{"id":6463,"date":"2017-05-17T12:17:40","date_gmt":"2017-05-17T19:17:40","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6463"},"modified":"2017-05-13T22:18:16","modified_gmt":"2017-05-14T05:18:16","slug":"18-mei-2017","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6463","title":{"rendered":"18 Mei 2017"},"content":{"rendered":"<p>18 Mei 2017<\/p>\n<p>Bacaan I : Kisah Para Rasul 15: 7-21<\/p>\n<p>Bacaan Injil : Yohanes 15: 9-11<\/p>\n<p>Menjadi seorang pribadi yang penuh suka cita adalah sebuah pilihan. Menjadi pribadi yang bahagia adalah sebuah keputusan. Apakah benar demikian? Ya, memang benar demikian. Kita tak mungkin memaksa diri kita untuk bersukacita. Kitapun juga tak mungkin memaksa orang lain menjadi pribadi yang bahagia. Menjadi bahagia adalah sebuah keputusan, sebuah pilihan.<\/p>\n<p>Kita dapat bersuka cita kalau kita memilih untuk tinggal dalam Yesus, di dalam sukacita-Nya. Tanpa mau tinggal dalam Yesus tak akan pernah kita dapat bersuka cita. Tuhan mengatakan demikian karena Ia ingin agar suka cita kita menjadi penuh. Kalau hidup kita penuh dengan suka cita, maka kitapun mampu berbagi suka cita. Kita bisa berbagi suka cita jika kita memilikinya dalam hidup kita. tak mungkin kita memberikan suka cita jika kita tidak memilikinya. Kitapun juga tak mungkin dapat membawa suka cita kalau kita tidak memilikinya; padahal salah satu tugas seorang kristiani adalah menjadi pembawa suka cita. Tuhan ingin kita menjadi pembawa suka cita bukan kesenangan. Mengapa demikian? Karena suka cita bisa bertahan lama, murni dari hati dan selalu membawa kebahagiaan, sementara kesenangan sifatnya sementara, dan seringkali tidak murni dari hati.<\/p>\n<p>Jika kita ingin bahagia, berdoalah senantiasa setiap kita bangun tidur \u201cYa Tuhan, hari ini aku memilih untuk menjadi pribadi yang bahagia, pribadi yang penuh suka cita. Trima kasih untuk segala perkara yang Kau berikan padaku hari ini, karena aku yakin semuanya akan berbuah suka cita dalam hidupku\u201d. Saya pribadi sungguh yakin akan hal ini. bila kita mengawali hari baru kita dengan doa demikian maka hidup kitapun akan selalu penuh dengan suka cita, penuh kebahagiaan. Menjadi bahagia adalah sebuah pilihan, sebuah keputusan. Tinggalah dalam suka cita Tuhan maka kitapun akan selalu bersuka cita. Baik kita mau mencontoh Bunda Maria, ia di dalam kidung Maria yang sangat terkenal itu mengatakan bahwa hatinya penuh dengan rasa suka cita menggagungkan Tuhan karena segala kebaikanNya, karena segala perkara yang Tuhan buat dalam hidupnya. Maka kitapun bisa meniru sikap Bunda Maria, membiarkan diri kita dikuasai oleh suka cita.<\/p>\n<p>Doa:<\/p>\n<p>Ya Tuhan, tuntunlah hidupku sepanjang hari ini. Bantulah aku untuk selalu bersuka cita dalam namaMu. Bantulah pula ya Tuhan, agar seperti Bunda Maria, hidup kami juga selalu penuh dengan suka citamu. Dalam nama Allah Tritunggal Yang Mahakudus, Bapa, Putra dan Roh Kudus aku berdoa. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>18 Mei 2017 Bacaan I : Kisah Para Rasul 15: 7-21 Bacaan Injil : Yohanes 15: 9-11 Menjadi seorang pribadi yang penuh suka cita adalah sebuah pilihan. Menjadi pribadi yang bahagia adalah sebuah keputusan. Apakah benar demikian? Ya, memang benar demikian. Kita tak mungkin memaksa diri kita untuk bersukacita. Kitapun juga tak mungkin memaksa orang lain menjadi pribadi yang bahagia. Menjadi bahagia adalah sebuah keputusan, sebuah pilihan. Kita dapat bersuka cita kalau kita memilih untuk tinggal dalam Yesus, di dalam&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6463\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6463","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6463","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6463"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6463\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6464,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6463\/revisions\/6464"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6463"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6463"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6463"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}