{"id":7395,"date":"2018-04-04T04:11:00","date_gmt":"2018-04-04T11:11:00","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7395"},"modified":"2018-04-04T04:11:00","modified_gmt":"2018-04-04T11:11:00","slug":"rabu-oktaf-paskah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7395","title":{"rendered":"Rabu Oktaf Paskah"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"irc_mi alignleft\" src=\"https:\/\/s-media-cache-ak0.pinimg.com\/736x\/b2\/f8\/1c\/b2f81cd76ef7098a644095999f28965f.jpg\" alt=\"Image result for emmaus journey\" width=\"371\" height=\"277\" \/><\/p>\n<p><strong>Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><strong>Rabu Oktaf Paskah<\/strong><\/p>\n<p>Kis 3:1-10; Luk 24:13-35<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>MANUSIA PASKAH: MENGENALI WAJAH TUHAN DALAM MAKAN BERSAMA<\/strong><\/p>\n<p>Salah satu acara yang saya tunggu-tunggu sewaktu dulu tinggal di seminari atau sekarang saat di paroki adalah makan bersama. Bukan pertama-tama karena saya suka makan atau makanan di seminari dan paroki enak dan nikmat. Saya senang dengan acara makan bersama lebih karena saya bisa mengalami perjumpaan yang berkualitas dengan teman-teman frater dan romo. Dalam makan bersama, kami bisa saling berbagi cerita apa saja, mulai dari hal-hal yang sederhana sepele hingga hal-hal yang rumit serius. Di satu waktu kami bisa larut dalam kegembiraan dalam canda dan tawa. Di waktu lain kami bisa ikut merasakan kesulitan yang sedang dialami teman. Meja makan menjadi tempat perjumpaan yang penuh kasih. Dan makan bersama menjadi acara yang sungguh meneguhkan.<\/p>\n<p>Injil hari ini mengisahkan perjumpaan dua orang murid dengan Yesus dalam perjalanan menuju Emaus. Dari kisah panjang penuh makna itu, salah satu hal yang menarik adalah adegan makan bersama. Dikisahkan bagaimana dua murid mengundang Yesus untuk tinggal dan makan bersama mereka. Saat makan bersama itulah dua murid baru sadar bahwa orang yang bersama mereka itu adalah Yesus. Sepanjang perjalanan mereka bercerita panjang lebar dengan Yesus, namun tak kunjung mengenali-Nya. Baru dalam makan bersama mata para murid terbuka sehingga mereka bisa mengenali Yesus. Hal ini ditegaskan oleh kalimat penutup Injil bahwa kedua murid itu lalu menceritakan pengalaman itu kepada murid-murid lain tentang bagaimana mereka mengenali Yesus waktu Ia memecah-mecahkan roti.<\/p>\n<p>Makan bersama sebenarnya adalah aktivitas yang sederhana. Makan bersama menjadi aktivitas yang berkualitas saat satu sama lain saling membuka dan memberi dirinya untuk yang lain. Sayangnya, pengalaman makan bersama yang berkualitas itu jarang dialami oleh kita pada zaman ini. Barangkali kita jarang menyediakan waktu khusus untuk makan bersama dengan keluarga atau sahabat-sahabat baik kita. Kalaupun ada acara makan bersama, barangkali juga kita tidak sungguh hadir dalam acara makan bersama itu. Bisa jadi kita lebih sibuk memfoto makanan yang akan kita makan untuk kemudian dibagikan kepada orang-orang yang sedang tidak bersama di hadapan kita. Kisah perjalanan Emaus mengajari kita bagaimana makan bersama bisa menjadi sarana untuk mengenali wajah Tuhan.<\/p>\n<p>Mari menjadi <strong>Manusia Paskah<\/strong> dengan <strong>mengenali wajah Tuhan <\/strong>dalam<strong> makan bersama <\/strong>yang berkualitas!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko Rabu Oktaf Paskah Kis 3:1-10; Luk 24:13-35 \u00a0 MANUSIA PASKAH: MENGENALI WAJAH TUHAN DALAM MAKAN BERSAMA Salah satu acara yang saya tunggu-tunggu sewaktu dulu tinggal di seminari atau sekarang saat di paroki adalah makan bersama. Bukan pertama-tama karena saya suka makan atau makanan di seminari dan paroki enak dan nikmat. Saya senang dengan acara makan bersama lebih karena saya bisa mengalami perjumpaan yang berkualitas dengan teman-teman frater dan romo. Dalam makan bersama, kami bisa&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7395\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7395","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7395","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7395"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7395\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7396,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7395\/revisions\/7396"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7395"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7395"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7395"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}