{"id":5691,"date":"2016-08-04T14:32:40","date_gmt":"2016-08-04T21:32:40","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5691"},"modified":"2016-08-02T19:33:30","modified_gmt":"2016-08-03T02:33:30","slug":"siapapun-yang-kehilangan-nyawanya-demi-aku-akan-memperolehnya-kembali","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5691","title":{"rendered":"Siapapun yang kehilangan nyawanya demi Aku, akan memperolehnya kembali."},"content":{"rendered":"<p><strong>Jumat, 5 Agustus 2016 <\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Injil:<\/strong>\u00a0<strong>Matius<\/strong><em> 16:24-28\u00a0\u00a0<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Mengikuti Kristus itu buahnya manis. Namun, Tuhan tidak pernah menyatakan bahwa mengikuti Dia bukan tanpa tantangan. Tantangan mengikuti Kristus itu bisa sangat banyak dan kadang-kadang tidak mudah. Beberapa contoh:\u00a0 Kristus meminta kita untuk mendoakan, memaafkan dan mengampuni musuh-musuh kita.\u00a0 Kita tahu bahwa itu adalah sebuah ajaran paling sulit yang bisa kita lakukan bahkan sebagai pengikut-Nya. Kita diminta untuk tetap mengasihi dan menyayangi sekalipun kita dikelilingi oleh orang-orang yang membenci kita, yang menjelek-jelekkan nama kita, yang tidak pernah menjadikan kita sebagai prioritas. Itulah beberapa ongkos dari mengikuti Kristus.<\/p>\n<p>Hampir semua-semua murid-murid Kristus mengalami langsung bagaimana mereka dikejar-kejar dan dihajar, baik selama mereka dengan Yesus maupun setelah Yesus naik ke surga. Banyak pengalaman duka dan pedihnya. Biarpun begitu, murid-murid ini tidak kehilangan harapan. Mereka tidak putus asa. Mereka tetap teguh dan tegak berdiri. Lebih baik bagi mereka menyangkal dunia, daripada menyangkal Yesus.<\/p>\n<p>Injil hari ini membuktikan tantangan tersebut. Yesus menantang para murid murid-Nya untuk melihat kembali, apa kira-kira hal sungguh berguna dan bernilai bagi mereka? Apa keputusan paling eksistensial, paling mendasar yang menggerakkan mereka dalam mengikuti Yesus?<\/p>\n<p>Yesus mau menegaskan kepada murid-murid-Nya dan kepada kita pengikut-Nya bahwa dalam setiap keputusan yang kita buat dalam kehidupan ini, kita sedang membentuk diri kita menjadi seorang dengan tipe kepribadian tertentu. Pilihan-pilihan kita, keputusan kita, karakter dan perilaku kita akan menentukan akan menjadi orang seperti apa kita nanti.<\/p>\n<p>Yesus mengajak kita untuk memikirkan kembali apa yang terbaik dalam kehidupan kita dan hidup berdasarkan hal tersebut. Kita tidak boleh hidup dalam kesia-siaan. Yesus tidak ingin bahwa kita kelak menyadari bahwa apa yang sudah kita perjuangkan selama ini tho ternyata hanyalah hal-hal sepele yang tidak menghantar kita kepada kesempurnaan hidup kita.<\/p>\n<p>Untuk kita orang Katolik, hidup kita mestilah mencerminkan hidup Kristus itu sendiri. Apa yang kita terima adalah semata rahmat Kristus, rahmat Allah. Kita berhutang kepada-Nya segala sesuatu, termasuk hidup kita. Ketika tiba waktunya bagi kita untuk bergaul erat dengan Yesus, kita tidak boleh hanya memberikan uang kita, tetapi lebih-lebih totalitas diri kita, bukan hanya kata-kata yang manis tetapi lebih-lebih hati kita yang tulus dan jujur. Yesus menanti kita dalam proses pendewasaan menjadi murid-murid yang secara gembira berserah diri sepenuhnya kepada-Nya untuk memperoleh kehidupan yang indah dan abadi. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat, 5 Agustus 2016 \u00a0 &nbsp; Injil:\u00a0Matius 16:24-28\u00a0\u00a0 &nbsp; Mengikuti Kristus itu buahnya manis. Namun, Tuhan tidak pernah menyatakan bahwa mengikuti Dia bukan tanpa tantangan. Tantangan mengikuti Kristus itu bisa sangat banyak dan kadang-kadang tidak mudah. Beberapa contoh:\u00a0 Kristus meminta kita untuk mendoakan, memaafkan dan mengampuni musuh-musuh kita.\u00a0 Kita tahu bahwa itu adalah sebuah ajaran paling sulit yang bisa kita lakukan bahkan sebagai pengikut-Nya. Kita diminta untuk tetap mengasihi dan menyayangi sekalipun kita dikelilingi oleh orang-orang yang membenci kita, yang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5691\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5691","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5691","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5691"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5691\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5692,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5691\/revisions\/5692"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5691"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5691"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5691"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}