{"id":5875,"date":"2016-10-07T20:55:31","date_gmt":"2016-10-08T03:55:31","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5875"},"modified":"2016-10-07T08:23:56","modified_gmt":"2016-10-07T15:23:56","slug":"kita-vs-mereka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5875","title":{"rendered":"&#8220;Kita&#8221; vs &#8220;Mereka&#8221;"},"content":{"rendered":"<p>Sabtu, 8 Oktober 2016<\/p>\n<p>Galasia 3:22-29<br \/>\nMazmur 105<br \/>\nLukas 11:27-28<\/p>\n<p>Kalau kita pikir lebih dalam, sebenarnya adalah suatu fenomena yang menakjubkan bahwa agama Kristen dari awal mulanya bisa menyatukan orang-orang dari segala macam golongan. Dengan pembaptisan mereka diberi identitas baru, bersatu dalam Kristus dan tidak ada lagi pemisah antara budak dan orang bebas, Yahudi dan non-Yahudi, laki-laki dan perempuan (Galasia 3:28). Ini jelas-jelas berlawanan dengan strata sosial pada zaman itu di mana orang yang berbeda status sosial tidak bisa bergaul secara sederajat.<\/p>\n<p>Dunia kita saat ini sangat rentan dengan perpecahan. Untuk orang-orang yang haus kekuasaan, cara inilah yang dipakai supaya mereka mendapat dukungan. &#8220;Kita&#8221; melawan &#8220;mereka&#8221;. &#8220;Mereka&#8221; adalah orang-orang yang &#8220;lain&#8221; dari kita, lain budaya, lain agama, lain negara, lain status sosial, dan macam-macam lainnya. Pejabat di Hungaria, misalnya, bersikeras menentang para pengungsi dari Syria masuk ke negeri mereka. Dengan cara itu mereka memobilisasi warganya untuk bersatu melawan &#8220;orang asing&#8221;, tapi akibatnya para pengungsi tidak dipandang sebagai saudara sesama ciptaan Tuhan yang membutuhkan. Di Inggris, salah satu alasan orang memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa adalah karena mereka tidak mau Inggris harus menerima pengungsi imigran dari negara lain. Lagi-lagi, &#8220;kita&#8221; lawan &#8220;mereka&#8221;. <\/p>\n<p>Di saat di mana dunia seperti penuh konflik dan kekerasan, naluri kita adalah mempertahankan diri seperti membangun tembok benteng di sekitar kita. Orang yang asing, orang yang tidak segolongan, yang tidak kita kenal, kita buang jauh-jauh. Kita tidak lagi melihat &#8220;mereka&#8221; sebagai saudara dalam Kristus. <\/p>\n<p>Semoga hari ini kita bisa mengingat kembali Yesus yang sudah kita &#8220;kenakan&#8221;. Semoga kita bisa melihat seperti Yesus yang melihat semua orang sebagai saudaranya, bahkan atau terutama mereka yang dianggap &#8220;lain&#8221; seperti perempuan Samaria, pemungut cukai, penzinah, bahkan orang Romawi yang menyalibkannya. Tapi yang paling besar dan menakjubkan adalah Kristus tidak lagi menjaga jarak antara Allah dan manusia, tapi rela turun ke dunia menjadi &#8220;kita&#8221; karena kasihnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabtu, 8 Oktober 2016 Galasia 3:22-29 Mazmur 105 Lukas 11:27-28 Kalau kita pikir lebih dalam, sebenarnya adalah suatu fenomena yang menakjubkan bahwa agama Kristen dari awal mulanya bisa menyatukan orang-orang dari segala macam golongan. Dengan pembaptisan mereka diberi identitas baru, bersatu dalam Kristus dan tidak ada lagi pemisah antara budak dan orang bebas, Yahudi dan non-Yahudi, laki-laki dan perempuan (Galasia 3:28). Ini jelas-jelas berlawanan dengan strata sosial pada zaman itu di mana orang yang berbeda status sosial tidak bisa bergaul&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5875\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5875","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5875","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5875"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5875\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5876,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5875\/revisions\/5876"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5875"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5875"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5875"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}