{"id":7111,"date":"2017-12-25T10:00:08","date_gmt":"2017-12-25T18:00:08","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7111"},"modified":"2017-12-23T10:01:29","modified_gmt":"2017-12-23T18:01:29","slug":"edisi-khusus-natal-santo-yusuf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7111","title":{"rendered":"Edisi khusus Natal: Santo Yusuf"},"content":{"rendered":"<p>Santo Yusuf<\/p>\n<p>Matius 1 : 18-25<\/p>\n<p>Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, sebuah pepatah kuno mengatakan demikian : \u00ab Jika Anda ragu-ragu, jangan pernah Anda membuat keputusan \u00bb. sebenarnya di balik kata-kata bijak ini tersimpan suatu kebenaran yang sangat mendasar yaitu bahwa banyak kegagalan, kecelakaan, dan kelalaian terjadi karena seseorang membuat keputusan saat ia ragu-ragu. Baik bila saat kita mengalami keraguan, duduk hening, merenungkan langkah terbaik yang harus kita lakukan. Apabila hati kita sudah mantap, lakukanlah keputusan itu tanpa harus ragu-ragu, pasti keputusan yang kita ambil adalah benar.<\/p>\n<p>Kebenaran dalam pemikiran ini dapat kita lihat dalam kisah hidup Santo Yusuf, suami santa Perawan Maria, Bapa pelindung Tuhan kita Yesus Kristus. Saat ia bertunangan dengan Maria, ternyata ia mendapati bahwa Maria telah mengandung tanpa campur tangannya. Maka sebagai seorang yang tulus, dan tentu saja gentle man, ia merenung mengapa hal itu bisa terjadi. Saat ia merenung, dalam situasi ragu antara menceraikan dan tidak menceraikan ia mendapat kabar dari Tuhan bahwa anak yang dikandung oleh tunangannya, Maria adalah dari Roh Kudus. Setelah mendapat kabar ini maka iapun mantap mengambil Maria sebagai istrinya, dan tentu saja Yesus sebagai anaknya.<\/p>\n<p>Keputusan Yususf untuk mengambil Maria sebagai istrinya dan Yesus sebagai anaknya adalah keputusan yang besar dan berat. Namun ia melakukannya karena ia telah merenungkan dengan sungguh-sungguh. Keputusannya ini didorong oleh ketulusannya untuk mendengarkan suara Tuhan. Sikapnya yang terbuka pada suara Allah membuat ia damai, lapang dada, dan tulus iklas. Sikap Santo Yususf inilah yang sebenarnya harus selalu kita buat, yaitu mau terbuka pada suara Allah yang selalu menyapa kita. Jika kita selalu terbuka pada suara Allah maka kedamaian menguasai diri kita, dan bila kedamaian menguasai diri kita maka suka cita, ketulusan dan rasa berserah mengendalikan hidup kita. Kita sungguh percaya bila suka cita, ketulusan dan berserah ada dalam diri kita maka sikap inipun akan menular pada sesama kita. Kita bias bayangkan jika semua orang memiliki sikap demikian, tentunya keluarga kita, masyarakat bahkan dunia kita menjadi tempat yang baik dan benar untuk didiami. Jika sikap ini ada dalam setiap orang maka tak akan lagi yang namanya kejahatan, kelaparan, kebencian dan lain sebagainya. Namun keadaan ini hanya dapat tercipta dengan satu syarat, kita mau mendengarkan suara Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh santo Yusuf.<\/p>\n<p>Saaudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, kiranya damai sejahtera senantiasa menguasai diri kita. Kiranya pula Sang Raja Damai Yesus Kristus juga senantiasa memerintah hidup kita, keluarga dan bahkan dunia kita dengan damai sejahtera. Selamat Natal dan tahun baru. Tuhan memberkati selalu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Santo Yusuf Matius 1 : 18-25 Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, sebuah pepatah kuno mengatakan demikian : \u00ab Jika Anda ragu-ragu, jangan pernah Anda membuat keputusan \u00bb. sebenarnya di balik kata-kata bijak ini tersimpan suatu kebenaran yang sangat mendasar yaitu bahwa banyak kegagalan, kecelakaan, dan kelalaian terjadi karena seseorang membuat keputusan saat ia ragu-ragu. Baik bila saat kita mengalami keraguan, duduk hening, merenungkan langkah terbaik yang harus kita lakukan. Apabila hati kita sudah mantap, lakukanlah keputusan itu tanpa harus ragu-ragu,&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7111\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7111","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7111","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7111"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7111\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7112,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7111\/revisions\/7112"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7111"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7111"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7111"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}