{"id":6583,"date":"2017-07-09T12:00:12","date_gmt":"2017-07-09T19:00:12","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6583"},"modified":"2017-07-07T15:51:16","modified_gmt":"2017-07-07T22:51:16","slug":"penebus-kita-yesus-kristus-telah-membinasakan-maut-dan-menerangi-hidup-dengan-injil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6583","title":{"rendered":"Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil."},"content":{"rendered":"<p>RENUNGAN HARIAN<\/p>\n<p>Senin, 10 Juli 2017<\/p>\n<p>Injil: Mat. 9:18-26<\/p>\n<p>Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil.<\/p>\n<p>Kita hidup dalam situasi yang terpecah-pecah. Ketika penyakit datang melanda tubuh kita jiwa kita bisa terpecah membuat kita menjadi tertekan. Kematian memecah belah semua unsur-unsur kimiawi dalam tubuh kita. Ketika jiwa meninggalkan tubuh dalam kematian unsur-unsur kimiawi yang semula bersatu dalam keharmonisan dan memberikan kehidupan-karena peranan jiwa- kini mereka menjadi liar dan bergerak sendiri-sendiri dan akhirnya membusuk dan lenyap.<\/p>\n<p>Kerohanian dan keduniawian pun dipecah. Kerohanian dipandang sebagai anti apa saja yang bersifat duniawi: kenikmatan. Allah dipandang sebagai sumber kerohanian saja dan dipandang sebagai Tuhan yang membiarkan diriNya dianiaya tanpa mengeluh. Keduniawian dipandang sebagai yang anti agama dan anti penderitaan. Kita hidup dalam suasana keterpecahan.<\/p>\n<p>Dalam situasi keterpecahan itu, hari ini kita diajak oleh Injil untuk merenungkan Penebus kita Tuhan Yesus Kristus. Dia rela mati tanpa pamrih demi menyelamatkan umat manusia. Kisah penyembuhan dan pembangkitan yang diwartakan kepada kita hari ini mengajak kita untuk melihat jauh ke depan dan mengalami hal-hal yang jauh lebih besar daripada mukjijat-mukjijat yang diwartakan tadi. Penebusan kita atas dosa-dosa yang menghantar kita ke kehidupan abadi inilah mukjijat yang jauh lebih besar dan berarti dibandingkan penyembuhan dan pembangkitan orang mati tadi.<\/p>\n<p>Kisah penyembuhan dan pembangkitan memang penting untuk diwartakan agar kita memiliki harapan akan situasi yang lebih baik. Namun kita harus juga sadar dan tidak boleh naif. Mereka yang telah disembuhkan dan dibangkitkan oleh Yesus, akan mengalami barangkali tidak sakit kembali tetapi yang jelas akan mengalami kematian kembali. Masalahnya adalah sering orang terpukau dan terpaku pada mukjijat-mukjijat itu dan lupa akan hal-hal yang jauh lebih besar yakni penebusan orang-orang beriman dari dosa-dosa.<\/p>\n<p>Kita sering berdoa mohon mujijat penyembuhan bahkan mukjijat menang lottery. Dan setelah doa kita dikabulkan kita lupa untuk secara rutin mengucapkan syukur dan terima kasih dalam perayaan Ekaristi. Hari ini kita diingatkan untuk bersedia merayakan peristiwa penebusan kita dalam Perayaan Ekaristi setiap Minggu bahkan jika mungkin setiap hari. Perayaan Ekaristi adalah makanan dan minuman surgawi-Tubuh dan darah Kristus yang menopang kesehatan fisik, mental dan kerohanian kita. Perayaan Ekaristi menjadi kita semua di dalam persatuan untuk menghindari perpecahan.<\/p>\n<p>Ketika keluarga menjadi tidak harmonis dalam komunikasi; kesatuan suami-isteri terancam<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>RENUNGAN HARIAN Senin, 10 Juli 2017 Injil: Mat. 9:18-26 Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil. Kita hidup dalam situasi yang terpecah-pecah. Ketika penyakit datang melanda tubuh kita jiwa kita bisa terpecah membuat kita menjadi tertekan. Kematian memecah belah semua unsur-unsur kimiawi dalam tubuh kita. Ketika jiwa meninggalkan tubuh dalam kematian unsur-unsur kimiawi yang semula bersatu dalam keharmonisan dan memberikan kehidupan-karena peranan jiwa- kini mereka menjadi liar dan bergerak sendiri-sendiri dan akhirnya membusuk dan lenyap&#8230;.<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6583\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6583","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6583","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6583"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6583\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6584,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6583\/revisions\/6584"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6583"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6583"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6583"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}