{"id":5971,"date":"2016-11-17T11:58:20","date_gmt":"2016-11-17T19:58:20","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=5971"},"modified":"2016-11-17T11:58:20","modified_gmt":"2016-11-17T19:58:20","slug":"renungan-kamis-17-nopember-2016","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5971","title":{"rendered":"Renungan Kamis, 17 Nopember 2016"},"content":{"rendered":"<p>Renungan Kamis, 17 Nopember 2016<\/p>\n<p>Bacaan-bacaan: Why 5:1-10; Mzm 149:1-9; Luk 19:41-44<\/p>\n<p>Seperti kita ketahui, kitab Wahyu ditulis untuk membantu umat Katolik yang menghadapi penganiayaan. Mereka adalah sekelompok kecil umat Katolik di Asia Kecil yang berhadapan dengan kekuatan besar kekaisaran Romawi. Situasi tersebut tentu mereka rasakan sangat menekan. Kitab Wahyu menggambarkan bahwa umat menerima kenyataan bahwa mereka akan sangat menderita. Namun kitab Wahyu dengan sangat yakin menjanjikan umat bahwa jika umat tetap bertahan dengan setia iman mereka kepada Kristus, umat akan ikut ambil bagian dalam kemenangan sebagaimana Yesus Kristus menang atas kematian dengan kebangkitanNya, akan tetapi memang mereka harus melalui penderitaan dan kematian.<\/p>\n<p>Umat mengalami situasi penganiayaan yang tidak tertahankan. Umat mengalami pertentangan antara kebenaran iman mereka dengan pengalaman hidup sehari-hari. Mereka merasakan ketidakhadiran Kristus. Yohanes ingin menunjukkan bahwa kendati mereka merasakan ketidakhadiran Kristus, Yesus tetap hadir mendampingi umat juga dalam situasi penganiayaan yang sangat berat. Umat diyakinkan bahwa kejahatan pada akhirnya tidak akan bertahan dan umat yang setia pada Kristus akan memetik kebahagiaan kekal. Demikianlah, Yohanes meyakinkan umat agar jangan menangis, karena Tunas Daud telah menang. Hal ini menunjuk kepada wafat dan kebangkitan Kristus. Anak Domba yang telah disembelih namun dibangkitkan.<\/p>\n<p>Dalam kehidupan sehari-hari selain kita bergulat dengan penderitaan, kita juga sering mengalami ketegangan di dalam hati kita antara menghidupi iman dan perasaan ketidakhadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Perayaan Ekaristi yang kita rayakan tiap hari Minggu atau tiap hari bagi sebagian kecil dari kita, adalah ritual yang memberikan kehadiran Kristus secara nyata. Ketika kita merayakan Ekaristi kita mengalami kehadiran penderitaan dan kebangkitan Kristus. Kenyataan kehadiran penderitaan dan kebangkitan Kristus itu diberikan kepada kita sedemikian rupa sehingga kita ikut terlibat di dalamnya.<\/p>\n<p>Bagaimana hal ini terjadi? Kita ikut ambil bagian di dalam pengorbanan Kristus kepada kita, seperti Kristus, kita merelakan diri kita untuk dibagi-bagi, ketika kita seperti Kristus rela untuk menjadi \u201cselfless\u201d -pengonsongan diri. Ekaristi mengundang kita untuk menjadi seperti biji gandum yang digiling untuk menjadi roti dan buah-buah anggur yang diinjak-injak dan dihancurkan sedemikian rupa sehingga bisa dibuat menjadi minuman anggur yang enak dan berguna.<\/p>\n<p>Ekaristi, sebagai korban, mengajak kita untuk rela menjadi roti yang dibagikan dan piala lambang penderitaan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Renungan Kamis, 17 Nopember 2016 Bacaan-bacaan: Why 5:1-10; Mzm 149:1-9; Luk 19:41-44 Seperti kita ketahui, kitab Wahyu ditulis untuk membantu umat Katolik yang menghadapi penganiayaan. Mereka adalah sekelompok kecil umat Katolik di Asia Kecil yang berhadapan dengan kekuatan besar kekaisaran Romawi. Situasi tersebut tentu mereka rasakan sangat menekan. Kitab Wahyu menggambarkan bahwa umat menerima kenyataan bahwa mereka akan sangat menderita. Namun kitab Wahyu dengan sangat yakin menjanjikan umat bahwa jika umat tetap bertahan dengan setia iman mereka kepada Kristus, umat&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=5971\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-5971","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5971","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5971"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5971\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5972,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5971\/revisions\/5972"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5971"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5971"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5971"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}