{"id":6754,"date":"2017-08-25T00:48:57","date_gmt":"2017-08-25T07:48:57","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6754"},"modified":"2017-08-24T02:06:27","modified_gmt":"2017-08-24T09:06:27","slug":"kasihi-tuhan-dengan-segenap-hatimu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6754","title":{"rendered":"Kasihi Tuhan dengan segenap hatimu"},"content":{"rendered":"<p>Matius 22:34-40<\/p>\n<div class=\"irc_mimg irc_hic iK8gmHJCnNpk-lvVgf-rIiHk\"><a class=\"irc_mil i3597 iK8gmHJCnNpk-zixyDjKkw5M\" tabindex=\"0\" href=\"https:\/\/www.google.com\/url?sa=i&amp;rct=j&amp;q=&amp;esrc=s&amp;source=images&amp;cd=&amp;ved=0ahUKEwjX7aT4we_VAhUBTiYKHWV5CmgQjRwIBw&amp;url=http%3A%2F%2Fpresentonearth.blogspot.com%2F2014%2F10%2Floving-god-and-loving-our-neighbour.html&amp;psig=AFQjCNEfvza0mK_lpVp506yCOOrK3IGgHQ&amp;ust=1503651882830928\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\" data-noload=\"\" data-ved=\"0ahUKEwjX7aT4we_VAhUBTiYKHWV5CmgQjRwIBw\" data-cthref=\"\/url?sa=i&amp;rct=j&amp;q=&amp;esrc=s&amp;source=images&amp;cd=&amp;ved=0ahUKEwjX7aT4we_VAhUBTiYKHWV5CmgQjRwIBw&amp;url=http%3A%2F%2Fpresentonearth.blogspot.com%2F2014%2F10%2Floving-god-and-loving-our-neighbour.html&amp;psig=AFQjCNEfvza0mK_lpVp506yCOOrK3IGgHQ&amp;ust=1503651882830928\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"irc_mi alignleft\" src=\"http:\/\/www.soulaction.org\/wp-content\/uploads\/2014\/01\/love-god-and-love-your-neighbour-2.png\" alt=\"Image result for love your god and your neighbor\" width=\"221\" height=\"258\" \/><\/a><\/div>\n<p>Penulis Injil Matius mengubah kisah percakapan Yesus dalam Injil Markus 12:28-34 menjadi cerita yang lebih dramatis penuh konflik. Dalam Injil Markus, Yesus berdiskusi dengan ahli kitab, dan Markus tak menunjukkan sisi perdebatan atau konflik. Namun Mateus menjadikan kisah itu lebih seru. Dia mengisahkan cerita itu sebagai sebuah ujian. Dikatakan bahwa sang ahli kitab ingin mencobai Yesus dengan bertanya, &#8220;Manakah hukum yang paling utama?&#8221; Bahkan sang ahli kitab memanggil Yesus dengan sebutan Rabi. Sebuah panggilan yang merendahkan karena semua pengikut Yesus memanggil dia &#8220;Tuhan.&#8221;<\/p>\n<p>Yesus menjawabnya dengan menggabungkan dua kitab. Mencintai Allah dengan sungguh-sungguh ada dalam kitab Ulangan 6:4-5, sedangkan mengasihi sesama dikutip dari kitab Imamat 19:18. Yesus membawa hukum yang berada dalam kitab berbeda menjadi satu dan tak terpisahkan. Tidaklah mungkin orang mengasihi Allah tanpa mengasihi sesamanya. Cinta kita pada sesama adalah salah satu wujud dari cinta kita pada Allah.<\/p>\n<p>Santo Yohanes dalam suratnya juga mengatakan hal yang sama: tidak mungkin kita mengasihi Tuhan tapi membenci sesama. Kalau demikian dia adalah seorang pendusta (1 Yoh 4: 20). Namun sering kali orang tak melihat hubungan keduanya. Bahkan mereka berani membunuh sesamanya demi nama Allah. Kejadian teror di Barcelona minggu yang lalu masih meninggalkan duka. Orang mendapat pengajaran yang keliru karena meyakini bahwa dengan membunuh mereka, para teroris ini bisa makin mencintai dan membela Tuhan.<\/p>\n<p>Semoga hari ini kita bisa mengikuti ajaran Santo Yohanes untuk mencintai Allah lewat sesama yang kita temui dalam hidup setiap hari.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Matius 22:34-40 Penulis Injil Matius mengubah kisah percakapan Yesus dalam Injil Markus 12:28-34 menjadi cerita yang lebih dramatis penuh konflik. Dalam Injil Markus, Yesus berdiskusi dengan ahli kitab, dan Markus tak menunjukkan sisi perdebatan atau konflik. Namun Mateus menjadikan kisah itu lebih seru. Dia mengisahkan cerita itu sebagai sebuah ujian. Dikatakan bahwa sang ahli kitab ingin mencobai Yesus dengan bertanya, &#8220;Manakah hukum yang paling utama?&#8221; Bahkan sang ahli kitab memanggil Yesus dengan sebutan Rabi. Sebuah panggilan yang merendahkan karena semua&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6754\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6754","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6754","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6754"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6754\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6755,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6754\/revisions\/6755"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6754"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6754"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6754"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}