{"id":6507,"date":"2017-06-07T12:00:06","date_gmt":"2017-06-07T19:00:06","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6507"},"modified":"2017-06-06T07:55:52","modified_gmt":"2017-06-06T14:55:52","slug":"kualitas-cinta-yang-diajarkan-oleh-yesus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6507","title":{"rendered":"Kualitas cinta yang diajarkan oleh Yesus"},"content":{"rendered":"<p>Kamis, 8 juni 2017<\/p>\n<p>Kualitas cinta yang diajarkan oleh Yesus<\/p>\n<p>Mrk 12:18-27<\/p>\n<p>Kalau kita amati dalam kehidupan sehari-hari, tema sinetron, film dan lagu-lagu pop kebanyakan bertemakan cinta. Memang kata \u2018cinta\u2019 mempunyai berbagai macam makna: suatu ungkapan kata dan tindakan romantis, saling berbagi, saling setia, saling mengasihi dsb. Namun tak jarang pula \u201ccinta\u201d yang seharusnya memberikan kebahagiaan dan sukacita, terkadang berakhir dengan kesedihan, kebencian dan perselisihan. Makna kata cinta senantiasa aktual dalam kehidupan manusia. Untuk itulah kita perlu memahami dan merenungkan kembali makna kata CINTA seperti yang Yesus ajarkan kepada kita.<\/p>\n<p>Dalam bacaan Injil hari ini, seorang ahli taurat bertanya kepada Yesus mengenai, manakah hukum yang paling utama dari seluruh perintah Allah. Seperti kita ketahui ada 613 hukum yang dapat ditemukan dalam Kitab Perjanjian Lama. Untuk itulah seorang ahli taurat bertanya kepada Yesus, manakah hukum yang paling utama. Jawaban yang diberikan Yesus sangatlah tegas dan ringkas: pertama, cintailah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, jiwamu dan kekuatanmu. Kedua adalah cintailah sesamamu seperti mencintai dirimu sendiri. Yesus menunjukkan sesuatu yang penting, yaitu kualitas dalam MENCINTAI Allah dan manusia. Mencintai Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan berarti mencintai Allah melebihi segala sesuatu. Allah menjadi yang utama dalam hidup kita. Setiap tindakan, keputusan yang kita ambil diselaraskan dengan kehendak Allah. Selanjutnya mencintai sesama seperti diri kita sendiri, artinya menjadikan orang lain bagian dari diri kita, cinta yang merangkul orang lain, cinta yang inklusif, cinta yang memaafkan. Dengan demikian sikap diskriminasi, rasis, dan tidak toleran menjadi sesuatu yang bertentangan dengan cara MENCINTAI yang diajarkan oleh Yesus.<\/p>\n<p>Saudara saudari yang terkasih, marilah kita memohon rahmat Roh Kudus agar mampu mencintai Alah dan sesama dengan cinta yang berkualitas dan menjadikan semua orang sebagai saudara kita di dalam keluarga Allah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis, 8 juni 2017 Kualitas cinta yang diajarkan oleh Yesus Mrk 12:18-27 Kalau kita amati dalam kehidupan sehari-hari, tema sinetron, film dan lagu-lagu pop kebanyakan bertemakan cinta. Memang kata \u2018cinta\u2019 mempunyai berbagai macam makna: suatu ungkapan kata dan tindakan romantis, saling berbagi, saling setia, saling mengasihi dsb. Namun tak jarang pula \u201ccinta\u201d yang seharusnya memberikan kebahagiaan dan sukacita, terkadang berakhir dengan kesedihan, kebencian dan perselisihan. Makna kata cinta senantiasa aktual dalam kehidupan manusia. Untuk itulah kita perlu memahami dan merenungkan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6507\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6507","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6507","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6507"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6507\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6508,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6507\/revisions\/6508"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6507"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6507"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6507"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}