{"id":7313,"date":"2018-03-08T18:06:06","date_gmt":"2018-03-09T02:06:06","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7313"},"modified":"2018-03-08T18:06:06","modified_gmt":"2018-03-09T02:06:06","slug":"cinta-tanpa-syarat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7313","title":{"rendered":"CINTA TANPA SYARAT"},"content":{"rendered":"<p class=\"x_MsoNormal\">Renungan Lubuk Hati<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">Jumat, 9 Maret 2018<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">Hari Biasa Pekan III Prapaskah<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">[Hos. 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17; Mrk. 12:28b-34]<\/p>\n<p class=\"x_MsoNormal\">\n<p class=\"x_MsoNormal\">CINTA TANPA SYARAT<\/p>\n<p class=\"x_gmail-MsoListParagraphCxSpFirst\">Bacaan ini adalah sangat sering didengarkan, namun paling sulit dilakukan. \u2018Mencintai sesama, seperti mencintai diri sendiri.\u2019 Cinta kita kepada sesama, diwarnai dengan cinta bersyarat. Ada beberapa model cinta bersyarat. Pertama, karena orang yang kita cintai memiliki sesuatu. Orientasinya adalah barang\/materi. Namun, ketika sesuatu itu hilang, maka cinta kita kepada orang tersebut juga otomatis hilang. Kedua, karena orang tersebut baik kepada kita. Orientasinya adalah perbuatan. Cinta karena sesuatu yang pernah dilakukan kepada saya, yang membuat saya senang dan merasa nyaman. Tapi, bisa jadi kita akan meninggalkan orang tersebut, bila ternyata kekurangannya lebih banyak dari kenyamanan yang kita dapat. Ketiga, karena sifat-sifat dan karakter yang disukai: perhatian dan pengertian, atau sifatnya cocok. Kalau tidak itu, maka tidak mau. Cinta model demikian adalah cinta yang selektif, atau cinta berdasarkan selera, yang cenderung egoistis.<\/p>\n<p class=\"x_gmail-MsoListParagraphCxSpLast\">Kehidupan dalam komunitas kita, tanpa disadari juga tercipta relasi yang demikian. Bahwa kedekatan relasi, tidak menjamin ketulusan kasih, tapi bisa jadi karena syarat-syarat yang terpenuhi dalam berelasi. Misalnya, ada seorang yang berteman dekat, padahal dulu \u2018bermusuhan\u2019 namun pada suatu saat, menjadi dekat, karena sama-sama tidak punya teman, lalu jadi \u2018klop\u2019 dan saling melengkapi.\u00a0\u00a0Namun, ajakan Yesus jelas dan tegas, bahwa mengasihi yang paling sulit adalah memang mengasihi sesama, seperti mengasihi diri sendiri. Yesus tidak membutuhkan waktu lama untuk membuktikan hal tersebut. Dalam Injil, Yesus berjumpa dengan ahli-ahli taurat, dan Ia sadar bahwa mereka ini tidak suka dengan kehadiran Yesus. Namun, Yesus tidak membenci, dan memandang mereka sebagai orang bijaksana, bahkan dengan terang-terangan mengatakan: \u201cEngkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!\u201d Yesus tidak benci, tidak berprasangka buruk, dan justru sebaliknya, memberi berkat bagi ahli-ahli taurat tersebut. Maka, apa yang dilakukan Yesus ini juga menjadi sikap kita, meski di awal sudah dikatakan bahwa sabda ini adalah sabda yang sulit dilakukan, namun bukan tidak mungkin untuk diterapkan, asalkan kita sendiri sadar tentang kasih Allah itu sendiri, dan senantiasa memohon rahmat kasih itu setiap hari.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Renungan Lubuk Hati Jumat, 9 Maret 2018 Hari Biasa Pekan III Prapaskah [Hos. 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14,17; Mrk. 12:28b-34] CINTA TANPA SYARAT Bacaan ini adalah sangat sering didengarkan, namun paling sulit dilakukan. \u2018Mencintai sesama, seperti mencintai diri sendiri.\u2019 Cinta kita kepada sesama, diwarnai dengan cinta bersyarat. Ada beberapa model cinta bersyarat. Pertama, karena orang yang kita cintai memiliki sesuatu. Orientasinya adalah barang\/materi. Namun, ketika sesuatu itu hilang, maka cinta kita kepada orang tersebut juga otomatis hilang. Kedua, karena orang tersebut baik&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7313\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7313","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7313","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7313"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7313\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7314,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7313\/revisions\/7314"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7313"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7313"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7313"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}