{"id":7522,"date":"2018-05-09T16:39:18","date_gmt":"2018-05-09T23:39:18","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7522"},"modified":"2018-05-09T16:39:18","modified_gmt":"2018-05-09T23:39:18","slug":"hr-kenaikan-tuhan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7522","title":{"rendered":"HR Kenaikan Tuhan"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"irc_mi alignright\" src=\"http:\/\/saintpaullighthousepoint.com\/wp-content\/uploads\/2016\/03\/Ascension-3.jpg\" alt=\"Image result for ascension\" width=\"567\" height=\"352\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kamis, 10 Mei 2018<\/strong><\/p>\n<p>Kis 1:1-11; Ef 1:17-23; Mrk 16:15-20<\/p>\n<p>Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><strong>Tak Kenal Pensiun<\/strong><\/p>\n<p>Empat puluh hari adalah waktu yang dirasa cukup bagi Yesus untuk meneguhkan iman para murid yang sempat goncang karena sengsara dan wafat-Nya. Sepanjang 40 hari itu para murid berproses dalam imannya untuk semakin memahami misteri Paskah Yesus. Melalui penampakan-penampakan-Nya, Yesus berusaha meneguhkan iman para murid dan membangun pondasi Gereja-Nya. Kini, 40 hari sudah berlalu dan saatnya sudah tiba. Yesus harus naik ke surga meninggalkan para murid dengan tugas perutusan mewartakan Injil kepada segala makhluk ke seluruh penjuru dunia.<\/p>\n<p>Yang menarik adalah rupanya Tuhan masih ikut bekerja dalam tugas perutusan para murid. Markus menulis: <em>\u201cPergilah para murid memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya\u201d<\/em> (Mrk 16:20). Tuhan ternyata masih ikut bekerja dan menyertai para murid. Bahwa Tuhan telah naik ke surga dan meninggalkan para murid di dunia secara fisik, itu memang benar adanya. Tapi, rupanya itu tak serta merta berarti Ia berhenti bekerja. Tuhan tak mengenal istilah pensiun! Ia memang mempercayakan pewartaan Injil kepada para murid. Namun, itu tidak lalu berarti bahwa Ia hanya duduk-duduk manis di surga mulia menikmati indahnya bunga-bunga Taman Firdaus dengan ditemani secangkir kopi hangat. Tuhan masih turut bekerja. Ia selalu menyertai kita, para murid-Nya. Ia tak pernah pensiun!<\/p>\n<p>Hal ini seringkali luput dari perhatian kita. Tanpa kita sadari kita ikut larut dalam logika dunia bahwa bekerja itu ada jangka waktunya. Ada waktu bekerja, ada pula waktu pensiun. Ada waktu bekerja dengan sangat keras, ada juga waktu berhenti dan tinggal menikmati hasil jerih payah selama bekerja. Hari ini, Yesus mengajari kita bahwa dalam bekerja di ladang-Nya, yaitu mewartakan kabar gembira, tidak ada istilah berhenti atau pensiun. Menjadi murid Yesus, yang berarti menjadi pewarta Injil-Nya, adalah seumur hidup alias selama-lamanya. Konsekuensi sederhananya bagi kita adalah tidak ada kata berhenti atau cukup dalam berbuat baik. Tidak ada kata pensiun untuk berbuat baik. Sebagaimana Tuhan masih terus berkarya meski Ia telah kembali ke surga mulia, demikian juga kita harus terus berbuat baik sepanjang hidup agar hidup kita sungguh menjadi kabar gembira bagi sesama. Jangan lelah bekerja di ladang Tuhan!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; &nbsp; Kamis, 10 Mei 2018 Kis 1:1-11; Ef 1:17-23; Mrk 16:15-20 Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko \u00a0 Tak Kenal Pensiun Empat puluh hari adalah waktu yang dirasa cukup bagi Yesus untuk meneguhkan iman para murid yang sempat goncang karena sengsara dan wafat-Nya. Sepanjang 40 hari itu para murid berproses dalam imannya untuk semakin memahami misteri Paskah Yesus. Melalui penampakan-penampakan-Nya, Yesus berusaha meneguhkan iman para murid dan membangun pondasi Gereja-Nya. Kini, 40 hari sudah berlalu dan saatnya sudah tiba&#8230;.<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7522\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7522","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7522","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7522"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7522\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7523,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7522\/revisions\/7523"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7522"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7522"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7522"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}