{"id":6735,"date":"2017-08-14T19:30:36","date_gmt":"2017-08-15T02:30:36","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6735"},"modified":"2017-08-14T19:30:36","modified_gmt":"2017-08-15T02:30:36","slug":"peringatan-wajib-santo-maksimilianus-maria-kolbe-imam-martir","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6735","title":{"rendered":"Peringatan Wajib Santo Maksimilianus Maria Kolbe, Imam \u2013 Martir"},"content":{"rendered":"<p><strong>Senin, 14 Agustus 2017<\/strong><\/p>\n<p><strong>Peringatan Wajib Santo Maksimilianus Maria Kolbe, Imam \u2013 Martir<\/strong><\/p>\n<p><strong>Kitab Ulangan (10:12-22)<\/strong> <strong>Bacaan Injil (Matius 17:22-27)<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>\u201cJangan lupa cinta!\u201d<\/strong><\/p>\n<p>Hari ini gereja merayakan peringatan wajib St. Maximilianus Kolbe. Maximilianus Kolbe adalah seorang Fransiskan, Lahir di Polandia 8 Januari 1894 dan menjadi Imam Fransiskan pada tahun 1918. Dia menjadi misionaris dan menyebarkan devosi kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria di Jepang dan India. Setelah kembali dari tanah misi, selama perang dunia II, St. Maximilian Kolbe\u00a0 menyediakan tempat pengungsian\u00a0 untuk lebih dari 2000 orang Yahudi yang dianiaya oleh Nazi. Dia juga sangat berani menentang kekejaman para Nazi lewat stasiun radio miliknya.<\/p>\n<p>Pada Tahun 1941 St. Miximilan ditangkap dan dikirim ke Auschwitz. Pada tahun yang sama salah seorang tahanan kabur dari penjara dan para tentara Nazi\u00a0 memutuskan untuk memisahkan 10 orang untuk dibiarkan mati kelaparan supaya tidak ada orang lagi mencoba untukmelarikan diri.\u00a0 Salah satu dari antara 10 orang tersebut adalah Franciszek Gajowniczek, seorang suami dan bapak keluarga yang masih mudah. Ia\u00a0 dengan sangat histeris berteriak,\u201d istriku! anakku!\u201d Mendengar teriakan kesedihan ini, St. Kolbe merelakan dirinya untuk menggantikan oran ini.<\/p>\n<p>Ketika St. Kolbe dibawa ke tempat dimana mereka dibiarkan mati kelaparan, dia dengan tegar meminta kepada yang lain, \u201cJangan lupakan cinta!\u201d<\/p>\n<p>Ditempat dimana mereka sengrasa, dia memimpin\u00a0 mereka untuk berdoa dan puji-pujian agar mereka tetap semangat dalam menghadapi penyiksaan. Setelah dua\u00a0 minggu dalam kelaparan dan kehausan hanya St. Kolbe masih bertahan hidup. Dia akhinya meniggal setelah disuntikan asam karbol yang mematikan.<\/p>\n<p>Kisah St. Maximilianus adalah kisah cinta yang sangat menggugah hati kita. \u201cTidak ada kasih yang lebih indah dari pada seorang memberikan dirinya \u00a0bagi sahabatnya.\u201d John 15:13) St. Maximilianus mempraktekan imannya dengan tindakan cinta dan pengorbanan.<\/p>\n<p>Maximilianus Kolbe kanonisasi pada tahun 1982 oleh Paus Yohanes Paulus II dan sangat menarik adalah \u00a0Franciszek Gajowniczek hadir dalam misa kanonisasi.<\/p>\n<p>Ketika kita merenungkan hidup St. Maximilianus Kolbe, mari kita lihat diri kita masing-masing. Apakah kita hidup untuk diri kita sendiri atau hidup yang diinspirasi oleh\u00a0 cinta dan pelayanan kepada orang lain? Apakah kita berani untuk memberikan diri kita atau bersedia mati untuk orang lain?<\/p>\n<p>Mari kita belajar dari St. Maximilianus\u00a0 untuk selalu ingat akan cinta. \u201c Jangan\u00a0 lupa cinta!\u201d\u00a0 St. Maximilianus Kolbe doakan kami agar kami mampu memilih Tuhan dan cinta dalam hari-hari hidup kami.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin, 14 Agustus 2017 Peringatan Wajib Santo Maksimilianus Maria Kolbe, Imam \u2013 Martir Kitab Ulangan (10:12-22) Bacaan Injil (Matius 17:22-27) &nbsp; \u201cJangan lupa cinta!\u201d Hari ini gereja merayakan peringatan wajib St. Maximilianus Kolbe. Maximilianus Kolbe adalah seorang Fransiskan, Lahir di Polandia 8 Januari 1894 dan menjadi Imam Fransiskan pada tahun 1918. Dia menjadi misionaris dan menyebarkan devosi kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria di Jepang dan India. Setelah kembali dari tanah misi, selama perang dunia II, St. Maximilian Kolbe\u00a0 menyediakan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6735\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6735","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6735","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6735"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6735\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6736,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6735\/revisions\/6736"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6735"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6735"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6735"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}