{"id":7399,"date":"2018-04-05T06:36:17","date_gmt":"2018-04-05T13:36:17","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7399"},"modified":"2018-04-05T06:36:17","modified_gmt":"2018-04-05T13:36:17","slug":"jumat-oktaf-paskah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7399","title":{"rendered":"Jumat Oktaf Paskah"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"irc_mi alignleft\" src=\"http:\/\/cbcjoy.org\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/SoeWeb.jpg\" alt=\"Image result for spirit of easter\" width=\"654\" height=\"368\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p><strong>Jumat Oktaf Paskah<\/strong><\/p>\n<p>Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>MANUSIA PASKAH: BERJUMPA DENGAN ALLAH DALAM RUTINITAS HIDUP HARIAN<\/strong><\/p>\n<p>Kisah Injil hari ini mencatat bahwa penampakan di Danau Tiberias adalah kali ketiga Yesus menampakkan diri kepada para murid. Kisahnya amat menarik. Secara alur hampir sama dengan kisah panggilan murid di Injil Lukas. Para murid yang semalam-malaman menebarkan jala tidak mendapatkan apa-apa. Kemudian Yesus datang kepada mereka dan menunjukkan di sebelah mana ikan-ikan bisa didapatkan. Para murid melakukan arahan Yesus. Dan benar saja, mereka lalu memperoleh ikan yang melimpah. Kisah yang hampir sama ini menjadi jembatan bagi Yesus untuk mengenalkan diri-Nya kembali kepada para murid.<\/p>\n<p>Setelah Yesus wafat, rasa sedih dan kecewa yang hebat memang menyelimuti para murid. Mereka juga terkejut dan bertanya-tanya bagaimana bisa Guru dan Tuhan mereka wafat di kayu salib. Mereka juga mulai kebingungan dengan berita, yang entah benar entah salah, bahwa Yesus kini sudah bangkit dari kematian. Di tengah rasa yang campur aduk ini, sebagaian dari mereka memutuskan untuk kembali hidup seperti sediakala sebelum menjadi murid Yesus. Mereka yang nelayan, termasuk Petrus, akhirnya kembali mencari ikan sebagai nelayan. Para murid kembali hidup dalam rutinitas hidup harian mereka masing-masing. Dan di sana Yesus menampakkan diri-Nya.<\/p>\n<p>Yesus rupanya juga memilih rutinitas hidup harian para murid untuk menyatakan kebangkitan-Nya. Yesus menampakkan diri-Nya kepada para murid di tengah kesibukan pekerjaan mereka. Ia bahkan kembali datang pada saat para murid sedang mengalami kesulitan dalam pekerjaan. Ia tidak hanya menyapa mereka untuk menunjukkan kehadiran-Nya, melainkan juga memberi solusi agar pekerjaan para murid bisa berbuah.<\/p>\n<p>Kita pun harus sadar bahwa pada akhirnya kita akan selalu kembali pada rutinitas hidup harian kita. Setiap Minggu kita pergi ke gereja untuk memuncaki hidup kita dengan ekaristi. Tapi, kita pun selalu sadar bahwa kita akan pulang dan kembali menjalani rutinitas hidup harian dari hari Senin hingga Sabtu. Seperti yang dialami para murid, Allah pun juga hadir dan menyapa kita dalam rutinitas dan pekerjaan kita sehari-hari. Dan bukan hanya menyapa, Ia juga siap menemani, membantu, dan memberi solusi bagi kita dalam menjalani rutinitas hidup harian yang kadang terasa berat, sulit, dan membosankan.<\/p>\n<p>Mari menjadi <strong>Manusia Paskah<\/strong> dengan <strong>berjumpa dengan Allah dalam rutinitas hidup harian!<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko Jumat Oktaf Paskah Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14 \u00a0 MANUSIA PASKAH: BERJUMPA DENGAN ALLAH DALAM RUTINITAS HIDUP HARIAN Kisah Injil hari ini mencatat bahwa penampakan di Danau Tiberias adalah kali ketiga Yesus menampakkan diri kepada para murid. Kisahnya amat menarik. Secara alur hampir sama dengan kisah panggilan murid di Injil Lukas. Para murid yang semalam-malaman menebarkan jala tidak mendapatkan apa-apa. Kemudian Yesus datang kepada mereka dan menunjukkan di sebelah mana ikan-ikan bisa didapatkan. Para&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7399\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7399","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7399","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7399"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7399\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7400,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7399\/revisions\/7400"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7399"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7399"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7399"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}