{"id":6658,"date":"2017-08-10T12:00:27","date_gmt":"2017-08-10T19:00:27","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6658"},"modified":"2017-07-26T12:42:07","modified_gmt":"2017-07-26T19:42:07","slug":"pw-st-klara-dari-asisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6658","title":{"rendered":"PW. St. Klara dari Asisi"},"content":{"rendered":"<p>Jumat, 11 Agustus 2017<\/p>\n<p>PW. St. Klara dari Asisi<\/p>\n<p>Bacaan I : Ulangan 4: 32-40<\/p>\n<p>Injil : Matius 16: 24-28<\/p>\n<p>Santo Yohanes dari Salib dalam tulisannya \u201cMendaki Gunung Karmel\u201d mengajari kita tentang kehidupan rohani. Dalam salah satu ajarannya ia mengatakan demikian \u201cJika ingin mendapatkan segala sesuatu, tinggalkanlah segala sesuatu\u201d. Sepintas apa yang ia katakan ini sungguh sangat tidak masuk akal. Namun ketika kita renungkan sungguh-sungguh ternyata memang untuk mendapatkan segala sesuatu terkadang kita perlu meninggalkan banyak perkara. Hal ini persis seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus pada hari ini. \u201cBarang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya\u201d.<\/p>\n<p>Kehilangan adalah suatu hal keharusan bagi kita. Jika kita tak mau kehilangan maka kita tak pernah bisa berkembang, tak pernah bisa maju. Kalau kita tak mau kehilangan masa remaja kita, maka kita tak pernah dewasa, kalau kita tak mau kehilangan kenyamanan kita, maka kita tak akan pernah mengalami kemajuan, dalam bidang apapun. Jadi dalam hal inilah kita bisa mengerti ajaran Tuhan Yesus \u201cBarang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya\u201d. Kehilangan nyawa bukan berarti harus diartikan sebagai mati, namun bisa diartikan sebagai pengurbanan.<\/p>\n<p>Santa Klara yang hari ini kita peringati adalah seorang pribadi yang telah mempraktekkan ajaran Tuhan Yesus ini. Ia telah sengaja menghilangkan segala sesuatu dalam hidupnya; segala kenyamanan sebagai seorang anak bangsawan, segala ketenaran, segala kemudahan. Ia tinggalkan segalanya, dan sebagai gantinya ia menjadi pengikut Santo Fransiskus Asisi, menjadi miskin tanpa memiliki apapun. Sebagai gantinya ia memiliki kebebasan dalam hidupnya. Dengan adanya peringatan Santa Kalara ini kita selalu diingatkan bahwa jika kita ingin mendapatkan kebebasan, tinggalkanlah segala sesuatu yang mengikat diri kita; salah satunya adalah kenyamanan. Semoga Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.<\/p>\n<p>Doa:<\/p>\n<p>Ya Tuhan terkadang baik kami sadari maupun tak kami sadari, kami jatuh dalam kenyamanan yang akhirnya membuat kami lupa akan tujuan hidup kami yaitu mengikuti Engkau. Maka ya Bapa kami mohon tuntunanMu, arahkanlah kami untuk selalu memiliki niat yang tulus untuk meninggalkan segala ikatan yang membuat kami tidak bebas. Terpujilah namaMu ya Tuhan. Amin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat, 11 Agustus 2017 PW. St. Klara dari Asisi Bacaan I : Ulangan 4: 32-40 Injil : Matius 16: 24-28 Santo Yohanes dari Salib dalam tulisannya \u201cMendaki Gunung Karmel\u201d mengajari kita tentang kehidupan rohani. Dalam salah satu ajarannya ia mengatakan demikian \u201cJika ingin mendapatkan segala sesuatu, tinggalkanlah segala sesuatu\u201d. Sepintas apa yang ia katakan ini sungguh sangat tidak masuk akal. Namun ketika kita renungkan sungguh-sungguh ternyata memang untuk mendapatkan segala sesuatu terkadang kita perlu meninggalkan banyak perkara. Hal ini persis&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6658\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6658","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6658","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6658"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6658\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6659,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6658\/revisions\/6659"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6658"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6658"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6658"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}