{"id":5643,"date":"2016-07-18T19:29:23","date_gmt":"2016-07-19T02:29:23","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5643"},"modified":"2016-07-18T19:29:23","modified_gmt":"2016-07-19T02:29:23","slug":"gitu-aja-kok-repot","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5643","title":{"rendered":"Gitu Aja Kok Repot"},"content":{"rendered":"<p>Senin, 18 Juli 2016<\/p>\n<p>Mikha 6:1-4, 6-8<br \/>\nMazmur 50<br \/>\nMatius 12:38-42<\/p>\n<p>Masih ingat mendiang Gus Dur? Salah satu kalimatnya yang terkenal adalah, &#8220;Gitu aja kok repot!&#8221; Dia menjawab demikian kalau ditanya hal-hal yang kompleks atau pertanyaan yang berputar-putar. Jawabannya sering dipermasalahkan orang karena terlalu &#8220;nyeleneh&#8221; atau simplistik. Tapi di balik semua itu Gus Dur seperti ingin berpesan bahwa kita tidak perlu membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit kalau tidak perlu. Pesannya membawa angin segar dalam politik negara kita yang waktu itu carut marut di era reformasi yang masih baru.<\/p>\n<p>Hari ini kita bisa mendengar bagaimana Nabi Mikha begitu kesalnya dengan tingkah laku bangsa Israel waktu itu. Rakyat kecil ditindas, pemerintah korupsi, para pedagang menipu pembeli, dan banyak lagi bentuk ketidakadilan lainnya. Kadang saya berpikir, situasi dunia kita tidak jauh beda dengan zaman itu.<\/p>\n<p>Untuk mengatasi semua itu orang-orang Israel yang merasa taat pada agama berpaling pada ritual-ritual agama mereka. Mereka berpikir bahwa masalah mereka disebabkan karena Tuhan marah dan satu-satunya cara merubah keadaan adalah membuat sembah-sembahan pada Tuhan: dengan pergi ke tempat yang tinggi, dengan membakar lembu atau ribuan domba atau bahkan anak sulung setiap keluarga. <\/p>\n<p>Tapi Tuhan berkata lain. Dia tidak menginginkan semua itu. Dia hanya ingin bangsa Israel mulai berlaku adil pada sesamanya, mencintai kebaikan, dan sama-sama menjalani hidup dengan kerendahan hati bersama Tuhan Allah mereka. Gitu aja kok repot!<\/p>\n<p>Tapi kita tahu sendiri, hal-hal itu tidak semudah seperti kelihatannya. Tidak terlalu susah buat kita untuk berdoa, untuk ikut dalam persembahan Ekaristi di gereja secara rutin, atau pergi ziarah ke tempat-tempat suci. Tapi di luar itu sudahkah kita memperlakukan orang lain dengan adil, terutama para kaum dina seperti orang miskin, anak jalanan, pedagang asongan, pelayan toko atau restoran, buruh pabrik, pembantu rumah tangga kita, atau karyawan karyawati di tempat kita bekerja? Apakah demi kenyamanan dan profit kita jadi tidak peduli pada kesejahteraan hidup mereka?<\/p>\n<p>Nah sekarang mungkin jadi kelihatan repot. Karena untuk semua itu diperlukan perubahan hati, atau bahasa kerennya dari pemerintahan Jokowi, revolusi mental. Tidak cukup hanya dengan tindakan eksternal saja. Semoga kita semua bisa mempunyai hati seperti yang disebut di Mazmur hari ini, hati yang lunak dan siap diubah saat kita betul-betul mendengarkan dan mematuhi sabda Allah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin, 18 Juli 2016 Mikha 6:1-4, 6-8 Mazmur 50 Matius 12:38-42 Masih ingat mendiang Gus Dur? Salah satu kalimatnya yang terkenal adalah, &#8220;Gitu aja kok repot!&#8221; Dia menjawab demikian kalau ditanya hal-hal yang kompleks atau pertanyaan yang berputar-putar. Jawabannya sering dipermasalahkan orang karena terlalu &#8220;nyeleneh&#8221; atau simplistik. Tapi di balik semua itu Gus Dur seperti ingin berpesan bahwa kita tidak perlu membuat sesuatu yang sederhana menjadi rumit kalau tidak perlu. Pesannya membawa angin segar dalam politik negara kita yang waktu&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5643\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5643","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5643","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5643"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5643\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5644,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5643\/revisions\/5644"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5643"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5643"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5643"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}