{"id":6819,"date":"2017-09-15T11:57:02","date_gmt":"2017-09-15T18:57:02","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6819"},"modified":"2017-09-14T21:57:44","modified_gmt":"2017-09-15T04:57:44","slug":"iman-dan-kepenuhan-hidup","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6819","title":{"rendered":"Iman dan Kepenuhan Hidup"},"content":{"rendered":"<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><b><span lang=\"IN\">Iman dan Kepenuhan Hidup<\/span><\/b><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Sabtu pada Pekan Biasa ke-23<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Peringatan St. Kornelius<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">16 September 2017<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Lukas 6:43-49<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><i><span lang=\"IN\">\u201cMengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?\u00a0 (Luk\u00a06:46)\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Iman berbicara tentang hasrat kita yang terdalam sebagai manusia, kerinduan jiwa kita untuk Tuhan yang akan mengisi kekurangan mendasar di dalam jiwa kita. Melalui iman, kita menemukan Dia yang memberi Makna dalam hidup kita, karena Dia adalah Sang Firman yang mengukir kekosongan jiwa kita. Berbahagialah mereka yang memiliki iman! Sebagai pemazmur bernyanyi<i>, \u201cJiwaku merindukan Tuhan, lebih dari penjaga untuk fajar. Biarkan penjaga menunggu fajar dan Israel pada Tuhan. Karena pada Tuhan ada rahmat kasih setia dan kepenuhan penebusan (Mazmur 130:6-7).\u201d<\/i><\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Untuk memuaskan dahaga kita akan Tuhan, kita melibatkan diri dalam berbagai kegiatan keagamaan. Orang berduyun-duyun ke gereja dimana ada pengkhotbah yang bagus dan perayaan liturgi yang penuh semangat. Lainnya mencari Misa penyembuhan. Lainnya memilih untuk menghadiri kelompok studi Kitab Suci. Yang lain lebih memilih untuk menjadi bagian dari kelompok Doa Karismatik yang energetik. Yang lain cinta akan kesunyian rumah retret dan meditasi Taize. Sementara beberapa lainnya mendukung kekhidmatan dari Misa Latin tradisional. Kita memiliki banyak pilihan dan dapat menentukan mana yang cocok dengan selera kita. <\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Namun, Tuhan mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya tentang kepuasan spiritual pribadi. Jika tidak, kita hanya memperlakukan iman dan agama seperti hiburan duniawi lainnya yang berguna setiap kali kita merasa kering dan bosan. Lebih buruk lagi, iman hanya berfungsi sebagai obat penenang ketika hidup kita berantakan. Inilah mengapa Karl Marx pernah mengatakan bahwa agama adalah candu bagi masa. Iman dan berbagai kegiatan spiritual menjadi cara mudah untuk memenuhi kepentingan egois kita. Tanpa iman yang sejati, kita tidak lagi bisa menerima kepenuhan hidup, tetapi sebaliknya kita terjun ke jurang keputusasaan dan delusi.<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Iman sejati membantu kita menjadi pohon-pohon yang menghasilkan buah-buah yang baik. Iman harus mendorong kita untuk bertindak nyata dalam hidup kita sehari-hari dan untuk mengasihi orang lain lebih dalam. Sungguh menyedihkan jika kita menghadiri kegiatan di paroki dengan semangat hanya untuk menghindari permasalahan di rumah, atau kita menikmati persekutuan doa tetapi kita tidak terlibat dalam perjuangan Gereja melawan ketidakadilan dan kemiskinan dalam masyarakat. Iman harus menjadi sumber kesuburan kehidupan. <\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><i><span lang=\"IN\">&#8220;Ite missa est!&#8221;<\/span><\/i><span lang=\"IN\"> Adalah kalimat Latin terakhir yang diucapkan imam di dalam perayaan Ekaristi. Ini kira-kira berarti \u201cPergi, kita diutus!\u201d Ekaristi, puncak dan sumber kehidupan rohani kita, memerintahkan kita untuk tidak sekedar tinggal di dalam ibadah dan gedung gereja, tetapi untuk pergi ke dunia dan membawa buah dari doa kita kepada orang lain. Dalam <i>World Youth Day<\/i> di Brazil, Paus Fransiskus mengatakan kepada para pemuda katolik untuk tidak hanya untuk membuat hiruk pikuk selama perayaan <i>WYD<\/i>, melainkan untuk membuat hiruk-pikuk mereka terdengar di paroki-paroki, keuskupan-keuskupan dan masyarakat mereka sendiri. Pertemuan dengan Allah seharusnya membawa kita menjadi agen perubahan dalam hidup. Iman adalah sumber kekuatan dari transformasi di dalam hidup, keluarga dan masyarakat. Hidupilah iman kita secara penuh dan nikmatilah kepenuhan hidup!<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydp72f40d3cyiv6775497145ydp1e7ec376MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Iman dan Kepenuhan Hidup \u00a0 Sabtu pada Pekan Biasa ke-23 Peringatan St. Kornelius 16 September 2017 Lukas 6:43-49 \u00a0 \u201cMengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?\u00a0 (Luk\u00a06:46)\u201d \u00a0 Iman berbicara tentang hasrat kita yang terdalam sebagai manusia, kerinduan jiwa kita untuk Tuhan yang akan mengisi kekurangan mendasar di dalam jiwa kita. Melalui iman, kita menemukan Dia yang memberi Makna dalam hidup kita, karena Dia adalah Sang Firman yang mengukir kekosongan jiwa kita. Berbahagialah&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6819\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6819","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6819","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6819"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6819\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6820,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6819\/revisions\/6820"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6819"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6819"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6819"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}