{"id":6356,"date":"2017-04-11T12:39:36","date_gmt":"2017-04-11T19:39:36","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6356"},"modified":"2017-04-10T12:40:24","modified_gmt":"2017-04-10T19:40:24","slug":"renungan-rabu-dalam-pekan-suci-12-april-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6356","title":{"rendered":"Renungan Rabu dalam Pekan Suci (12 April 2017)"},"content":{"rendered":"<p>Renungan Rabu dalam Pekan Suci (12 April 2017)<\/p>\n<p>Bacaan-bacaan: Yes 50:4-9a; Mat 26:14-25<\/p>\n<p>Yudas Iskariot telah mengambil keputusan akhir untuk mengkianati Yesus dengan sejumlah uang yang telah dibayar lunas sebelum penangkapan terhadap Yesus terlaksana. Sesudah menerima sejumlah uang dari pemimpin agama, ia masih bersama Yesus dan para Rasul dalam perjamuan terakhir. Dalam kesempatan itu Yesus menyebutkan tetang pengkhianatan terhadap dirinya dan mengingatkan si pengkhianat bahwa terkutuklah ia yang akan mengkhianatiNya. Lebih baik bagi orang itu untuk tidak pernah dilahirkan. Dengan kalimat yang keras ini semestinya orang menjadi sadar betapa seriusnya pengkhianatan itu. Namun Yudas menolak untuk mengakhiri rencana pengkhianatan terhadap tuannya. Kegagalannya merupakan akumulasi sifat ketidakjujurannya dan tidak terkontrolnya nafsu cintanya akan uang yang mengalahkan cinta kepada Tuhannya.<\/p>\n<p>Kita sebagai orang Kristen kita pun memiliki kelemahan dalam mengelola hidup kita terutama berhadapan dengan uang. Menyingkirkan Tuhan dari uang akan membawa malapetaka. Kita tentunya juga tidak bersikap naif dengan mengatakan bahwa kita tidak membutuhkan uang. Di lain pihak Injil mengajarkan bahwa kita tidak bisa mengabdi pada dua tuan: Allah dan Mamon. Kita tidak boleh mencintai uang dan mengkhianati Tuhan. Kita mempergunakan uang untuk mencintai Tuhan. Kita sadar bahwa uang yang kita miliki bukanlah uang kita melainkan uang milik Tuhan. Segala sesuatu yang kita miliki adalah milik Allah [lih. 1 Taw 29:16].<\/p>\n<p>Kepada kita juga diajarkan agar kita mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan [lih. Ul 6:5]. Dengan segenap kekuatan berarti dengan kekuatan fisik, mental, uang, waktu, ide-ide, dan lain sebagainya. Mencintai Tuhan berarti mencintai, membantu, memperhatikan, dan merawat mereka yang lemah [lih. Mat 25:31-46]. Yudas Iskariot telah memilih untuk mementingkan kebutuhan yang tak terkontrol akan cinta uang dalam dirinya sebagai sesuatu yang lebih penting daripada mencintai Tuhannya.<\/p>\n<p>Kita hidup di dalam dunia dan budaya sekuler. Budaya sekuler memberi ruang gerak kebebasan tak terbatas. Kebebasan yang sebenarnya berasal dari ajaran injil telah dipakai oleh dunia sekuler sebagai senjata untuk menyerang budaya Kristen. Kebebasan sebagai nilai memiliki induknya dari ajaran Injil. Namun budaya sekuler karena \u201cbelum dewasa\u201d dalam mengunyah nilai kebebasan, mempergunakannya tanpa memikirkan akibatnya jauh ke depan. Dengan cinta akan kebebasan akan uang-memproduksi dan menggunakan-, budaya sekuler memaksa umat manusia mencarinya sebagai satu-satunya yang paling berharga yang harus dimiliki sebelum mati tanpa mengindahkan nilai-nilai manusiawi yang lain seperti solidaritas kepada orang-orang miskin.<\/p>\n<p>Kita tidak perlu memerangi dan mengisolasi budaya sekuler karena kita orang Kristen. Kita harus sadar bahwa budaya sekuler dengan kebebasannya itu sebenarnya berasal dari Injil yakni misteri penderitaan dan kebangkitan Kristus yang membebaskan umat manusia dari dosa. Kita tidak mengatakan budaya sekuler sebagai kafir-seperti orang-orang Taliban atau ISIS-tidak. Karena kita pun memakai produk-produk budaya sekuler seperti mobil, handphone, dan lain sebagainya. Yang perlu kita lakukan adalah berjalan bersama dan menuntun budaya sekuler sebagai anak dari budaya Kristen menuju keselamatan. Untuk itu dibutuhkan tuntunan ajaran moral dan meyakinkan terus-menerus akan pentingnya membawa kebebasan untuk mencintai Tuhan dan sesama yang malang dan miskin.<\/p>\n<p>Misi kita sebagai orang Kristen atau Gereja Katolik dewasa ini ke dalam dan di dalam budaya sekuler haruslah menunjukkan solidaritas kepada orang miskin, lemah, dan yang mudah pecah. Misi kita ke dan dalam dunia sekuler yang dipenuhi dengan luka-luka, kemarahan, kebencian, kecemburuan, ketidaksetiaan, ketidakadilan, penolakan, kepahitan, pembunuhan, dan perang adalah mewartakan dimanapun nilai-nilai pengampunan, perdamaian dan penyembuhan dari Allah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Renungan Rabu dalam Pekan Suci (12 April 2017) Bacaan-bacaan: Yes 50:4-9a; Mat 26:14-25 Yudas Iskariot telah mengambil keputusan akhir untuk mengkianati Yesus dengan sejumlah uang yang telah dibayar lunas sebelum penangkapan terhadap Yesus terlaksana. Sesudah menerima sejumlah uang dari pemimpin agama, ia masih bersama Yesus dan para Rasul dalam perjamuan terakhir. Dalam kesempatan itu Yesus menyebutkan tetang pengkhianatan terhadap dirinya dan mengingatkan si pengkhianat bahwa terkutuklah ia yang akan mengkhianatiNya. Lebih baik bagi orang itu untuk tidak pernah dilahirkan. Dengan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6356\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6356","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6356","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6356"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6356\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6357,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6356\/revisions\/6357"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6356"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6356"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6356"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}