{"id":6886,"date":"2017-10-03T12:20:32","date_gmt":"2017-10-03T19:20:32","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6886"},"modified":"2017-09-30T20:21:30","modified_gmt":"2017-10-01T03:21:30","slug":"komitmen-kemuridan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6886","title":{"rendered":"KOMITMEN KEMURIDAN"},"content":{"rendered":"<p><strong>Rabu, 4 Oktober 2017<\/strong><\/p>\n<p><strong>Peringatan Wajib St. Fransiskus Asisi <\/strong><\/p>\n<p>Nehemia 2:1-8; Mazmur 137:1-6; Lukas 9:57-62<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>KOMITMEN KEMURIDAN<\/strong><\/p>\n<p>Kisah para murid berlanjut. Semakin hari Yesus semakin terkenal karena karya dan pengajaran-Nya. Yesus menjadi viral; menjadi bahan perbincangan banyak orang. Orang berbondong-bondong ingin melihat dan berjumpa dengan-Nya. Ada yang ingin disembuhkan, ada pula yang ingin mendengarkan pengajaran-Nya. Karena karya dan pengajaran-Nya itu, semakin banyak orang yang ingin mengikuti Yesus. Semakin banyak orang ingin menjadi murid Yesus. Tapi, apa kata Yesus terhadap mereka yang ingin mengikuti-Nya?<\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, setidaknya ada tiga jawaban Yesus kepada mereka yang ingin mengikuti-Nya. Jawaban Yesus yang pertama adalah: \u201cSerigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.\u201d Yang kedua adalah: \u201cBiarkanlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah, dan wartakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.\u201d Sementara yang ketiga adalah: \u201cSetiap orang yang membajak, tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.\u201d<\/p>\n<p>Sekilas, jawaban-jawaban Yesus itu terasa kurang enak didengar. Betapa tidak mudahnya menjadi murid Yesus. Tapi, dengan jawaban-jawaban itu Yesus ingin menunjukkan laku kemuridan yang harus ditempuh setiap orang yang ingin mengikuti-Nya. Jawaban pertama menunjukkan bagaimana tidak ada jaminan kenyamanan bagi seorang murid. Jawaban kedua ingin mengatakan bahwa seorang murid harus siap melepas ikatan-ikatan duniawi dan mempercayakan semuanya pada penyelenggaraan Allah. Sementara jawaban ketiga mengajak setiap murid untuk mau meninggalkan masa lalunya dan menyambut masa depan, yaitu hidup baru bersama Yesus.<\/p>\n<p>Menjadi murid Yesus bukanlah jalan hidup yang sembarangan dan asal-asalan. Jalan ini menjanjikan banyak rahmat, tapi sekaligus memberi perutusan yang tidak main-main. Menjadi murid Yesus berarti mengusahakan hidup yang seturut dengan hidup-Nya. Inilah yang secara manusiawi bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Jawaban-jawaban Yesus dalam Injil hari ini menuntut adanya komitmen yang kuat dalam diri para murid dalam mengikuti-Nya. Banyak risiko kemuridan yang harus dialami oleh seorang murid. Karenanya, tanpa komitmen yang kuat dan mantap, orang hanya sekedar ikut-ikutan, bukan sungguh mengikuti Yesus.<\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em><\/p>\n<p><em>Seberapa mantapkah aku menjadi murid Yesus? Seberapa kuatkah komitmenku mengikuti-Nya?<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rabu, 4 Oktober 2017 Peringatan Wajib St. Fransiskus Asisi Nehemia 2:1-8; Mazmur 137:1-6; Lukas 9:57-62 &nbsp; KOMITMEN KEMURIDAN Kisah para murid berlanjut. Semakin hari Yesus semakin terkenal karena karya dan pengajaran-Nya. Yesus menjadi viral; menjadi bahan perbincangan banyak orang. Orang berbondong-bondong ingin melihat dan berjumpa dengan-Nya. Ada yang ingin disembuhkan, ada pula yang ingin mendengarkan pengajaran-Nya. Karena karya dan pengajaran-Nya itu, semakin banyak orang yang ingin mengikuti Yesus. Semakin banyak orang ingin menjadi murid Yesus. Tapi, apa kata Yesus terhadap&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6886\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6886","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6886","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6886"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6886\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6887,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6886\/revisions\/6887"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6886"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6886"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6886"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}