{"id":5689,"date":"2016-08-03T14:31:33","date_gmt":"2016-08-03T21:31:33","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5689"},"modified":"2016-08-02T19:32:22","modified_gmt":"2016-08-03T02:32:22","slug":"engkau-adalah-mesias-anak-allah-yang-hidup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5689","title":{"rendered":"Engkau adalah Mesias, Anak Allah Yang Hidup"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kamis, 4 Agustus 2016 <\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Injil:<\/strong>\u00a0<strong>Matius<\/strong><em> 16:13-19\u00a0\u00a0<\/em><\/p>\n<p>Saya teringat kembali ketika saya melayani sebuah retret mini untuk orang muda Katolik di Paroki St. Kateri Tekakwitha di Banning dan Beaumont. Saya memulai retret dengan pertanyaan sederhana: \u201cSiapakah Yesus?\u201d Pelbagai macam jawaban diberikan oleh anak-anak tersebut. Setelah pertanyaan tersebut terjawab. Saya lanjutkan pertanyaan saya: \u201cCoba kalian pikirkan secara mendalam dan ingat kembali pengalaman pribadimu, siapakah Yesus dalam pengalaman pribadimu? Bagaimana kamu merasakan Yesus menyentuh hidupmu dan mengubah haluan hidupmu menjadi lebih positif? Sekonyong-konyong mereka terdiam. Banyak di antara mereka yang mengakui bahwa Yesus yang mereka kenal hanyalah dari apa yang mereka dengarkan dari pastor, dari orang tua atau dari guru. Mereka tidak pernah merasakan sebuah pengalaman iman yang begitu mendalam bagaimana Yesus menyentuh hidup mereka.<\/p>\n<p>Saudara\/i yang terkasih, pertanyaan Yesus yang sama bisa pula ditujukan kepada kita: \u201cSiapakah Yesus bagimu?\u201d Kita mungkin punya versi resmi dari yang diajarkan Gereja kepada kita, yang ditanamkan orangtua pada benak kita, atau kita mungkin bisa ingat satu dua versi dari kotbah pastor-pastor yang kita kenal. Namun, yang paling utama untuk kita camkan adalah siapakah Yesus dalam kehidupan pribadi saya? Siapakah Yesus dalam keluarga saya? Apakah saya membiarkan Yesus menjamah hidup pribadi dan keluarga saya?<\/p>\n<p>Tuhan Yesus memuji Petrus sebagai Batu karang karena jawaban personal yang lahir dari pengalaman pribadinya. Bagi Petrus, Yesus bukan hanya sebuah figur yang mesti diagung-agungkan atau seorang nabi yang dipuja-puji bukan pula sekedar seorang megabintang yang mesti disanjung-sanjung. Lebih dari itu semua, bagi Petrus, Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang hidup. Yesus adalah mesias, Juru selamat dunia dan semesta. Yesus adalah batu karang pengharapan dan gunung batu keselamatan.<\/p>\n<p>Ketika Petrus memberikan jawaban bahwa Yesus adalah mesias berdasarkan pengalaman pribadi-Nya maka Yesus pun memberikan julukan yang pantas baginya. Engkau adalah Simon Petrus, si batu karang. Jawaban Petrus yang tegas, spontan dan tanpa keraguan merupakan bukti bahwa imannya adalah iman yang personal dan mendalam. Petrus mengajak kita semua sebagai pengikut Kristus untuk senantiasa melihat Yesus sebagai mesias, sebagai batu karang pengharapan dan gunung batu keselamatan kita.<\/p>\n<p>Iman kita akan semakin teguh dan kokoh bagaikan batu karang ketika Yesus kita tempatkan sebagai sentral dari kehidupan kita. Kata-Kata-Nya menjadi nasihat kehidupan kita. Kesaksian-Nya menjadi kesaksian kita pula. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 4 Agustus 2016 &nbsp; Injil:\u00a0Matius 16:13-19\u00a0\u00a0 Saya teringat kembali ketika saya melayani sebuah retret mini untuk orang muda Katolik di Paroki St. Kateri Tekakwitha di Banning dan Beaumont. Saya memulai retret dengan pertanyaan sederhana: \u201cSiapakah Yesus?\u201d Pelbagai macam jawaban diberikan oleh anak-anak tersebut. Setelah pertanyaan tersebut terjawab. Saya lanjutkan pertanyaan saya: \u201cCoba kalian pikirkan secara mendalam dan ingat kembali pengalaman pribadimu, siapakah Yesus dalam pengalaman pribadimu? Bagaimana kamu merasakan Yesus menyentuh hidupmu dan mengubah haluan hidupmu menjadi lebih positif?&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5689\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5689","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5689","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5689"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5689\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5690,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5689\/revisions\/5690"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5689"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5689"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5689"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}