{"id":5804,"date":"2016-09-06T14:03:22","date_gmt":"2016-09-06T21:03:22","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5804"},"modified":"2016-09-06T10:04:47","modified_gmt":"2016-09-06T17:04:47","slug":"rabu-7-september-2016","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5804","title":{"rendered":"Rabu, 7 September 2016"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Rabu, 7 September 2016<\/p>\n<p>Bacaan Injil: Luk 6:20-26<\/p>\n<p>Saudara-Saudari terkasih dalam Kristus.<\/p>\n<p>Kotbah Yesus di tanah datar diawali dengan Sabda-Sabda Bahagia dan peringatan-peringatan agar para pengikut Kristus menyadari bahwa hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah. Apa yang sudah menjadi ukuran kebahagiaan duniawi ditolak sebagai kebahagiaan oleh Yesus yang memberi kepada kita seperangkat nilai-nilai yang baru. Seperti orang-orang lain, orang Kristen menghadapi ketegangan kehidupan juga.<\/p>\n<p>Nampaknya Sabda-Sabda Bahagia dan peringatan-peringatan dalam Injil hari ini memusatkan diri pada \u201cBerbahagialah orang yang miskin. Celakalah orang yang kaya\u201d. Orang miskin mengalami rasa lapar, menangis karena berbagai macam alasan seperti tidak bisa menghidupi secara layak keluarganya, atau karena sakit dan tidak punya uang untuk ke dokter, dan lain sebagainya. Pada zaman dulu kemiskinan sering dipandang sebagai wujud kutukan dari Allah karena dosa, sehingga tidak mengherankan kalau ada pemahaman bahwa orang miskin tidak mendapatkan tempat di surga.<\/p>\n<p>Disebutkan juga tentang penganiayaan yang dialami oleh orang-orang Kristen yang dihina, dibenci, disakiti hati dan fisiknya karena menjadi Kristen.<\/p>\n<p>Kepada semua itu dijanjikan kebahagiaan kekal di surga.<\/p>\n<p>Sebaliknya, mereka yang menganiaya orang Kristen, mereka yang mengandalkan hartanya sebagai satu-satunya jaminan kebahagiaan, ternyata mereka keliru. Orang-orang ini tidak akan menikmati janji kebahagiaan surga.<\/p>\n<p>Lalu bagaimanakah dengan kehidupan dan pemahaman kita tentang nilai-nilai yang diajarkan Kristus tadi? Seperti kita ketahui, kaya atau miskin semua dicintai Tuhan. Masalahnya bagaimana kita tetap beriman kepada Kristus. Bagaimana kita mengungkapkan dan mewujudkan iman kita dalam kehidupan sehari-hari. Orang miskin dan orang kaya menghadapi ketegangan hidup yang pada dasarnya sama yakni hidup yang menekan yang sering menantang iman. Baik orang miskin maupun kaya bisa kehilangan iman, harapan dan cinta ketika menjalani ketegangan dalam hidup ini.<\/p>\n<p>Kita diajak untuk berpegang teguh pada janji kebahagiaan yang diberikan oleh Yesus.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Rabu, 7 September 2016 Bacaan Injil: Luk 6:20-26 Saudara-Saudari terkasih dalam Kristus. Kotbah Yesus di tanah datar diawali dengan Sabda-Sabda Bahagia dan peringatan-peringatan agar para pengikut Kristus menyadari bahwa hidup sebagai orang Kristen tidaklah mudah. Apa yang sudah menjadi ukuran kebahagiaan duniawi ditolak sebagai kebahagiaan oleh Yesus yang memberi kepada kita seperangkat nilai-nilai yang baru. Seperti orang-orang lain, orang Kristen menghadapi ketegangan kehidupan juga. Nampaknya Sabda-Sabda Bahagia dan peringatan-peringatan dalam Injil hari ini memusatkan diri pada \u201cBerbahagialah orang yang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5804\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5804","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5804","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5804"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5804\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5805,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5804\/revisions\/5805"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5804"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5804"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5804"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}