{"id":5687,"date":"2016-08-02T19:31:08","date_gmt":"2016-08-03T02:31:08","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5687"},"modified":"2016-08-02T19:31:08","modified_gmt":"2016-08-03T02:31:08","slug":"imanmu-telah-menyelamatkan-engkau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5687","title":{"rendered":"Imanmu telah menyelamatkan engkau"},"content":{"rendered":"<p><strong>Rabu, 3 Agustus 2016 <\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Injil :\u00a0Matius<\/strong><em> 15:21-28<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Saya sangat menyukai jawaban perempuan Kanaan dalam Injil hari ini. Dia menjawab secara lugas dan terus-terang kepada Yesus. \u201cTuhan, bagaimanapun, anjing-anjing juga makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.\u201d Dalam kalimat pertanyaan, rumusan ini dapat menjadi: \u201cBukankah anjing-anjing juga makan dari remah-remah yang dijatuhkan tuan rumah dari meja makan?\u201d<\/p>\n<p>Kalau si perempuan Kanaan adalah seorang pemanah, maka dia sebenarnya adalah seorang pemanah paling jitu yang menghujamkan anak panahnya langsung menuju jantung persoalan. Ketika Yesus mengatakan kepadanya bahwa Dia diutus hanya kepada Domba-Domba yang hilang dari bangsa Israel, si perempuan tidak kehilangan akal. Dia terus meratap: Tuhan, tolonglah aku. Bantu saya. Jangan biarkan saya menderita kehilangan anak saya. Sebuah kerinduan mendalam dari seorang ibu yang sungguh sayang kepada anaknya, yang tak mau membiarkan anaknya menderita dan mati. Ketika Yesus menjawab dengan sebuah perbandingan (yang menurut saya sangat sarkastis): \u201cTidak baiklah kalau roti yang harusnya diberi kepada anak lalu dibuang kepada anjing.\u201d, si perempuan tidak tersinggung atau marah-marah atau kecewa. Dia tidak pula putus asa. Dengan jawaban terakhir yang sangat menyentuh sekaligus tajam, dia memberanikan diri menjawab untuk terakhir kalinya: \u201cTuhan, bagaimanapun, anjing-anjing juga makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.\u201d Sebuah jawaban iman maha dahsyat yang lahir dari mulut perempuan hina sederhana Kanaan.<\/p>\n<p>Dia tak peduli entahkah dia disamakan dengan anjing sekalipun. Baginya, Tuhan kalau memang saya ini anjing, tak apalah yang penting saya tetap mendapat sekedar remah-remah rahmat dari tangan kasih-Mu. Saya siap menjadi anjing yang menanti dengan rela setiap belas kasihan yang datang dari Tuhan. Saya tahu saya hanyalah seekor anjing yang tak bisa apa-apa tanpa kebaikan-Mu Tuhan. Tolonglah, bermurah hatilah. Remah-remah rahmat-Mu lebih dari cukup untukku dan anakku.<\/p>\n<p>Itulah jawaban paling jujur dan eksistensial dari seorang wanita. Jawaban yang sangat jujur sarat dengan iman dan pengharapan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjalan sendirian dan menderita sendirian. Mintalah maka kamu akan mendapat. Carilah maka kamu akan menemukan. Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rabu, 3 Agustus 2016 &nbsp; Injil :\u00a0Matius 15:21-28 &nbsp; Saya sangat menyukai jawaban perempuan Kanaan dalam Injil hari ini. Dia menjawab secara lugas dan terus-terang kepada Yesus. \u201cTuhan, bagaimanapun, anjing-anjing juga makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.\u201d Dalam kalimat pertanyaan, rumusan ini dapat menjadi: \u201cBukankah anjing-anjing juga makan dari remah-remah yang dijatuhkan tuan rumah dari meja makan?\u201d Kalau si perempuan Kanaan adalah seorang pemanah, maka dia sebenarnya adalah seorang pemanah paling jitu yang menghujamkan anak panahnya langsung menuju&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5687\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5687","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5687","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5687"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5687\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5688,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5687\/revisions\/5688"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5687"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5687"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5687"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}