{"id":5546,"date":"2016-06-14T14:50:10","date_gmt":"2016-06-14T21:50:10","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5546"},"modified":"2016-06-13T10:50:58","modified_gmt":"2016-06-13T17:50:58","slug":"pemurnian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5546","title":{"rendered":"Pemurnian"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<div>\n<div>\n<div><b>HARI RABU DALAM MINGGU KESEBELAS, MASA BIASA<\/b><\/div>\n<div><b>15 Juni, 2016<\/b><\/div>\n<div><b>\u00a0<\/b><\/div>\n<div dir=\"ltr\"><b>2 Raja-Raja 2:1, 6-14<\/b><\/div>\n<div dir=\"ltr\"><b>Matius 6:1-6, 16-18<\/b><\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\"><b>Saudara-saudariku terkasih<\/b><\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Kalau orang berbicara tentang &#8220;apa sih motif saudara&#8221; (motive) maka yang timbul dalam pikiran kita adalah suatu niat\/intention yang berada dibalik kata-kata atau tindakan kita. Hal itu akan menjadi alasan kita untuk bertanya, <b><i>&#8220;apa dan mengapa yang kita katakan atau kita lakukan hal itu?&#8221;<\/i><\/b> Kadangkala, motif kita itu kelihatan begitu jelas atau mudah disimak, tetapi seringkali juga terjadi bahwa kita tidak menyadari mengapa kita melakukan hal itu&#8230;tanpa melalui suatu pertimbangan yang matang, atau terjadi secara spontan. Bagaimanapun juga, suatu motif itu baik atau tidak teristimewa dalam hal mengikuti Yesus, dan atau mengapa kita begitu setia kepada Yesus, maka bacaan kita hari ini kiranya akan dapat membantu kita untuk menemukan jawabannya.<\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Bacaan Injil hari ini, Yesus memanggil dan mengingatkan para muridNya untuk memiliki suatu <b>motif yang benar<\/b> ketika melakukan perbuatan-perbuatan yang baik yang dapat membawa, menghantar orang lain kepada Tuhan, untuk bisa mengenal Tuhan, bahwa Tuhan itu baik; seperti yang telah dilakukan Yesus selama berjalan keliling dan berbuat baik, dimana Yesus sebagai anak Allah telah menampilkan wajah Allah dengan melalukan perbuatan-perbuatan baik. Karena itu dikatakan bahwa kita diciptakan menurut <b>&#8220;gambar dan rupa Allah&#8221;<\/b> agar kitapun mampu berbuat sesuatu seperti yang telah dilakukan Allah sejak awal penciptaanNya. Dengan demikian kita menyadari bahwa kita diciptakan menurut <b>&#8220;gambar dan rupa Allah&#8221; <\/b>bukan berarti kita menjadi photocopy nya Allah, tetapi kita menjadi penerus, pelaku perbuatan Allah kepada dan untuk sesama kita. Disini kita akan labih bisa mengerti akan <b>&#8220;martabat&#8221; <\/b>kita sebagai putera dan puteri Allah. Inilah motif keputusan kita mengikuti Yesus, Anak Allah.<\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Dalam kehidupan bersama, diantara dan dengan orang lain; dalam kehidupan keluarga, dalam kehidupan bermasyarakat, dalam kehidupan komunitas biara <b><i>sudahkah kita memiliki motif diatas sebagai putera dan puteri Allah, yang telah diciptakan menurut gambar dan rupa Allah?<\/i><\/b> Yesus memberi contoh dalam hal memberi sedekah, ataupun juga dalam hal berpuasa&#8230;, agar tidak dilakukan supaya dilihat orang, mendapat pujian dari orang lain. Yesus mengingatkan para muridNya agar tidak bersikap <b>&#8220;munafik&#8221;<\/b>&#8230;seperti yang saya bilang kemarin dengan ungkapan <b><i>&#8220;abang-abang lambe&#8221; (pemerah bibir, supaya kelihatan cantik), <\/i><\/b>tetapi tidak memiliki motif yang murni, jujur dan ikhlas. Karena, T<b><i>amak\/Rakus dan Kecemburuan <\/i><\/b>adalah musuh yang paling kejam dalam kehidupan keluarga, dalam kehidupan bermasyarakat dan bahkan juga dalam kehidupan Membiara. Renungkan saja sekarang: <b><i>sudah berapa banyak sesama yang telah menjadi korban dari sikap-sikap diatas dalam kehidupan panggilanmu, sebagai suami atau isteri, sebagai sesama anggota di dalam masyarakat, atau sesama saudara\/i dalam kehidupan membiara?<\/i><\/b> Hari ini Yesus mengundang kita masing-masing untuk mawas diri, bertanya kepada diri kita masing-masing, agar apa yang kita katakan, dan kita lakukan harus mengarah kepada motif utama\/dasar, dimana Allah yang telah menciptakan kita dengan <b>&#8220;martabat&#8221;<\/b> yang luhur dan mulia, menurut gambar dan rupa Allah.<\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Kalau kita masih dihantui oleh perasaan bersalah terhadap sesama saudara atau saudari kita dalam panggilan hidup seperti apapun, maka kata-kata Yesus dalam Matius 5:16 kembali memurnikan motivasi kita: <b><i>&#8220;Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.&#8221;<\/i><\/b><\/div>\n<div dir=\"ltr\"><\/div>\n<div dir=\"ltr\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Akhirnya, saudara-saudariku terkasih, kalau kata-kata dan perbuatan kita bermotifkan semangat untuk memuji dan memuliakan Allah, maka Terang dan Kasih Kristus akan selalu bercahaya dan terpancar dari dalam diri kita masing-masing kepada sesama saudara dan saudari yang berada bersama dan disekitar kita. Dengan demikian hidup anda akan menjadi berkat baik bagi sesama maupun bagi anda sendiri. Amin.<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; HARI RABU DALAM MINGGU KESEBELAS, MASA BIASA 15 Juni, 2016 \u00a0 2 Raja-Raja 2:1, 6-14 Matius 6:1-6, 16-18 Saudara-saudariku terkasih \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0Kalau orang berbicara tentang &#8220;apa sih motif saudara&#8221; (motive) maka yang timbul dalam pikiran kita adalah suatu niat\/intention yang berada dibalik kata-kata atau tindakan kita. Hal itu akan menjadi alasan kita untuk bertanya, &#8220;apa dan mengapa yang kita katakan atau kita lakukan hal itu?&#8221; Kadangkala, motif kita itu kelihatan begitu jelas atau mudah disimak, tetapi seringkali juga terjadi bahwa&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5546\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5546","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5546","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5546"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5546\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5547,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5546\/revisions\/5547"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5546"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5546"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5546"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}