{"id":7125,"date":"2017-12-26T11:40:09","date_gmt":"2017-12-26T19:40:09","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7125"},"modified":"2017-12-26T09:41:00","modified_gmt":"2017-12-26T17:41:00","slug":"murid-yang-dikasihi-yesus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7125","title":{"rendered":"Murid yang Dikasihi Yesus"},"content":{"rendered":"<div class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\">(bahasa Indonesia)<\/div>\n<div class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\">Murid yang Dikasihi Yesus<\/div>\n<p class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\"><span lang=\"IN\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Pesta St. Yohanes, Rasul dan Penginjil<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\"><span lang=\"IN\">27 Desember 2017<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Yohanes 20: 1-8<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\"><span lang=\"IN\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Hari ini, kita merayakan pesta Santo Yohanes, Rasul dan Penginjil. Dia adalah saudara<\/span> dari<span lang=\"IN\"> Yakobus, anak-anak Zebedeus. Tradisi mengatakan bahwa meskipun mengalami penganiayaan, ia menikmati hidup yang panjang, dan menghabiskan hari-hari terakhirnya di Efesus, merawat Maria, Bunda Yesus. Injil keempat dan tiga surat katolik dikaitkan dengannya, dan mungkin ini adalah kontribusi terbesarnya. Dalam Injilnya, identitas Yesus sebagai Firman ilahi yang menjadi daging, diungkapkan dan diwartakan secara eksplisit. Dalam suratnya, kita menemukan esensi Tuhan yakni kasih<\/span> (1 Yoh 4:8)<span lang=\"IN\">.<\/span><\/p>\n<p class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\"><span lang=\"IN\">Dia juga disebut sebagai murid yang dikasihi Yesus. Belajar dari Injil hari ini yang berbicara tentang kubur yang kosong, kita dapat melihat mengapa <\/span>kasih<span lang=\"IN\"> adalah <\/span>keutamaan <span lang=\"IN\">mendasar bagi Yohanes dan <\/span>juga bagi <span lang=\"IN\">setiap<\/span> pengikut Yesus<span lang=\"IN\">. Saat Petrus datang ke makam, dia tidak melihat apapun, kecuali kubur yang kosong. Bagi Petrus dan murid-murid lainnya, ini sangat tidak masuk akal dan <\/span>masa depan mereka <span lang=\"IN\">tanpa harapan,<\/span> namun seorang murid tidak menyerah. <span lang=\"IN\">Ia adalah murid yang mengasihi Yesus dan dikasihi Yesus.<\/span> Sungguh<span lang=\"IN\">, kasih menjadi<\/span> titik nadir perubahan<span lang=\"IN\">. Hanya mata kasih <\/span>yang <span lang=\"IN\">dapat menembus kubur yang kosong<\/span> dan<span lang=\"IN\"> paling gelap dan melihat makna di dalamnya. <\/span>Bagi mereka yang mengasihi<span lang=\"IN\">, Yesus tidak hilang, dan bahkan tidak mati. Ia hidup, hadir dan <\/span>penuh <span lang=\"IN\">bersemangat. Dan semua ini, hanya mungkin bila ada kasih yang mengalahkan segalanya. Seperti St. Paulus yang berkata, <i>\u201cDemikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Kor 13:13).<\/i><\/span><i>\u201d<\/i><\/p>\n<p class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\">Seperti Yohanes, kita semua dipanggil sebagai murid yang mengasihi dan dikasihi Yesus. Perayaan Santo Yohanes menjadi <span lang=\"IN\">waktu <\/span>yang tepat <span lang=\"IN\">bagi kita untuk belajar untuk melihat <\/span>dengan mata sang rasul yang mengasihi Yesus, <span lang=\"IN\">untuk melihat melalui mata kasih. Sebagai <\/span>sang rasul<span lang=\"IN\"> melihat Tuhan yang bangkit di kubur yang kosong, kita akan melihat Kristus yang bangkit di dalam kekosongan hidup ini. Dengan mata kasih, seorang ibu tidak akan melihat bayi <\/span>di <span lang=\"IN\">dalam rahimnya hanya sebagai penyusup atau beban<\/span> berat<span lang=\"IN\">, tapi<\/span> sebuah<span lang=\"IN\"> hidup yang memegang masa depan yang cerah. Dengan mata kasih, seorang istri tidak akan melihat <\/span>suaminya yang tua, <span lang=\"IN\">sakit-sakitan dan penuh dengan ketidaksempurnaan sebagai <\/span>sebuah <span lang=\"IN\">kesalahan, tapi <\/span>sebuah <span lang=\"IN\">jiwa pemberani yang <\/span>telah <span lang=\"IN\">mendedikasikan hidupnya<\/span> bagi<span lang=\"IN\"> dia.<\/span> Sekarang pertanyaan adalah: <i><span lang=\"IN\">Apa yang Kamu lihat di kubur yang kosong<\/span><\/i><i> di dalam hidupmu<\/i><i><span lang=\"IN\">?<\/span><\/i><\/p>\n<p class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\"><i><span lang=\"IN\">\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\">Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP<\/p>\n<div class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\"><span lang=\"IN\">\u00a0(English Edition)<\/span><\/div>\n<div class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\"><span lang=\"IN\"><br \/>\n<\/span><\/div>\n<div class=\"x_ydpf9dcc2c3MsoNormal\">\n<p class=\"x_ydp7453bafMsoNormal\">The Beloved Disciple<\/p>\n<p class=\"x_ydp7453bafMsoNormal\">\n<p class=\"x_ydp7453bafMsoNormal\">The Feast of St. John, the Apostle and Evangelist<\/p>\n<p class=\"x_ydp7453bafMsoNormal\">December 27, 2017<\/p>\n<p class=\"x_ydp7453bafMsoNormal\">John 20:1-8<\/p>\n<p class=\"x_ydp7453bafMsoNormal\">\n<p class=\"x_ydp7453bafMsoNormal\">Today, we are celebrating the feast of St. John, the Apostle and Evangelist. He is the brother of James, the sons of Zebedee. The tradition has it that despite persecutions, he enjoys a long life, and spends his last days in Ephesus, taking care of Mary, the Mother of Jesus. The Fourth Gospel and three Catholic letters are attributed to him, and perhaps they are his best contributions. In his Gospel, the identity of Jesus as the divine Word made flesh, is explicitly expressed and proclaimed. In his letter, we discover the essence of God that is love.<\/p>\n<p class=\"x_ydp7453bafMsoNormal\">He is also called as the disciple whom Jesus loves. Learning from today\u2019s Gospel that speaks of the empty tomb, we may see why love is the fundamental value for John and every Christian. When Peter comes to the tomb, he does not see anything, but an empty space. For Peter and other disciples, this is so absurd and hopeless, but one disciple does not give up. He is John, the disciple who loves Jesus and whom Jesus loves. Indeed, love turns to be the game changer. Only the eyes of love can pierce through the darkest empty tomb and see a deepest meaning of it. In love, Jesus is not lost, and not even dead. He is fully alive, present and vibrant. And all of this, only possible when there is love that conquers all. As St. Paul would say, \u201cSo faith, hope, love remain, these three; but the greatest of these is love (1 Cor 13:13).\u201d<\/p>\n<p class=\"x_ydp7453bafMsoNormal\">We are called to be disciples that loves Jesus because Jesus loves us. Thus, it is the time for us to learn to see what the beloved sees, to see through the eyes of love. As the beloved disciple sees the risen Lord at the empty tomb, we shall see the resurrected Christ as well in this emptiness of life. With the eyes of love, a mother will not see a baby in her womb just as an intruder or burden, but life that holds bright future. With the eyes of love, a wife will not see her aging and sickly husband as mistake, but a living brave soul who dedicated his life for her, despite so many imperfections.\u00a0 The question now is:<i> What do you see in the empty tomb of your life?<\/i><\/p>\n<p class=\"x_ydp7453bafMsoNormal\">\n<p class=\"x_ydp7453bafMsoNormal\">Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(bahasa Indonesia) Murid yang Dikasihi Yesus \u00a0 Pesta St. Yohanes, Rasul dan Penginjil 27 Desember 2017 Yohanes 20: 1-8 \u00a0 Hari ini, kita merayakan pesta Santo Yohanes, Rasul dan Penginjil. Dia adalah saudara dari Yakobus, anak-anak Zebedeus. Tradisi mengatakan bahwa meskipun mengalami penganiayaan, ia menikmati hidup yang panjang, dan menghabiskan hari-hari terakhirnya di Efesus, merawat Maria, Bunda Yesus. Injil keempat dan tiga surat katolik dikaitkan dengannya, dan mungkin ini adalah kontribusi terbesarnya. Dalam Injilnya, identitas Yesus sebagai Firman ilahi yang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7125\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":22,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7125","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7125","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/22"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7125"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7125\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7126,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7125\/revisions\/7126"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7125"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7125"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7125"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}