{"id":6920,"date":"2017-10-25T12:14:43","date_gmt":"2017-10-25T19:14:43","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=6920"},"modified":"2017-10-10T12:15:17","modified_gmt":"2017-10-10T19:15:17","slug":"kamis-pekan-biasa-xxix","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6920","title":{"rendered":"Kamis Pekan Biasa XXIX"},"content":{"rendered":"<p>Kamis Pekan Biasa XXIX<\/p>\n<p>Bacaan: Roma 6:19-23; Lukas 12:49-53<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini terdengar ekstrim bagi kita yang mendengarnya. \u201c<em>Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa aku harapkan, api itu selalu menyala!<\/em>\u201d ay 49. Apa kira-kira yang dimaksudkan dengan \u201cAPI\u201d oleh Yesus?? Yesus memaksudkan API itu sebagai semangat baru. Yesus menghendaki agar semangat baru itu membakar dan menghanguskan cara hidup lama yang menghambat perkembangan hidup dan iman seseorang. Dalam hal ini, api yang dilemparkan oleh Yesus itu telah menyala dan menimbulkan reaksi keras dari orang Farisi dan Ahli Taurat yang <em>nota bene<\/em> menjadi penyebar cara hidup lama. Mereka kebakaran jenggot karena kegelapan dan kemunafikan hidup mereka terkena terang dari api Yesus. Kehadiran dan ajaran Yesus menjadi tanda perbantahan antara pengikut semangat lama dan semangat baru. Maka dalam konteks ini, sabda Yesus berikut ini menjadi mudah untuk kita pahami, \u201c<em>Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan<\/em>\u201d ay 51. Di sini ditegaskan bahwa damai yang ditawarkan oleh Yesus berbeda dengan damai yang disodorkan oleh dunia. Dalam pengertian dunia \u201cdamai\u201d itu bisa dibeli. <u>Contohnya:<\/u> Orang dibungkam dengan uang atau kekerasan supaya tidak menyuarakan keadilan. Memang, kedamaian bisa terjadi dengan cara itu. Akan tetapi, kedamaian tersebut bersifat semu. Kedamaian yang dikehendaki Yesus adalah suasana hidup yang dipenuhi dengan kejujuran dan keberanian untuk menghayati kebenaran. Hidup dengan cara demikian tidaklah mudah. Untuk itu, para pendengar sabda Yesus ini diajak memikirkan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Yesus. Mereka ditantang untuk bersikap tegas yaitu: memilih dan menghayati sabda Yesus dalam hidupnya atau menolaknya. Semangat baru yang dibawa oleh Tuhan Yesus membawa konsekuensi yang tidak ringan. Keputusan diserahkan kepada kita semua: mau berjuang untuk menghayati cara hidup baru ataukah tetap tinggal dalam cara hidup yang lama?? Semoga Tuhan menuntun kita ke dalam terangNya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kamis Pekan Biasa XXIX Bacaan: Roma 6:19-23; Lukas 12:49-53 &nbsp; Sabda Yesus dalam bacaan Injil hari ini terdengar ekstrim bagi kita yang mendengarnya. \u201cAku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapa aku harapkan, api itu selalu menyala!\u201d ay 49. Apa kira-kira yang dimaksudkan dengan \u201cAPI\u201d oleh Yesus?? Yesus memaksudkan API itu sebagai semangat baru. Yesus menghendaki agar semangat baru itu membakar dan menghanguskan cara hidup lama yang menghambat perkembangan hidup dan iman seseorang. Dalam hal ini, api yang dilemparkan&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=6920\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-6920","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6920","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=6920"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6920\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6921,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/6920\/revisions\/6921"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=6920"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=6920"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=6920"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}