{"id":5758,"date":"2016-08-10T14:11:45","date_gmt":"2016-08-10T21:11:45","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5758"},"modified":"2016-08-10T10:57:52","modified_gmt":"2016-08-10T17:57:52","slug":"bukti-nyata-sebuah-pengampunan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5758","title":{"rendered":"Bukti Nyata Sebuah Pengampunan"},"content":{"rendered":"<h5>Kamis dalam Pekan Biasa ke-19<\/h5>\n<h5>11 Agustus 2016<\/h5>\n<h5>Matius Mt 18:21\u201319:1<\/h5>\n<div><\/div>\n<p>Apa yang menjadi bukti nyata bahwa kita sungguh menerima berkat pengampunan? Pada Injil hari ini, Yesus memberikan sebuah perumpaan tentang seorang hamba yang dihapuskan hutangnya yang luar biasa banyak, tetapi dia sendiri tidak mau menghapus hutang rekannya. Sang Raja pun marah dan menangkap sang hamba tersebut. Tetapi, kenapa sang Raja harus menhukum sang hamba tersebut? Bukankah masalah utang piutang sang hamba dengan rekannya adalah urusan pribadinya? Bukankah jumlah utang piutang sebenarnya sangatlah kecil untuk mendapat perhatian sang Raja?<\/p>\n<p>Alasan kenapa sang Raja sampai turun tangan bisa kita lihat dari jawaban beliau, <i>\u201cHai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau (Mat 18:32-33)?\u201d<\/i> Kata kuncinya adalah kasih. Sang hamba telah menerima belas kasih yang luar biasa besar dari sang Raja, dan tentunya, dia diharapkan bisa juga membagikan belaskasih yang telah ia terima. Sang hamba yang jahat dihukum bukan hanya karena permasalahan utang piutang yang kecil, tetapi karena ia tidak mampu dan mau berbelas kasih.<\/p>\n<p>Dari perumpamaan di atas, kita bisa menjawab bahwa bukti nyata bahwa kita sungguh menerima berkat pengampunan adalah saat kita juga bisa mengampuni sesama kita. Benar bahwa saat kita menerima sakramen rekonsiliasi, dosa-dosa kita diampuni Tuhan. Namun, apa yang Tuhan inginkan bukanlah sekedar penghapusan dosa, seperti halnya utang-piutang, tetapi juga perubahan hidup yang mendasar, atau <i>metanoia<\/i>.<\/p>\n<p>Rasanya percuma jika kita pergi ke pengakuan dosa, tetapi kita masih terus memupuk dendam kepada mereka yang bersalah kepada kita. Sepertinya sia-sia, jika kita rajin ke Gereja, tetapi saja suka marah-marah. Sepertinya tidak ada yang baru, jika kita aktif di paroki, tetapi tetap saja suka gosip dan membicarakan orang, apalagi romo parokinya.<\/p>\n<p>Tentunya, perubahan hidup tidaklah mudah, apalagi banyak kebiasaan yang telah mendarah daging. Tetapi, kita selalu diingatkan bahwa kita telah diampuni, kita telah menerima belaskasih yang tak berbayangkan besarnya. Setiap kali kita gagal atau jatuh, kita diingatkan bahwa belaskasih Tuhan melampaui segala kelamahan kita. Kita terus bangun dan berusaha menjadi sarana belaskasih Tuhan kepada sesama.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis dalam Pekan Biasa ke-19 11 Agustus 2016 Matius Mt 18:21\u201319:1 Apa yang menjadi bukti nyata bahwa kita sungguh menerima berkat pengampunan? Pada Injil hari ini, Yesus memberikan sebuah perumpaan tentang seorang hamba yang dihapuskan hutangnya yang luar biasa banyak, tetapi dia sendiri tidak mau menghapus hutang rekannya. Sang Raja pun marah dan menangkap sang hamba tersebut. Tetapi, kenapa sang Raja harus menhukum sang hamba tersebut? Bukankah masalah utang piutang sang hamba dengan rekannya adalah urusan pribadinya? Bukankah jumlah utang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5758\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5758","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5758","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5758"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5758\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5759,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5758\/revisions\/5759"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5758"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5758"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5758"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}