{"id":6505,"date":"2017-06-06T12:27:57","date_gmt":"2017-06-06T19:27:57","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6505"},"modified":"2017-06-05T07:28:32","modified_gmt":"2017-06-05T14:28:32","slug":"beriman-kepada-allah-yang-hidup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6505","title":{"rendered":"Beriman kepada Allah yang hidup"},"content":{"rendered":"<p>Rabu, 7 Juni 2017<\/p>\n<p>Beriman kepada Allah yang hidup<\/p>\n<p>Mrk 12:18-27<\/p>\n<p>Suatu saat seseorang kadang bisa mengalami kejenuhan dan kebosanan dalam menjalani rutinitas. Dalam situasi demikian, kita kadang kehilangan arah dan tujuan hidup, dan tak jarang pula kita mengalami keputus-asaan. Kita pun bisa mengalami kehilangan arti hidup dan harapan. Bukan tanpa alasan, kadang Allah mengijinkan kita untuk mengalami keraguan, kegagalan, kehilangan dan penderitaan agar iman kita semakin dimurnikan. Allah senantiasa menghendaki apa yang baik bagi hidup manusia. Sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi bukti bahwa Allah senantiasa memberikan harapan di tengah-tengah penderitaan. Kemuliaan dan kemenangan Salib Kristus menunjukkan kekuatan cinta Allah yang mengalahkan maut dan kematian. Kebangkitan Kristus menjadi puncak iman kita. Hidup tidak berakhir dengan kematian tetapi kematian justru menjadi gerbang untuk memasuki kehidupan kekal. Namun iman akan kebangkitan tidaklah berlaku bagi orang-orang saduki seperti yang kita dengarkan dalam bacaan Injil hari ini. Hal itu dibenarkan oleh Kisah Para Rasul: \u201cSebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya\u201d (Kis 23:8). Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menjawab pertanyaan orang-orang Saduki mengenai siapakah suami dari wanita yang bersuamikan tujuh laki-laki di hari kebangkitan nanti? Namun Yesus menunjukkan pemikiran yang salah dari kaum Saduki, yang menyamakan hidup di bumi dengan hidup setelah kematian. Di dunia ini orang kawin dan dikawinkan, namun tidaklah demikian situasi dan kondisi hidup setelah kematian. Hidup orang yang sudah mengalami kebangkitan, tidaklah sama dengan situasi dan kondisi di dunia, sebelum kematian. Relasi antar manusia yang bangkit tidak berdasarkan relasi kawin dan dikawinkan atau relasi suami isteri, tetapi relasi yang menggambarkan kehidupan bersama Allah. Kebangkitan badan itu tidak berarti hidup lagi seperti sebelum mati. Kebangkitan badan itu berarti hidup seperti para malaikat dan hidup sebagai anak-anak Allah. Inilah Sabda Yesus: \u201cSebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan\u201d (Luk 20:36).<\/p>\n<p>Saudara-saudari yang terkasih, bacaan Injil hari ini mengundang kita untuk mempunyai pandangan yang positif terhadap hidup di dunia. Hidup yang senantiasa ada harapan karena iman akan kebangkitan badan menjadikan segala sesuatu menjadi ciptaan baru, hidup bersama Allah. Sebagai konsekuensi hidup di dunia hendaknya dijalankan dengan baik supaya kita siap untuk memasuki gerbang kematian, dan sekaligus memasuki kehidupan kekal, kebangkitan badan. Kalau kita hidup baik hari ini, maka tidak ada ketakutan dan penyesalan yang sia-sia di hari esok. Bijaksanalah dalam menjalani kehidupan. Allah kita adalah Allah orang-orang hidup.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rabu, 7 Juni 2017 Beriman kepada Allah yang hidup Mrk 12:18-27 Suatu saat seseorang kadang bisa mengalami kejenuhan dan kebosanan dalam menjalani rutinitas. Dalam situasi demikian, kita kadang kehilangan arah dan tujuan hidup, dan tak jarang pula kita mengalami keputus-asaan. Kita pun bisa mengalami kehilangan arti hidup dan harapan. Bukan tanpa alasan, kadang Allah mengijinkan kita untuk mengalami keraguan, kegagalan, kehilangan dan penderitaan agar iman kita semakin dimurnikan. Allah senantiasa menghendaki apa yang baik bagi hidup manusia. Sengsara, wafat dan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6505\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6505","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6505","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6505"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6505\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6506,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6505\/revisions\/6506"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6505"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6505"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6505"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}