{"id":6201,"date":"2017-02-12T13:03:04","date_gmt":"2017-02-12T21:03:04","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6201"},"modified":"2017-02-10T09:03:50","modified_gmt":"2017-02-10T17:03:50","slug":"senin-13-februari-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6201","title":{"rendered":"Senin, 13 Februari 2017"},"content":{"rendered":"<p>Senin, 13 Februari 2017<\/p>\n<p>Bacaan:\u00a0 Kej 4:1-15, 25; Mrk\u00a0 8:11-13.<\/p>\n<p>Hari ini kita mulai diajak untuk memahami kisah-kisah tentang konsekuensi jatuhnya manusia ke dalam dosa. Kejadian 4:1-11:9 menggambarkan bagaimana dosa, sekali masuk ke dalam dunia, menyebar luas bagaikan penyakit menular sampai seluruh umat manusia terjangkiti oleh wabah dosa itu.<\/p>\n<p>Kisah \u00a0yang dibacakan hari ini tentang Kain yang membunuh saudara kandungnya menunjukkan bahwa perselisihan antar manusia merupakan akibat langsung\u00a0 dari dosa melawan Allah. Jawaban si pembunuh yang congkak, arogan dan tidak hormat pada pertanyaan Allah menunjukkan bahwa perasaan malu dan menyesal yang ada di dalam hati Adam dan Hawa tidak ada sama sekali di dalam hati Kain. Dosa telah menguasai dirinya sepenuh-penuhnya.<\/p>\n<p>Dari Injil hari ini kita mendapati Yesus menolak untuk membuat suatu tanda mukjijat. Tanda dari surga yang dikehendaki oleh orang-orang Farisi merupakan suatu pencobaan, seperti orang-orang Israel yang mencobai Allah di padang gurun (Kej 17:7). Sebutan generasi ini telah menjadi julukan bagi\u00a0 mereka yang tidak percaya kepada Yesus berdasarkan tanda-tanda mukjijat yang dibuat Yesus namun terus mencari dengan nalar mereka sendiri bukti-bukti dari surga yang masuk akal bagi mereka.<\/p>\n<p>Dalam karyaNya Yesus memberikan kita sebuah model; Ia mencoba mendorong kita maju melangkah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain; kita tidur, Ia mencoba membangunkan kita;\u00a0 kita tuli, Ia mencoba membuka telinga kita; kita berpandangan sempit, Ia mencoba membuka perspektif pandangan kita yang lebih luas; kita buta, Ia mencoba membuat kita melihat; kita kehilangan arah, Ia mencoba menemukan kita kembali; Kita mati, Ia mencoba membangkitkan kita kembali. Inilah yang semestinya menjadi model kita memasuki generasi yang hidup di dunia sekuler saat ini.<\/p>\n<p>Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap kata-kata \u201cgenerasi dunia sekuler\u201d.\u00a0 Ada yang mengkaitkannya dengan hal-hal yang baik: kebebasan, persamaan, penghargaan manusiawi, demokrasi, rasionalitas yang menggerakkan orang berpikir lebih rasional ketimbang traditional dan takhayul. Namun ada juga orang yang berpendapat bahwa generasi dunia sekuler hanya memberikan kegelapan, dosa dan penghancuran umat manusia.<\/p>\n<p>Pendapat manakah yang benar? Atau lebih tepat pihak mana yang kiranya lebih akurat dalam memahami generasi dunia sekuler ini? Seberapa jauh masing-masing pandangan itu mengandung kebenaran? Diperlukan Roh Kebijaksanaan di dalam diri kita untuk memahami \u201cgenerasi dunia sekuler\u201d ini.<\/p>\n<p>Yang jelas Yesus memberikan sebuah model bagi kita. Marilah kita terus menerus memohon dianugerahi Roh Kebijaksanaan agar kita menjadi orang-orang Kristen yang berarti bagi \u201cgenerasi dunia sekuler\u201d ini.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin, 13 Februari 2017 Bacaan:\u00a0 Kej 4:1-15, 25; Mrk\u00a0 8:11-13. Hari ini kita mulai diajak untuk memahami kisah-kisah tentang konsekuensi jatuhnya manusia ke dalam dosa. Kejadian 4:1-11:9 menggambarkan bagaimana dosa, sekali masuk ke dalam dunia, menyebar luas bagaikan penyakit menular sampai seluruh umat manusia terjangkiti oleh wabah dosa itu. Kisah \u00a0yang dibacakan hari ini tentang Kain yang membunuh saudara kandungnya menunjukkan bahwa perselisihan antar manusia merupakan akibat langsung\u00a0 dari dosa melawan Allah. Jawaban si pembunuh yang congkak, arogan dan tidak&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6201\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6201","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6201","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6201"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6201\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6202,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6201\/revisions\/6202"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6201"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6201"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6201"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}