{"id":6910,"date":"2017-10-12T11:56:32","date_gmt":"2017-10-12T18:56:32","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6910"},"modified":"2017-10-08T08:57:03","modified_gmt":"2017-10-08T15:57:03","slug":"hidup-dalam-iman-dan-percaya-kepada-tuhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6910","title":{"rendered":"Hidup dalam Iman dan Percaya kepada Tuhan"},"content":{"rendered":"<p><strong>Jumat, 13 Oktober 2017<\/strong><\/p>\n<p><strong>Hari Biasa<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bacaan I\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <strong>Yoel 1: 13-15; 2: 1-2<\/strong><\/p>\n<p>Bacaan Injil\u00a0\u00a0\u00a0 <strong>Lukas 11: 15-26<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><u>Hidup dalam Iman dan Percaya kepada Tuhan<\/u><\/strong><\/p>\n<p>Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan perlunya bagi kita untuk mengerti dengan hati sikap dasar sebagai murid yaitu percaya dan beriman. Percaya merupakan kunci terciptanya sebuah relasi yang intim dan akhirnya pada iman. Yesus mengajarkan tentang iman sebesar biji sesawi sudah cukup untuk menjadi pedoman hidup kita. Berkaitan dengan iman ini, saya selalu bercermin pada umat di daerah pedesaan. Di sana, umat sangat mengimani Yesus sebagai Sumber Hidup. Mereka beriman tanpa perlu teori teologis dan biblis. Bagi mereka, iman adalah tentang kepercayaan; maka percaya kepada Yesus semata adalah kekayaan mutlak yang mereka pegang. Dengan iman yang sederhana itu, mereka hidup dengan damai. Mereka tidak khawatir akan rejeki setiap hari karena Tuhan pasti akan mencukupkan kebutuhan mereka. Iman yang sederhana itu menggerakkan mereka untuk dengan sukacita tekun berkumpul, bahkan di bulan Oktober dan Mei rela berkumpul di salah satu rumah untuk bersama-sama berdevosi Rosario. Saya sangat kagum dengan sikap hati orang-orang di pedesaan itu, bahkan terkadang saya menangis karena iman saya sebetulnya belumlah sebesar yang mereka miliki. Terkadang, saya masih membenturkan iman dengan rasionalitas pribadi; masih mengukur rencana ilahi dengan kadar pemikiran saya sebagai manusia.<\/p>\n<p>Dengan memiliki iman yang teguh, sama artinya dengan kita membiarkan Allah bekerja memimpin diri kita. Dari situ kita akan senantiasa sadar bahwa jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang benar, yang tepat dan yang sungguh sesuai kebutuhan kita. Berbeda dengan orang-orang dalam Injil hari ini dimana mereka mencoba mengomentari mukjizat pengusiran setan oleh Yesus. Mereka berkomentar, bereaksi dan terkesan mencibir apa yang telah diperbuat Yesus. Tak ada satupun ucapan syukur dan takjub keluar dari mulut mereka karena mereka tidak percaya kepada Yesus. Mereka jelas tidak mempunyai pondasi iman sehingga mudah diombang-ambingkan keadaan. Keuntungan kita memiliki iman adalah kita mampu bertahan dalam segala situasi hidup. Iman adalah pegangan, <em>soko guru<\/em> dan kekuatan. Iman itulah yang akan menyelamatkan kita dari segala macam pencobaan. Demikianlah, mari kita semakin mengasah iman kita dengan jernih dan meletakkan kepercayaan kepada Tuhan kita. Tuhan masih selalu ingin berperkara dengan kita, tetapi kita mempunyai iman yang senantiasa menjaga dan membawa kita tetap di jalan yang benar. Semoga Tuhan memberkati kita.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumat, 13 Oktober 2017 Hari Biasa &nbsp; Bacaan I\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Yoel 1: 13-15; 2: 1-2 Bacaan Injil\u00a0\u00a0\u00a0 Lukas 11: 15-26 &nbsp; Hidup dalam Iman dan Percaya kepada Tuhan Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan perlunya bagi kita untuk mengerti dengan hati sikap dasar sebagai murid yaitu percaya dan beriman. Percaya merupakan kunci terciptanya sebuah relasi yang intim dan akhirnya pada iman. Yesus mengajarkan tentang iman sebesar biji sesawi sudah cukup untuk menjadi pedoman hidup kita. Berkaitan dengan iman ini, saya selalu&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6910\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6910","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6910","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6910"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6910\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6911,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6910\/revisions\/6911"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}