{"id":6912,"date":"2017-10-13T11:57:25","date_gmt":"2017-10-13T18:57:25","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6912"},"modified":"2017-10-08T08:58:03","modified_gmt":"2017-10-08T15:58:03","slug":"menyediakan-hati-bagi-sabda-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6912","title":{"rendered":"Menyediakan Hati bagi Sabda Allah"},"content":{"rendered":"<p><strong>Sabtu, 14 Oktober 2017<\/strong><\/p>\n<p><strong>Hari Biasa<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bacaan I\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <strong>Yoel 3: 12-21<\/strong><\/p>\n<p>Bacaan Injil\u00a0\u00a0\u00a0 <strong>Lukas 11: 27-28<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><u>Menyediakan Hati bagi Sabda Allah<\/u><\/strong><\/p>\n<p>\u201cYang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya\u201d. \u00a0Kata-kata yang diucapkan Yesus ini sangat jelas dan tegas. Hari ini saya menawarkan kepada kita semua untuk menyiapkan hati bagi lahan kesuburan pewartaan sabda Allah. Mendengarkan dengan hati tentu berbeda maknanya daripada hanya sekadar mendengarkan melalui telinga. Kita memang bukan seperti anjing yanag mampu mendengar sebuah suara dari jarak yang cukup jauh hanya dengan kedua telinga mereka saja. Kita kalah dengan anjing; tetapi kita mempunyai hati yang sanggup mendengarkan berbagai kisah dan amanat hidup dengan perasaan, kepekaan dan tentu saja kesungguhan budi. Di dalam hati terkandung unsur kemanusiawian kita untuk berempati, bereaksi dan tersentuh. Bukankah sabda Allah menjadi bergema jika sanggup menggerakkan kita menuju suatu perubahan hidup yang konkret? Sebagai contoh, jika setiap minggu kita pulang dari Gereja, tetapi setelah itu kita tetap berkubang dalam kedosaan, mudah berkompromi dengan godaan-godaan roh jahat dan tidak mengalami perubahan hidup yang signifikan; itu berarti kita masih mendengarkan sabda Allah dengan telinga. Di situ kita belum melibatkan peran hati untuk juga mencecap sabda yang kita dengar. Modal untuk bisa mendengarkan dengan hati terletak pada iman kepercayaan kita akan apa yang diwartakan oleh Tuhan sendiri.<\/p>\n<p>Saya selalu mencermati setiap kali ada tahbisan diakon dan imam, atau kaul bagi para biarawan\/i, pastilah di sana ada kutipan ayat-ayat Kitab Suci sebagai tema yang mampu mewakili rasa-perasaan mereka atas karunia Allah. Begitu juga ada banyak umat yang mengambil motto hidupnya dari Kitab Suci. Di situlah saya menyaksikan betapa kekuatan sabda telah mengubah hidup setiap orang. Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang mampu mendengarkan sabda Allah dengan hati dan memeliharanya. Namun, sabda Allah akan sia-sia belaka dan tidak berbuah jika kita tidak menanggapinya dengan suatu perbuatan. Terkadang, apa yang tertulis dalam sabda itu sangat mustahil kita lakukan, tetapi selalu ada prakarsa ilahi yang akhirnya memampukan kita untuk berbuat seturut sabda itu.<\/p>\n<p>Maka, mari kita memurnikan batin dan hati untuk sungguh-sungguh menjadi lahan pewartaan sabda Allah. Semoga kita selalu diperbarui oleh karena hati kita yang menerima dan mendengarkan sabda itu. Apapun yang telah kita dapatkan, banyak atau sedikit, hebat atau tidak, marilah kita buka hati sambil mengucapkan syukur dan menyeimbangkan kehendak dengan rencana Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kita.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sabtu, 14 Oktober 2017 Hari Biasa &nbsp; Bacaan I\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Yoel 3: 12-21 Bacaan Injil\u00a0\u00a0\u00a0 Lukas 11: 27-28 &nbsp; Menyediakan Hati bagi Sabda Allah \u201cYang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan memeliharanya\u201d. \u00a0Kata-kata yang diucapkan Yesus ini sangat jelas dan tegas. Hari ini saya menawarkan kepada kita semua untuk menyiapkan hati bagi lahan kesuburan pewartaan sabda Allah. Mendengarkan dengan hati tentu berbeda maknanya daripada hanya sekadar mendengarkan melalui telinga. Kita memang bukan seperti anjing yanag mampu mendengar sebuah suara&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6912\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6912","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6912","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6912"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6912\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6913,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6912\/revisions\/6913"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6912"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6912"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6912"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}