{"id":6354,"date":"2017-04-10T12:19:30","date_gmt":"2017-04-10T19:19:30","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6354"},"modified":"2017-04-10T09:20:15","modified_gmt":"2017-04-10T16:20:15","slug":"renungan-selasa-dalam-pekan-suci-11-april-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6354","title":{"rendered":"Renungan Selasa dalam Pekan Suci (11 April 2017)"},"content":{"rendered":"<p>Renungan Selasa dalam Pekan Suci (11 April 2017)<\/p>\n<p>Bacaan-bacaan: Yes 49:1-6; Yoh 13: 21-33; 36-38<\/p>\n<p>Apa yang menjadi masalah dalam kehidupan kerohanian kita bukanlah kelemahan dan dosa kita, melainkan tindakan penyesalan yang kuat, mendalam, dan jujur. Apa yang menjadi masalah di dalam hubungan kita dengan Tuhan bukanlah kelemahan kita melainkan sikap rasionalisasi, ketidakjujuran, kebohongan, dan kekerasan hati ketika kita berhadapan dengan kebenaran.<\/p>\n<p>Tentu kisah tentang anak yang hilang, bapa yang baik hati, dan anak sulung, dalam kitab suci [Luk 15:11-32] sudah sangat akrab dengan hati kita. Anak yang lebih muda itu mengalami kekecewaan hidup sampai pada puncaknya, dengan perasaan malu namun ditopang dengan penyesalan yang kuat, mendalam, dan jujur-bersikap realistis bahwa ia tidak dapat hidup bahagia tanpa naungan kasih bapanya-ia kembali bertobat pada bapanya yang baik hati. Bapanya yang baik hati itu pun berlari menyambut kedatangan anaknya yang hilang. Kelemahan dan dosa bukanlah yang menjadi masalah-semua orang tidak bisa lepas dari kelemahan dan dosa-masalahnya beranikah kita dengan jujur dan penyesalan yang mendalam dan kuat mohon ampun kepada Tuhan dan kembali ke rumahNya.<\/p>\n<p>Sering kali kita tidak bisa melakukan penyesalan yang jujur dan mendalam dengan bebagai macam alasan yang dibuat-buat dan dirasionalisasi-dicari-cari alasan yang nampaknya masuk akal- yang pada akhirnya menyeret kita pada situasi dimana tidak terjadi penyesalan yang mendalam dan jujur. Kebohongan terus menerus kita lakukan. Hati kita menjadi keras dan pada akhirnya menolak tawaran kasih berupa pengampunan dosa-dalam sakramen pengakuan dosa.<\/p>\n<p>Dalam Injil yang dibacakan hari ini kita mendengar tentang Yudas Iskariot dan Simon Petrus. Yang pertama mengkhiati Yesus dengan ciuman dan uang; yang kedua mengkhianati Yesus dengan penyangkalan kalau dia kenal Yesus sebanyak tiga kali. Ungkapan tiga kali adalah ungkapan yang menggambarkan kesempurnaan. Sempurna sudah pengkhiatan Simon Petrus kepada Yesus. Dari Injil kita mengetahui bagaimanakah akhir hidup mereka berdua. Yudas Iskariot memilih mengakhiri hidupnya dengan tragis-bunuh diri-, sedangkan Simon Petrus menyesali dengan mendalam, jujur, dan malu. Pada akhirnya Simon Petrus mati seperti Yesus Kristus.<\/p>\n<p>Menarik sekali apa yang dikatakan dalam Injil hari ini bahwa Yesus melihat-dan hanya Yesus yang melihat- Setan memasuki atau merasuki diri Yudas Iskariot [Yoh 13:27a]. Pernah ada seorang mahasiswi yang cerdas mengatakan pada saya bahwa itu Setan yang berkhianat bukan Yudas Iskariot. Yudas Iskariot tidak bersalah. Ia bunuh diri karena menderita depressi yang sudah akut. Mereka yang menderita depressi akut lalu bunuh diri berada dalam situasi tidak bebas melakukan tindakan bunuh diri itu. Menarik sekali pendapat semacam itu.<\/p>\n<p>Kehadiran Setan dalam hidup kita selalu merupakan sebuah misteri. Kendati kita tidak bisa melihat Setan namun kita bisa melihat hasil tindakan manusia yang dipengaruhi atau bahkan dituntun oleh Setan. Apakah dengan demikian manusia bisa cuci tangan-seperti Pontius Pilatus- dari tanggung jawab atas perbuatannya? Saya kira tidak bisa. Kita memiliki tanggung jawab atas perbuatan-perbuatan kita. Kita sadar bahwa semua perbuatan jahat tidak berasal dari Tuhan melainkan dari pengaruh Setan. Dan kita tahu bahwa di hadapan kuasa Tuhan kekuatan pengaruh Setan akan luluh berantakan.<\/p>\n<p>Tanggung jawab kita adalah memiliki pertobatan dengan penyesalan yang kuat, jujur, dan mendalam. Meskipun menanggung perasaan malu kita diharapkan untuk berani datang pada sakramen pengakuan<\/p>\n<p>dosa. Marilah kita dalam Pekan Suci ini sungguh menyesali dosa-dosa kita dan kembali pada Tuhan melalui kehadiran aktif dalam perayaan Liturgi Pekas Suci ini. Bukan hanya hadir secara fisik namun dengan hati yang sungguh mendalam dan jujur dalam penyesalan atas dosa-dosa kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Renungan Selasa dalam Pekan Suci (11 April 2017) Bacaan-bacaan: Yes 49:1-6; Yoh 13: 21-33; 36-38 Apa yang menjadi masalah dalam kehidupan kerohanian kita bukanlah kelemahan dan dosa kita, melainkan tindakan penyesalan yang kuat, mendalam, dan jujur. Apa yang menjadi masalah di dalam hubungan kita dengan Tuhan bukanlah kelemahan kita melainkan sikap rasionalisasi, ketidakjujuran, kebohongan, dan kekerasan hati ketika kita berhadapan dengan kebenaran. Tentu kisah tentang anak yang hilang, bapa yang baik hati, dan anak sulung, dalam kitab suci [Luk 15:11-32]&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6354\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6354","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6354","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6354"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6354\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6355,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6354\/revisions\/6355"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6354"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6354"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6354"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}