{"id":6213,"date":"2017-02-17T13:00:19","date_gmt":"2017-02-17T21:00:19","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6213"},"modified":"2017-02-14T08:32:07","modified_gmt":"2017-02-14T16:32:07","slug":"sabtu-18-februari-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6213","title":{"rendered":"Sabtu, 18 Februari 2017"},"content":{"rendered":"<p>Sabtu, 18 Februari 2017<\/p>\n<p>Bacaan: Ibr 11:1-7; Mk 9:1-13<\/p>\n<p>Ibrani 11 mengingat kembali saksi-saksi iman yang mulia di jaman Perjanjian Lama yang mana iman dan ketekunan mereka dipelihara sebagai model bagi kita orang-orang Kristen. Nama-nama yang disebut adalah Habel dengan persembahannya; Henokh yang karena imannya ia tidak mati melainkan diangkat diangkat; Nuh yang mentaati perintah Allah.<\/p>\n<p>Peristiwa Yesus dimuliakan di sebuah gunung yang tinggi merupakan perwahyuan akan peristiwa penyelamatan umat manusia melalui sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Pembaca injil Markus ini akan teringat peristiwa di Sinai (Kel 24:15-18) dan penjelasan mengenai Anak Manusia dalam kitab Daniel (Dan 7;8;9). Peristiwa transfigurasi Yesus itu adalah rangkuman pemahaman umat Kristen akan misteri Yesus Kristus. Ia adalah Musa yang baru; dan menurut kitab Maleakhi bab empat, Nabi Elia akan kembali pada \u201cHari Tuhan\u201d. Pada hari itu ketika nabi Elia akan ada penghiburan bagi umat.<\/p>\n<p>Dengan mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes untuk mengalami Yesus yang dimuliakan, para murid mendapatkan penghiburan iman; keyakinan bahwa Yesus akan menang atas kuasa dosa; kemenangan ini untuk seluruh umat manusia. Yesus bermaksud agar para Rasul dan murid-muridNya menjadi kuat iman dan tabah hati dalam menjalankan misi penyelamatan umat manusia ke dalam dunia. Misi penyelamatan ini bukan untuk difahami sebagai misi untuk mengalahkan musuh yakni dunia sekuler atau dunia modern ini; juga bukan untuk menaklukannya, melainkan untuk membangun dialog yang sehat dengan dunia sekuler; membantu dunia sekuler untuk menemukan sang penyelamat; mengajak dunia sekuler untuk melihat tujuan akhir kemanusiaan bukan dengan cara pragmatis melainkan spiritualis.<\/p>\n<p>Hal ini bisa kita terapkan dalam kehidupan keluarga kita. Kita mengalami bahwa tidak sedikit orang tua jaman sekarang merasa tidaklah mudah meneruskan iman dan tradisi spiritual kepada anak-anak mereka. Orang tua terus melanjutkan memberi cinta dan dukungan kepada anak-anak mereka , disamping mengalami ketegangan dan ketidaksetujuan atau bahkan awal sebuah permusuhan bisa terjadi. Akan tetapi orang tua juga sadar bahwa kalau mereka mencintai dan mendukung anak-anak mereka, itu tidak berarti orang tua setuju dengan anak-anak dan mendukung hidup anak-anak yang menyimpang dari aturan moralitas kristiani.<\/p>\n<p>Orang tua yang baik terus mencintai, bahkan ketika anak-anak mereka terus menantang dan menolak untuk menjalani praktek iman dan tradisi spiritual keluarga mereka. Orang tua yang baik mencintai anak-anak mereka akan tetapi tetap berdiri di atas nilai-nilai moral tanpa kompromi. Orang tua yang baik menyadari bahwa mereka tetap mendengarkan tantangan-tantangan yang dihadirkan oleh anak-anak mereka yang menjelang dewasa, juga dengan menantang kembali anak-anak mereka untuk memiliki iman dan mencari penghiburan hanya dalam diri Yesus kristus.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabtu, 18 Februari 2017 Bacaan: Ibr 11:1-7; Mk 9:1-13 Ibrani 11 mengingat kembali saksi-saksi iman yang mulia di jaman Perjanjian Lama yang mana iman dan ketekunan mereka dipelihara sebagai model bagi kita orang-orang Kristen. Nama-nama yang disebut adalah Habel dengan persembahannya; Henokh yang karena imannya ia tidak mati melainkan diangkat diangkat; Nuh yang mentaati perintah Allah. Peristiwa Yesus dimuliakan di sebuah gunung yang tinggi merupakan perwahyuan akan peristiwa penyelamatan umat manusia melalui sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Pembaca injil Markus ini&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6213\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6213","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6213","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6213"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6213\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6214,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6213\/revisions\/6214"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6213"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6213"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6213"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}