{"id":6868,"date":"2017-09-24T11:23:21","date_gmt":"2017-09-24T18:23:21","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6868"},"modified":"2017-09-24T07:24:37","modified_gmt":"2017-09-24T14:24:37","slug":"memancarkan-terang-kasih-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6868","title":{"rendered":"MEMANCARKAN TERANG KASIH ALLAH"},"content":{"rendered":"<p><strong>Senin, 25 September 2017<\/strong><\/p>\n<p><strong>[<\/strong><strong>Ezr. 1:1-6; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Luk. 8:16-18<\/strong><strong>]<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>MEMANCARKAN TERANG KASIH ALLAH<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Paus Fransiskus pernah mengeluarkan sebuah surat apostolik berjudul: Evangelii Gaudium, yang dalam bahasa Indonesia berarti: \u201cSukacita Injil\u201d Namun, kalau dicermati, judul ini agak \u2018aneh\u2019, karena pada dasarnya Injil sendiri berarti: \u2018kabar sukacita\u2019, sehingga terkesan ada pendobelan, dan secara harafiah, Evangelii Gaudium berarti: \u2018sukacita kabar sukacita\u2019. Benar kan? Terkesan berlebihan. Namun, bisa jadi Paus Fransiskus hendak menggemakan lagi arti makna dari Injil itu sendiri, yaitu kabar keselamatan akan Kerajaan Allah adalah sungguh kabar sukacita penuh kegembiraan. Barangkali, selama ini, \u2018sukacita Injil\u2019 kurang nampak dan kurang greget dalam kehidupan orang kristiani. Kehidupan, rasa-rasanya kehidupan kita masih didominasi oleh salib, alias penderitaan. Mungkin kita lupa bahwa setelah salib ada kebangkitan, dan itu berarti ada keselamatan yang membawa sukacita. Seolah-olah ada sesuatu yang disembunyikan dan tidak ditonjolkan, dan Paus Fransiskus, hendak mengajak Gereja dan umat Allah untuk mewartakan sukacita yang selama ini masih saja \u2018tersembunyi\u2019 tersebut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hari ini Yesus menyampaikan perumpamaan tentang pelita: \u201cTidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak dinyatakan dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.\u201d Kabar keselamatan akan Kerajaan Allah, bukanlah sesuatu yang hendak disimpan untuk diri sendiri jika kita memang sudah memilikinya, namun hendaknya diwartakan seluas-luasnya kepada siapa pun, lewat pikiran, perkataan dan perbuatan kita; dan dalam berbagai kesempatan yang kita miliki. Hidup kita selalu bersinggungan dengan berbagai macam pengalaman dan peristiwa, dan harapannya setiap pengalaman dan peristiwa itu dapat menghadirkan kehadiran Kerajaan Allah, karena kita yang turut ambil bagian dalam pewartaanNya. Semoga, hati dan jiwa kita makin terang, karena terang kasih Allah sendiri yang menjadi kekuatannya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Selamat pagi, selamat menjadi terang kasih Allah di mana pun. GBU.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Senin, 25 September 2017 [Ezr. 1:1-6; Mzm. 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Luk. 8:16-18] \u00a0 MEMANCARKAN TERANG KASIH ALLAH &nbsp; Paus Fransiskus pernah mengeluarkan sebuah surat apostolik berjudul: Evangelii Gaudium, yang dalam bahasa Indonesia berarti: \u201cSukacita Injil\u201d Namun, kalau dicermati, judul ini agak \u2018aneh\u2019, karena pada dasarnya Injil sendiri berarti: \u2018kabar sukacita\u2019, sehingga terkesan ada pendobelan, dan secara harafiah, Evangelii Gaudium berarti: \u2018sukacita kabar sukacita\u2019. Benar kan? Terkesan berlebihan. Namun, bisa jadi Paus Fransiskus hendak menggemakan lagi arti makna dari Injil itu sendiri, yaitu&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6868\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6868","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6868","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6868"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6868\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6869,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6868\/revisions\/6869"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6868"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6868"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6868"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}