{"id":5823,"date":"2016-09-14T20:59:11","date_gmt":"2016-09-15T03:59:11","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5823"},"modified":"2016-09-14T20:59:11","modified_gmt":"2016-09-15T03:59:11","slug":"cinta-yang-menguatkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5823","title":{"rendered":"Cinta yang menguatkan"},"content":{"rendered":"<p>Kamis, 15 September 2015<\/p>\n<p>Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita<\/p>\n<p>Lukas 2:33-35<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Suci, mereka amat heran mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, \u201cSesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan \u2013 dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri \u2013 supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.\u201d<\/p>\n<p>Jika seseorang yang kita cintai menderita, kita sering kali ikut menderita bersama mereka. Semakin orang yang kita cintai menderita, semakin menderita pula diri kita. Hal ini sering tampak pada orang tua yang anaknya sedang menderita baik secara fisik, emosional atau mental. Orang tua sering kali menderita double karena seluruh perhatian mereka akan tertuju pada anak mereka. Segala usaha akan dilakukan demi membantu atau menolong anaknya. Hal ini menunjukan bahwa orang tua sungguh mencintai anak mereka sehingga apa pun resikonya, mereka akan hadapi. Disini kita bisa mengatakan bahwa sebuah cinta yang tulus selalu menuntut pengorbanan. Tiada cinta yang tulus tanpa pengorbanan.<\/p>\n<p>Dalam menghadapi penderitaan, orang bisa saja menghindarinya dengan cara tidak mau memebuka hatinya untuk menerima realitas yang ada. Orang tidak mau peduli dengan orang lain, yang penting saya bahagia, penderitaan orang lain bukan urusan saya. Dalam menghadapi penderitaan, orang bisa saja dihadapan pada godaan-godaan tersebut. Akan tetapi bagi mereka yang sungguh mempunyai hati yang tulus untuk mencintai, apa pun penderitaan, mereka berani menghadapinya, sambil melihat kemungkin terbaik apa yang bisa dilakukan.<\/p>\n<p>Hari ini kita merayakan pesta Santa Maria bunda berdukacita, kita patut belajar dari bunda Maria bagaimana menghadapi penderitaan dalam hidup kita. Dia sungguh menunjukan cinta yang tulus pada Yesus, ketika menghadapi penderitaan yang dialami Putranya Yesus Kristus. Hatinya sungguh hancur ketika melihat penderitaan Putranya. Akan tetapi Hati yang sama menguatkan Yesus untuk tetap setiap pada kehendak Bapanya. Simeon, dalam injil hari ini membuat sebuah koneksi yang sangat baik antara penderitaan Yesus dan hati bunda Maria. &#8220;Sesungguhnya Anak<\/p>\n<p>ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan \u2013 dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri&#8221;.<\/p>\n<p>Ketika hati kita menderita karena cinta kita yang tulus terhadap seseorang atau keluarga kita mari kita datang kepada dari Bunda Maria, semoga contoh yang ditunjukan bunda Maria sebagai sumber inspirasi dan sekaligus jalan keluarga yang baik bagi kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 15 September 2015 Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita Lukas 2:33-35 &nbsp; Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Anak Yesus di Bait Suci, mereka amat heran mendengar pernyataan Simeon tentang Anak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu, \u201cSesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan \u2013 dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri \u2013 supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.\u201d Jika seseorang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5823\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5823","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5823","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5823"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5823\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5824,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5823\/revisions\/5824"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5823"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5823"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5823"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}