{"id":7397,"date":"2018-04-05T06:33:57","date_gmt":"2018-04-05T13:33:57","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7397"},"modified":"2018-04-05T06:33:57","modified_gmt":"2018-04-05T13:33:57","slug":"kamis-oktaf-paskah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7397","title":{"rendered":"Kamis Oktaf Paskah"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"irc_mi alignleft\" src=\"http:\/\/catholickey.org\/wp-content\/uploads\/2015\/03\/FrancisCandle1.jpg\" alt=\"Related image\" width=\"364\" height=\"273\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><strong>Kamis Oktaf Paskah<\/strong><\/p>\n<p>Kis 3:11-26; Luk 24:35-48<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>MANUSIA PASKAH: RAGU MENJADI PERCAYA<\/strong><\/p>\n<p>Pada dasarnya, ragu adalah sikap yang lumrah manusiawi dalam hidup manusia. Orang melihat adanya kekurangan, lalu ragu untuk melangkah maju, itu biasa. Orang melihat ada hal yang janggal dalam suatu peristiwa, kemudian ragu dengan \u2018kebenaran\u2019 yang dinyatakan, itu juga umum terjadi. Apalagi untuk masyarakat zaman ini, keragu-raguan mengiringi sikap kritis banyak orang terhadap suatu hal. Kadang memang orang perlu ragu agar ia memberoleh kemantapan; agar ia beroleh kebenaran yang sejati. Dalam arti tertentu, sikap ragu dan kritis dibutuhkan dalam hidup masyarakat zaman ini. Keraguan lalu tampak positif dan konstruktif.<\/p>\n<p>Kalau Injil hari ini masih menampakkan keraguan para murid dengan Yesus yang bangkit, dalam batas-batas tertentu bolehlah dimaklumi. Bukan perkara mudah bagi para murid untuk menangkap kenyataan kebangkitan Yesus yang sama sekali di luar bayangan mereka sebelumnya. Iman para murid akan kebangkitan Yesus rupanya bukan iman yang sekali jadi. Para murid rupanya berproses sungguh; dan Yesus berkali-kali menampakkan diri agar para murid paham betul akan kebangkitan yang Ia maksudkan.<\/p>\n<p>Injil hari ini memang mengisahkan para murid yang masih ragu sehingga Yesus bertanya: \u201cMengapa kamu terkejut, dan apa sebabnya timbul keragu-raguanan dalam hatimu?\u201d Karena masih menangkap keragu-raguan dalam diri para murid, Yesus sampai mempersilakan mereka menyentuh-meraba diri-Nya, dan bahkan makan ikan goreng. Ada gerak membuka diri dalam diri Yesus untuk menuntun para murid berproses dari ragu menjadi percaya.<\/p>\n<p>Iman kita pun diharapkan bukan iman yang naif; yang asal percaya tanpa punya kedalaman pengetahuan dan pengalaman akan Allah. Beriman rupanya adalah sebuah proses terus menerus seumur hidup. Mungkin pernah ada keragu-raguan dalam proses beriman kita. Namun, kita juga harus sadar bahwa Allah selalu membuka diri-Nya dan menuntun kita pada iman yang sejati.<\/p>\n<p>Mari menjadi <strong>Manusia Paskah<\/strong> dengan bergerak dari sikap <strong>RAGU <\/strong>menjadi<strong> PERCAYA!<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; &nbsp; &nbsp; Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko Kamis Oktaf Paskah Kis 3:11-26; Luk 24:35-48 \u00a0 MANUSIA PASKAH: RAGU MENJADI PERCAYA Pada dasarnya, ragu adalah sikap yang lumrah manusiawi dalam hidup manusia. Orang melihat adanya kekurangan, lalu ragu untuk melangkah maju, itu biasa. Orang melihat ada hal yang janggal dalam suatu peristiwa, kemudian ragu dengan \u2018kebenaran\u2019 yang dinyatakan, itu juga umum terjadi. Apalagi untuk masyarakat zaman ini, keragu-raguan mengiringi sikap kritis banyak orang terhadap suatu hal. Kadang memang orang&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7397\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7397","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7397","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7397"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7397\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7398,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7397\/revisions\/7398"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7397"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7397"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7397"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}