{"id":6743,"date":"2017-08-17T20:37:35","date_gmt":"2017-08-18T03:37:35","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6743"},"modified":"2017-08-17T20:37:35","modified_gmt":"2017-08-18T03:37:35","slug":"kita-tidak-berjalan-sendiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6743","title":{"rendered":"Kita tidak berjalan sendiri"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jumat, 18 Agustus 2017<\/p>\n<p>Jos 24:1-13; Mat 19:3-12<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kita tidak berjalan sendiri<\/strong><\/p>\n<p>Hidup keluaraga zaman ini dipenuhi dengan begitu banyak tantangan. Tantangan baik dari luar maupun dalam keluarga sendiri menyebabkan banyak perceraian terjadi. Sangat disayangkan begitu banyak keluarga harus mengalami situasi tersebut. Melihat kenyataan tersebut mungkin banyak orang mulai berpikir, kalau hidup keluarga tidak bahagia lebih baik cerai saja. Ini adalah pikiran-pikiran kerdil yang menghantui pikiran banyak orang.<\/p>\n<p>Hari ini orang Farisi dapat mewakili siapa saja yang berpikir tentang perceraian dalam hidup perkawinan. Jawaban yesus hari ini mudah-mudahan bisa meneguhkan kita semua. Yesus dengan tegas menunjukan bahwa dari awal mula Tuhan telah menciptakan pria dan wanita. Pria meninggalkan orang tuanya dan tinggal bersama isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka itu bukan lagi dua, melainkan satu.\u00a0Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah,\u00a0tidak boleh diceraikan manusia.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus sangat jelas menolak adanya perceraian apalagi dengan alasan apa saja untuk menceraikan istinya. Yesus meyakini bahwa pria dan wanita mampu untuk saling mencintai sampai mati.<\/p>\n<p>Ajaran Yesus ini sampai hari ini diteruskan oleh gereja katolik. Gereja sungguh merumuskan ajaran ini dengan sangat jelas untuk membantu setiap keluarga. Perkawinan tidak hanya dilihat sebagai sebuah perjanjian semata, akan tetapi perkawinan diangkat ke tingkat sakreman, dimana setiap pasangan harus menjadi tanda akan kehadiran Tuhan dalam hidup perkawinan mereka. Perkawinan Katolik dipahami sebagai sebuah perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri dan kelahiran serta pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis, yang diangkat oleh Tuhan ke dalam martabat sakramen.<\/p>\n<p>Semoga bacaan hari ini mengingatkan kita kembali akan nilai-nilai hidup berkeluarga dan mudah-mudahan tetap menjadi pedoman dalam membangun keluarga kristiani ditengah berbagai macam tantangan.<\/p>\n<p>Yesus hari ini juga mengajak kita semua, baik hidup berkeluarga atau pun yang hidup sendirian, mari kita berikan yang terbaik yang telah dipercayakan kepada kita oleh Tuhan. Panggilan Tuhan kepada setiap kita\u00a0 kadang dilihat sebagai sesuatu beban, akan tetapi Dia meyakini kita bahwa untuk itulah kita diciptakan dan dipercayai, kita tidak berjalan sendiri, oleh karena itu mari kita jalani dengan gembira dan penuh suka cita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Jumat, 18 Agustus 2017 Jos 24:1-13; Mat 19:3-12 &nbsp; Kita tidak berjalan sendiri Hidup keluaraga zaman ini dipenuhi dengan begitu banyak tantangan. Tantangan baik dari luar maupun dalam keluarga sendiri menyebabkan banyak perceraian terjadi. Sangat disayangkan begitu banyak keluarga harus mengalami situasi tersebut. Melihat kenyataan tersebut mungkin banyak orang mulai berpikir, kalau hidup keluarga tidak bahagia lebih baik cerai saja. Ini adalah pikiran-pikiran kerdil yang menghantui pikiran banyak orang. Hari ini orang Farisi dapat mewakili siapa saja yang berpikir&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6743\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6743","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6743","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6743"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6743\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6744,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6743\/revisions\/6744"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6743"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6743"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6743"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}