{"id":5818,"date":"2016-09-12T14:34:41","date_gmt":"2016-09-12T21:34:41","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5818"},"modified":"2016-09-12T14:34:41","modified_gmt":"2016-09-12T21:34:41","slug":"menjadi-channels-belaskasih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5818","title":{"rendered":"Menjadi channels belaskasih"},"content":{"rendered":"<p>Selasa, 13 September 2016<\/p>\n<p>Peringatan Wajib St. Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja<\/p>\n<p>Lukas (7:11-17)<\/p>\n<p>Pada suatu ketika pergilah Yesus ke sebuah kota bernama Nain. Para murid serta banyak orang pergi bersama Dia. Ketika Ia mendekati pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, yaitu anak laki-laki tunggal seorang ibu yang sudah janda. Banyak orang kota itu menyertai janda tersebut. Melihat janda itu tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasih. Lalu Tuhan berkata kepadanya, \u201cJangan menangis!\u201d Dihampiri-Nya usungan jenazah itu dan disentuh-Nya. Maka para pengusung berhenti. Tuhan berkata, \u201cHai Pemuda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!\u201d Maka bangunlah pemuda itu, duduk, dan mulai berbicara. Yesus lalu menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan, dan mereka memuliakan Allah sambil berkata, \u201cSeorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,\u201d dan \u201cAllah telah mengunjungi umat-Nya.\u201d Maka tersiarlah kabar tentang Yesus ke seluruh Yudea dan ke seluruh daerah sekitarnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kisah kematian anak laki-laki si Janda dan response Yesus terhadap situasi ini sangat inspiratif untuk direnungkan. Di jaman Yesus, Janda sering kali dianggap sangat lemah karena tidak lagi memiliki sumber pendapatan utama, suami mereka. Karena tidak lagi memiliki suami, mereka sangat tergantung pada anak-anak mereka terutama anak laki-laki, yang menunjang kehidupan mereka. Janda yang kehilangan anak laki-laki dalam injil hari ini mengalami hal yang sama. Bacaan injil hari ini menceritakan kepada kita bahwa Yesus tergerak hatinya oleh belaskasihan melihat janda itu. Gerakan hati penuh belas kasih Yesus terungkap secara luar biasa dengan menghidupkan dan mengembalikan anak yang telah meninggal itu kepada ibunya.<\/p>\n<p>Sangat menarik bahwa Janda ini tidak meminta Yesus untuk membantunya, akan tetapi Yesus merespons situasi janda ini.\u00a0 Tidak menunggu permintaan si janda ini, Yesus langsung saja menanggapi kesedihan dan kehilangan yang dialami janda ini.<\/p>\n<p>Tuhan melakukan hal yang sama kepada kita, ketika kita berada dalam kesedihan dan kehilangan tanpa menanti atau menunggu permohonan kita. Ketika kita berada dalam situasi yang sangat lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, Tuhan selalu menunjukan belaskasihan kepada kita. Tuhan tidak membiarkan kita memikul kesedihan dan kehilangan sendiri. Tuhan mau memikul beban bersama kita dan menderita bersama kita. Mungkin kita bertanya kapan Tuhan menunjukan belaskasihan itu kepada kita,ketika kita mengalami penderitaan, kehilangan dan kesedihan? Tuhan selalu hadir dalam diri setiap orang yang selalu peduli, mengerti dan berada bersama kita ketika kita sungguh membutuhkan.<\/p>\n<p>Tuhan yang selalu menunjukan belas kasihaNya kepada kita, mengajak kita juga berbuat hal yang sama bagi sesama kita yang kita jumpai dalam hidup harian kita. Tuhan menghendaki kita menjadi <em>channels<\/em> belaskasihaNya bagi mereka yang sungguh membutuhkan bantuan; membantu memikul beban sesama kita seperti Dia membantu memikul beban kita.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa, 13 September 2016 Peringatan Wajib St. Yohanes Krisostomus, Uskup dan Pujangga Gereja Lukas (7:11-17) Pada suatu ketika pergilah Yesus ke sebuah kota bernama Nain. Para murid serta banyak orang pergi bersama Dia. Ketika Ia mendekati pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, yaitu anak laki-laki tunggal seorang ibu yang sudah janda. Banyak orang kota itu menyertai janda tersebut. Melihat janda itu tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasih. Lalu Tuhan berkata kepadanya, \u201cJangan menangis!\u201d Dihampiri-Nya usungan jenazah itu&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5818\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5818","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5818","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5818"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5818\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5819,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5818\/revisions\/5819"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5818"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5818"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5818"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}