{"id":6604,"date":"2017-07-13T13:05:32","date_gmt":"2017-07-13T20:05:32","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6604"},"modified":"2017-07-13T13:05:32","modified_gmt":"2017-07-13T20:05:32","slug":"bukan-kalian-yang-akan-berbicara-melainkan-roh-bapamu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6604","title":{"rendered":"Bukan kalian yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu."},"content":{"rendered":"<p>Renungan Harian<\/p>\n<p>Jumat, 14 Juli 2017<\/p>\n<p>Injil: Mat 10: 16-23<\/p>\n<p>Bukan kalian yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu.<\/p>\n<p>Di dalam Injil yang dibacakan dalam Misa hari ini kita diajak untuk merenungkan situasi hidup menggereja kita ke dalam dan di dalam dunia. Kita tentu masih ingat bahwa di tempat lain dalam Injil Yesus mengajarkan kepada kita agar kita menjadi garam dan terang dunia: bersedia melebur ke dan di dalam dunia, memberi warna dan keindahan tanpa jatuh ke dalam dosa; menjadi terang dalam kegelapan sehingga kita tidak sengaja pergi dan memasuki dunia kegelapan walaupun kita bisa dan menjadi bagian dari kegelapan itu. Tidak. kita memasuki dunia kegelapan tanpa ikut menjadi gelap (berdosa).<\/p>\n<p>Hari ini kita diingatkan bahwa dunia yang kita tuju dan masuki bukanlah dunia yang bersahabat dengan kita. Namun dunia ini juga bukan musuh yang harus dihindari atau dihancurkan. Kita harus menjadi cerdik dan tulus. Artinya memiliki Roh Kebijaksanaan dalam diri kita. Roh Kebijaksanaan itulah yang akan memimpin kita menggarami dan menerangi dunia.<\/p>\n<p>Kita diajak untuk tidak mengharapkan pujian atas keberhasilan usaha kita dalam mempertobatkan orang-orang berdosa. Melainkan sebaliknya kita diharapkan siap untuk menerima ketegangan dan kegagalan. Hanya dengan berani menerima ketegangan dan kegagalan kita belajar untuk bersolidaritas dengan mereka yang tidak berdaya; yang menjadi korban tragedi kemanusiaan yakni kemiskinan.<\/p>\n<p>Penderitaan karena penolakan, penganiayaan, dan lain sebagainya itu perlu dialami sebagai wujud kita ikut memanggul salib dan cinta kita pada kaum miskin. Kita tidak memandang kemiskinan sebagai sesuatu yang baik. Kemiskinan, sama dengan kekayaan, bisa menggerogoti jiwa. Kemiskinan kita layani karena dari kemiskinan itu kita belajar apa artinya kebijaksanaan memanggul salib, karena orang-orang miskin itulah yang mengajarkan kita apa arti sebenarnya memanggul salib.<\/p>\n<p>Di samping itu kita juga diajak untuk tidak memerangi dunia yang menolak Kabar Suka Cita ini. Jika terjadi konfrontasi yang tajam dan membahayakan jiwa, lebih baik kita menghidar dan mewartakan kabar Suka Cita ke daerah lain, orang lain, kebudayaan lain, dst\u2026dst\u2026lebih bergunalah kita jika kita tidak \u201cmati\u201d sia-sia karena Tuhan masih bisa memakai kita sebagai tangan dan kakinya, lidah dan hatiNya untuk menyelamatikan umat manusia dari kuasa kegelapan.<\/p>\n<p>Dan akhirnya kita terus menerus berjuang untuk menjadi garam dan terang dunia; masuk ke dalam dah hidup di dalam dunia yang dihuni oleh serigala-serigala yang siap mencari mangsanya siang dan malam. Kita sebagai domba dan merpati yang tulus namun tidak bodoh<\/p>\n<p>itu kita diharapkan bisa ikut menghantar siapa saja kepada kedatangan kembali Tuhan Yesus Kristus menyelamatkan dunia ini. Itu berarti juga bahwa selagi kita menunggu kedatangan Sang Penyelamat itu, kita diharapkan hidup di dunia ini dengan memperlakukan dunia ini sebagai bagaikan seorang anak remaja yang sedang bertumbuh menuju kedewasaan. Anak remaja tidak bisa diharapkan bertindak sebegaimana orang dewasa. Kita mendampingi dunia ini dengan sabar, dalam arti kita tidak setuju dengan cara hidup dunia, namun mencintai mereka sebagaimana Tuhan mencintai dunia (Yoh 3:16). Tidak mengangkat perang melawan mereka melainkan memberkati mereka. Memasuki dunia gelap mereka tanpa ikut berdosa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Renungan Harian Jumat, 14 Juli 2017 Injil: Mat 10: 16-23 Bukan kalian yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu. Di dalam Injil yang dibacakan dalam Misa hari ini kita diajak untuk merenungkan situasi hidup menggereja kita ke dalam dan di dalam dunia. Kita tentu masih ingat bahwa di tempat lain dalam Injil Yesus mengajarkan kepada kita agar kita menjadi garam dan terang dunia: bersedia melebur ke dan di dalam dunia, memberi warna dan keindahan tanpa jatuh ke dalam dosa; menjadi terang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6604\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6604","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6604","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6604"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6604\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6605,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6604\/revisions\/6605"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6604"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6604"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6604"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}