{"id":5699,"date":"2016-08-16T14:00:10","date_gmt":"2016-08-16T21:00:10","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5699"},"modified":"2016-08-06T09:06:16","modified_gmt":"2016-08-06T16:06:16","slug":"membungkam-kepicikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5699","title":{"rendered":"Membungkam Kepicikan"},"content":{"rendered":"<p>Rabu, 17 Agustus 2016<\/p>\n<p>Hrai Raya Kemerdekaan Republik Indonesia<\/p>\n<p>Bacaan I : Sirakh 10: 1-8<\/p>\n<p>Bacaan II : 1 Petrus 2: 13-17<\/p>\n<p>Injil : Matius 22: 15-21<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Allah telah menciptakan alam semesta ini sedemikian baiknya. Alam semesta ini sebenarnya dipenuhi dengan kebaikan dan hal-hal yang benar karena berasal dari Allah Sang Sumber Kebaikan dan Kebenaran. Salah satu bagian dari alam semesta ini adalah sebuah bangsa dan negara bernama Indonesia. Sebagai sebuah bangsa, Indonesia adalah bangsa yang besar, sebagai sebuah negara, Indonesia adalah negara yang besar. Semua hal yang baik itu adalah anugerah Tuhan. Akan tetapi segala hal yang baik dan besar itu seolah-olah tidak kelihatan karena kepicikan segelintir orang yang sungguh tidak tahu berterima kasih kepada Tuhan atas anugerah yang besar dalam bangasa dan negara bernama Indonesia. Rasul Petrus hari ini mengajari kita sekalian supaya kita mampu untuk membungkam kepicikan dari dari segelitir orang ini dengan berbuat baik dan benar bagi bangsa dan negara Indonesia.<\/p>\n<p>Kita melihat betapa banyak kebencian telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan bersama bangsa Indonesia. Seandainya bangsa Indonesia mampu menghilangkan segala kebencian yang ada di antara sesama warganya kita sungguh yakin bahwa Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Seandainya kebencian itu bisa diubah menjadi energi, maka seluruh pelosok Indonesia dapat diterangi, namun sungguh sayang bahwa kebencian telah menggerogoti sebagaian warganya, maka kebencian itu juga menghancurkan bebarapa sendi hidup bersama. Kita sungguh tidak tahu jalan pikiran dari orang-orang keblinger yang berusaha untuk mengancurkan Indonesia. Mereka adalah orang Indonesia, lahir di Indonesia, mencari penghidupan di Indonesia, makan dan minum dari hasil bumi dan tanah Indonesia; namun mengapa mereka justru ingin mengancurkan Indonesia karena kepicikan mereka. Maka benar sekali ajaran Santo Petrus hari ini bahwa kita perlu membungkam kepicikan itu dengan berbuat baik dan benar, dengan mencitai nusa dan bangsa ini. Rasa cinta inilah yang menjadi awal bagi kita untuk bisa memberikan diri kepada bangsa yang kita cintai ini. Semoga kita sebagai warga Indonesia mampu untuk memberikan kepada Tuhan yang menjadi hak Tuhan dan kepada bangsa dan negara kita apa yang menjadi hak dari negara kita, yaitu rasa hormat, cinta dan bela rasa. Semoga Tuhan memberkati bangsa dan negara kita indonesia. Dirgahayu Indonesia. Tuhan memberkati.<\/p>\n<p>Doa:<\/p>\n<p>Trima kasih Tuhan atas nusa dan bangsa yang Engkau berikan kepada kami. trima kasih atas bangsa dan negara yang besar ini. Trima kasih pula atas berbagai suku bangsa yang mendiami bumi pertiwi ini. Kami memohon bantuanMu ya Allah agar kami sungguh mampu memberikan diri kami bagi bansa dan negara yang kami cintai ini. berkatilah negara dan bangsa kami agar kami anak-anak dari Ibu Pertiwi ini sungguh tahu berterima kasih dan tahu untuk menjaga setiap pemeberianmu yang besar bagi bangsa dan negara ini. Trima kasih Bapa, dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rabu, 17 Agustus 2016 Hrai Raya Kemerdekaan Republik Indonesia Bacaan I : Sirakh 10: 1-8 Bacaan II : 1 Petrus 2: 13-17 Injil : Matius 22: 15-21 &nbsp; Allah telah menciptakan alam semesta ini sedemikian baiknya. Alam semesta ini sebenarnya dipenuhi dengan kebaikan dan hal-hal yang benar karena berasal dari Allah Sang Sumber Kebaikan dan Kebenaran. Salah satu bagian dari alam semesta ini adalah sebuah bangsa dan negara bernama Indonesia. Sebagai sebuah bangsa, Indonesia adalah bangsa yang besar, sebagai sebuah&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5699\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5699","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5699","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5699"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5699\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5700,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5699\/revisions\/5700"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5699"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5699"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5699"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}