{"id":6652,"date":"2017-08-07T12:00:45","date_gmt":"2017-08-07T19:00:45","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6652"},"modified":"2017-07-26T12:39:24","modified_gmt":"2017-07-26T19:39:24","slug":"menjaga-pikiran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6652","title":{"rendered":"Menjaga Pikiran"},"content":{"rendered":"<p>Selasa 8 Agustus 2017<\/p>\n<p>PW. St. Dominikus<\/p>\n<p>Bacaan I : Bilangan 12: 1-13<\/p>\n<p>Injil : Matius 15: 1-2.10-14<\/p>\n<p>Menjaga Pikiran<\/p>\n<p>Terkadang, hidup seorang anak manusia dikorbankan hanya untuk memenuhi sebuah ambisi. Ambisi itu bisa berupa kesalehan, bisa berupa peraturan ataupun hal-hal lahiriah lainnya. Harga nyawa seorang anak manusia dapat diukur berdasarkan nilai-nilai material, menguntungkan atau tidak menguntungkan. Jika menguntungkan maka akan dipertahankan, jika tidak maka akan dilenyapkan. Kejadian-kejadian nyata untuk menggambarkan keadaan di atas sungguh ada dalam kehidupan masyarakat kita. Misalnya, seorang anak yang lahir cacat dan tak berdaya dibuang oleh orangtuanya, harapannya agar dia mati atau ada orang yang menemukannya dan merawatnya. Gambaran lain adalah keadaan yang dialami oleh orang yang telah lanjut usia. Karena dianggap membebani maka orang yang telah lanjut usia itu \u201cdibuang\u201d dan ditinggalkan harapannya agar ia meninggal dan tidak membebani lagi. Terkadang pemikiran yang sangat materialis ini juga menjangkiti kita umat Kristiani. Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang membuat kita menjadi najis. Kita najis bukan karena apa yang kita makan, namun apa yang kita keluarkan dari pikiran kita dan berbuah pada tindakan kita yang tidak terpuji. Tindakan-tindakan hasil pemikiran kita itulah yang membuat kita menjadi najis.<\/p>\n<p>Tuhan Yesus mengajari kita sungguh sangat keras berkaitan dengan hal ini. Ia sungguh menekankan bahwa perbuatan-perbuatan kitalah yang membuat kita najis, bukan apa yang kita makan. Maka sebagai pengikut Kristus kita perlu menyadari pemikiran ini \u201cberhati-hatilah dengan pikiranmu; karena apa yang kamu pikirkan membentuk tindakanmu, tindakanmu membentuk kebiasaanmu, kebiasaanmu membentuk karaktermu dan karaktermu membentuk pikiranmu\u201d. Segala hal yang kita lakukan itulah yang membuat kita layak atau tidak layak, najis atau tidak najis. Kita sekalian dibenarkan bukan hanya karena iman, namun juga kerena tindakan kita. Kita layak di hadapan Tuhan bukan hanya karena kita mengimani Dia namun karena kita mau mengamalkan iman kita dalam tindakan kita. Amin. Tuhan memberkati.<\/p>\n<p>Doa:<\/p>\n<p>Allah Bapa di surga, berilah kami kekuatan untuk selalu menjaga dan mengolah pikiran kami, arahkanlah pikiran kami kepada hal-hal yang benar, luhur dan mulia hingga setiap perbuatan kamipun menghasilkan keselamatan bagi kami maupun sesama kami. Ini semua kami mohon dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa 8 Agustus 2017 PW. St. Dominikus Bacaan I : Bilangan 12: 1-13 Injil : Matius 15: 1-2.10-14 Menjaga Pikiran Terkadang, hidup seorang anak manusia dikorbankan hanya untuk memenuhi sebuah ambisi. Ambisi itu bisa berupa kesalehan, bisa berupa peraturan ataupun hal-hal lahiriah lainnya. Harga nyawa seorang anak manusia dapat diukur berdasarkan nilai-nilai material, menguntungkan atau tidak menguntungkan. Jika menguntungkan maka akan dipertahankan, jika tidak maka akan dilenyapkan. Kejadian-kejadian nyata untuk menggambarkan keadaan di atas sungguh ada dalam kehidupan masyarakat kita&#8230;.<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6652\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6652","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6652","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6652"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6652\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6653,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6652\/revisions\/6653"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6652"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6652"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6652"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}