{"id":6906,"date":"2017-10-10T11:54:26","date_gmt":"2017-10-10T18:54:26","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6906"},"modified":"2017-10-08T08:55:09","modified_gmt":"2017-10-08T15:55:09","slug":"keindahan-dan-kenikmatan-doa-bapa-kami","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6906","title":{"rendered":"Keindahan dan Kenikmatan Doa Bapa Kami"},"content":{"rendered":"<p><strong>Rabu, 11 Oktober 2017<\/strong><\/p>\n<p><strong>Hari Biasa<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bacaan I\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <strong>Yunus 4: 1-11<\/strong><\/p>\n<p>Bacaan Injil\u00a0\u00a0\u00a0 <strong>Lukas 11: 1-4<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><u>Keindahan dan Kenikmatan Doa Bapa Kami<\/u><\/strong><\/p>\n<p>Tidak dapat disangkal bahwa doa Bapa Kami merupakan doa dasar yang diajarkan kepada kita sejak kita kecil. Doa ini begitu populer dan sudah dihafal di luar kepala. Setahu saya, Bapa Kami merupakan doa yang mempunyai banyak variasi pola lagu. Nampak-nampaknya memang doa Bapa Kami merupakan doa yang sangat mewakili realitas kehidupan kita di dunia. Maka, banyak orang menyebut Bapa Kami sebagai doa yang paling sempurna. Kesempurnaannya itu bisa kita lihat di dalam Injil hari ini. Doa Bapa Kami mengungkapkan kerinduan manusia untuk berelasi dengan Allah; untuk mendapatkan rejeki sehari-hari; dan membangun relasi dengan sesama berbekal semangat mengampuni sesama. Sungguh, doa Bapa Kami mampu merangkum segala kebutuhan dasariah kita sebagai manusia sekaligus umat Allah.<\/p>\n<p>Saya tertarik pada perkataan seorang murid Yesus \u201cTuhan, ajarlah kami berdoa sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridNya\u201d. Kesan saya, para murid masih merindukan kepuasan batin untuk sampai pada doa yang memberi kelegaan. Mereka meminta Yesus mengajari berdoa. Meskipun mereka sudah sedemikian akrab dan intim dalam hidup bersama dengan Yesus, tetapi mereka masih membutuhkan pendarasan doa untuk kepuasan batin mereka sendiri. Hal ini saya rasakan sebagai sikap kerendahan hati para murid. Bahwa, doa menjadi bahan bakar mereka untuk tetap setia pada perutusan sebagai murid Yesus. Segala pelayanan yang mereka lakukan atas nama Yesus masih harus dimotivasi oleh kekuatan batin yang berasal dari intimitas berdoa. Kebijaksanaan ditunjukkan oleh Yesus dengan mengajari mereka berdoa Bapa Kami. Di situ tidak ada doa yang berbuih, tetapi sangat konkret menyentuh kehidupan riil para murid.<\/p>\n<p>Pertanyaan yang bisa kita renungkan adalah bagaimana selama ini aku telah menghormati doa Bapa Kami? Pernahkah aku merasakan kenikmatan berdoa Bapa Kami dengan pelan, tenang dan teduh? Atau, jangan-jangan karena telah demikian populer maka kita tidak lagi memahami makna terdalam dari doa Bapa Kami itu? Semoga hari ini kita menerima kepuasan batin dalam menghayati doa Bapa Kami sebagai doa keindahan dan keagungan karena merupakan pemberian Tuhan Yesus sendiri. Semoga Tuhan memberkati kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rabu, 11 Oktober 2017 Hari Biasa &nbsp; Bacaan I\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Yunus 4: 1-11 Bacaan Injil\u00a0\u00a0\u00a0 Lukas 11: 1-4 &nbsp; Keindahan dan Kenikmatan Doa Bapa Kami Tidak dapat disangkal bahwa doa Bapa Kami merupakan doa dasar yang diajarkan kepada kita sejak kita kecil. Doa ini begitu populer dan sudah dihafal di luar kepala. Setahu saya, Bapa Kami merupakan doa yang mempunyai banyak variasi pola lagu. Nampak-nampaknya memang doa Bapa Kami merupakan doa yang sangat mewakili realitas kehidupan kita di dunia. Maka, banyak&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6906\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6906","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6906","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6906"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6906\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6907,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6906\/revisions\/6907"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6906"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6906"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6906"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}