang\/menyoroti\/mengintrospeksi kedalam diri kita masing-masing dalam hubungan kita dengan orang lain serta tugas dan kewajiban kita satu terhadap yang lain dan bahkan tugas dan kewajiban kita kepada diri kita sendiri.<\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\">Di dunia sekular perhatian kita sering kepada &#8220;hak azasi manusia dan kebebasan&#8221; sebagaimana dilihat dari aspek serta norma sosial kemasyarakatan. Gereja, dalam sepanjang perjalanan sejarahnya terus menerus dan tanpa lelah berusaha menanamkan serta menhidupkan arti serta makna keadilan itu dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Allah yang telah diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Hal ini berarti kita masing-masing harus dapat menghargai, menghormati martabat dan hak-hak orang lain. Bahwa setiap orang punya hak yang sama dalam pemenuhan dasar-dasar kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu mengapa gereja baik sebagai satu institusi maupun sebagai umat Allah secara terus menerus bekerja tanpa lelah, mengajak dan mendorong sesama umat untuk bisa melakukan perbuatan-perbuatan baik sebagaimana Yesus telah lakukan selama berjalan keliling: memenuhi kebutuhan mereka yang lapar, memberi pakaian kepada mereka yang membutuhkannya dan memberi tempat tinggal kepada mereka yang terlantar. Hal ini mengingatkan saya akan Pope Francis yang menerima refugees dari Syria di Vatican.<\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\">Saudara-saudari tekasih,<\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\">Berbicara tentang keadilan sosial tidak hanya terikat kepada kebutuhan material, tetapi juga keadilan yang berhubungan dengan hak hidup seseorang, baik sejak di dalam kandungan, &#8220;hidup seorang anak dalam kandungan ibu&#8221; amat sangat berharga dan bahkan kudus. Hak hidup dari para &#8220;manula&#8221;, mereka yang dalam &#8220;terminally ill&#8221; sungguh-sungguh sangat bernilai di mata Tuhan. Oleh karena itu hidup yang telah kita terima dari Tuhan, serta cinta kasihNya kepada kita membuka mata kita untuk bisa melihat betapa luhur dan mulianya martabat kehidupan ini. Dengan demikian, &#8220;keadilan sosial&#8221; yang kita maksudkan disini bukan untuk melengkapi apa yang tidak dilakukan Allah tetapi untuk melanjutkan apa yang telah Tuhan perbuat untuk kita. Berarti kita diberi kesempatan untuk melihat diri kita masing-masing sebagai ciptaanNya yang meneruskan apa yang telah Tuhan perbuat untuk kita. Jadi setelah kita dilengkapi dengan pengertian akan keadilan yang kita peroleh dari Tuhan sejak awal penciptaanNya, bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berarti kita diberi kesempatan untuk melanjutkan apa yang Tuhan kehendaki untuk berbuat seperti yang telah dilakukan oleh Yesus puteraNya yang berjalan keliling sambil berbuat baik, memelihara dan menghargai serta menghormat hak-hak orang lain yang berada disekitar kita, sebagai mahluk sosial yang berada diantara dan dengan orang lain. Amin.<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>13, Juni 2016 1 Raja-Raja 21:1-16 Matius 5:38-42 Saudara-saudariku terkasih, Salam jumpa lagi! Pertanyaan diatas, &#8220;Masih adakah keadilan sosial di bumi tercinta ini?&#8221; mengajak kita untuk diam sejenak, menyimak, mendalami, merenungkan artinya, keberadaannya di dunia modern ini,&#8230;lalu mau kita apakan? Dikatakan bahwa pada zaman dahulu orang kebanyakan masih memusatkan perhatiannya kepada &#8220;criminal justice&#8221;, hukum dan peraturan-peraturan yang melindungi masyarakat banyak dari kriminalitas serta pelanggaran-pelanggaran hukum lainnya. Tetapi dewasa ini pusat perhatian lebih kepada &#8220;keadilan sosial&#8221;, social justice. Apa sih sebenarnya&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5536\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5536","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5536","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5536"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5536\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5537,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5536\/revisions\/5537"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5536"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5536"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5536"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}