{"id":6904,"date":"2017-10-09T12:53:13","date_gmt":"2017-10-09T19:53:13","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6904"},"modified":"2017-10-08T08:54:02","modified_gmt":"2017-10-08T15:54:02","slug":"pilihlah-hidupmu-dan-hidupilah-pilihanmu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6904","title":{"rendered":"Pilihlah Hidupmu dan Hidupilah Pilihanmu"},"content":{"rendered":"<p><strong>Selasa, 10 Oktober 2017<\/strong><\/p>\n<p><strong>Hari Biasa<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bacaan I\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <strong>Yunus 3: 1-10<\/strong><\/p>\n<p>Bacaan Injil\u00a0\u00a0\u00a0 <strong>Lukas 10: 38-42<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><u>Pilihlah Hidupmu dan Hidupilah Pilihanmu<\/u><\/strong><\/p>\n<p>Maria dan Marta adalah simbol cinta kepada Tuhan yang terwujud dalam dua cara, yakni kontemplatif dan aksi. Ada orang yang memilih membaktikan diri kepada Tuhan melalui hidup jauh dari keramaian, mencari tempat sepi untuk khusyuk berdoa, dan benar-benar mencurahkan perhatiannya kepada Tuhan saja. Namun, ada pula orang yang memilih membaktikan diri kepada Tuhan melalui berbagai tindak kebaikan yang diperbuatnya. Setiap tindakan baik mereka maknai sebagai cara mengasihi Tuhan secara militan. Tentu, tidak ada yang salah di antara kedua bentuk atau cara tersebut. Seperti halnya Maria dan Marta, sebenarnya tidak ada yang ganjil dalam sikap mereka tatkala menyikapi kehadiran Yesus di rumahnya. Namun, terkadang kita hidup dengan tidak meninggalkan sikap-sikap manusiawi kita. Di sana ada iri hati, cemburu, mudah mencari kesalahan orang lain dan ingin menang sendiri. Karena sikap-sikap macam itulah Marta merasa apa yang dilakukan Maria kurang tepat dalam pandangannya.<\/p>\n<p>Di akhir Injil, Yesus berkata bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya. Maria sudah memantapkan hatinya untuk memilih apa yang dia tentukan. Hidup kita itu sebenarnya merupakan rangkaian dari berbagai pilihan. Segala kisah yang kita alami merupakan hasil dan resiko dari pilihan-pilihan yang kita ambil itu. Di bacaan pertama, raja dan rakyat Niniwe memilih untuk bertobat dari kehidupan masa lalu mereka, maka akibatnya Allah tidak jadi menghukum mereka. Allah justru menyesal telah merancang malapetaka bagi mereka. Maria juga demikian. Dia memilih untuk duduk di dekat kaki Tuhan, diam dan mendengarkan. Dia memosisikan diri sebagai murid, yang setia di dekat kaki-Nya dan tekun dalam ajaran-Nya. \u00a0Sekali lagi, hidup kita adalah serangkaian pilihan dan memuat konsekuensi di dalamnya.<\/p>\n<p>Maka, melalui Sabda hari ini, kita bisa bertanya diri apakah selama ini kita sudah menghidupi berbagai pilihan yang telah kita tentukan? Apakah kita juga sudah berani menanggung resiko dan konsekuensi dari pilihan-pilihan itu? Kalau kita sadar akan resiko dan konsekuensi tersebut, niscaya kita tidak akan pernah merasa iri dengan orang lain sehingga kita dapat hidup dengan damai dan bahagia. Maka, pilihlah hidupmu dan hidupilah pilihanmu. Semoga Tuhan memberkati kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selasa, 10 Oktober 2017 Hari Biasa &nbsp; Bacaan I\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Yunus 3: 1-10 Bacaan Injil\u00a0\u00a0\u00a0 Lukas 10: 38-42 &nbsp; Pilihlah Hidupmu dan Hidupilah Pilihanmu Maria dan Marta adalah simbol cinta kepada Tuhan yang terwujud dalam dua cara, yakni kontemplatif dan aksi. Ada orang yang memilih membaktikan diri kepada Tuhan melalui hidup jauh dari keramaian, mencari tempat sepi untuk khusyuk berdoa, dan benar-benar mencurahkan perhatiannya kepada Tuhan saja. Namun, ada pula orang yang memilih membaktikan diri kepada Tuhan melalui berbagai tindak kebaikan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6904\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6904","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6904","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6904"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6904\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6905,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6904\/revisions\/6905"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6904"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6904"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6904"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}