{"id":7583,"date":"2018-05-27T15:28:34","date_gmt":"2018-05-27T22:28:34","guid":{"rendered":"http:\/\/lubukhati.org\/?p=7583"},"modified":"2018-05-27T15:28:34","modified_gmt":"2018-05-27T22:28:34","slug":"sesak-ala-unta-dan-vietcong-untuk-selamat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7583","title":{"rendered":"Sesak ala Unta (dan Vietcong) untuk Selamat!"},"content":{"rendered":"<p>Lubuk Hati 28 Mei 2018<\/p>\n<p>Mrk. 10:17-27<\/p>\n<p>Sesak ala Unta (dan Vietcong) untuk Selamat!<\/p>\n<p>Tahun 2013, saya berkunjung ke Vietnam bersama keluarga besar saya. Ketika berada di Ho Chi Minh City, Vietnam, kami diajak ke sebuah hutan yang sudah diubah menjadi taman pertunjukkan kehebatan pasukan Vietcong saat melawan tentara Amerika pada saat perang Vietnam tahun 60an-70an. Saya melihat senjata, jebakan, pondok, peralatan masak, dan banyak hal lainnya. Tapi yang paling menarik adalah terowongan C\u1ee7 Chi yang hanya bisa dilalui oleh satu orang dewasa ukuran kecil hingga sedang. \u201cLubang tikus\u201d itu sangat sempit bagi saya, dan ketika berada sekitar 5-10 meter di bawah tanah, oksigen yang dihirup seseorang pun akan sangat \u201ctipis.\u201d Terowongan ini membuat saya ingin lari keluar darinya karena secara otomatis, rasa nyaman dan aman saya terganggu. Terowongan itu memang dibuat untuk bersembunyi, menyerang tentara Amerika yang berpatroli di hutan, sekaligus tempat untuk berkomunikasi dan mendistribusikan logistik bagi para pejuang Vietcong. Berada di terowongan itu membuat adrenalin saya meninggi dan gerakan saya merangkak di dalam \u201clubang tikus\u201d itupun menjadi semakin cepat karena keinginan untuk menggapai oksigen yang sangat kurang sembari berusaha keluar dari kegelapan. Dua hal yang ditakuti oleh seorang manusia hingga di akhir hidupnya. Tapi rupanya para Vietcong tak pernah dikalahkan oleh rasa tak nyaman dan tak aman itu. Sejarah menunjukkan bahwa pejuang Vietcong juga berperan penting dalam kemenangan Vietnam (Utara) melawan Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Kalau hari ini kita membaca Injil yang berkisah tentang seorang pemuda yang kaya, dan perkataan Yesus yang menohok orang kaya, kita diajak untuk memikirkan apa dimaksud dengan, \u201cLebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.\u201d Mengapa lubang jarum? Jelas unta bahkan tak bisa melewati \u201clubang tikus\u201d ala Vietcong karena jelas unta lebih besar dari manusia. Mengapa unta? Apa salah unta sehingga dipakai Tuhan Yesus untuk menghina orang kaya? Unta tidak mempunyai kesalahan terhadap Yesus tentunya, tetapi unta itu akrab dengan orang-orang jaman Yesus yang sering memakainya untuk binatang transportasi baik manusia maupun barang. Unta para pedagang di jaman Yesus setiap hari selalu bersesak-sesakan di sebuah pintu kota Yerusalem dengan sesama unta dan manusia serta binatang lainnya ketika memasuki sebuah pintu kota Yerusalem sembari memikul bebannya. Jadi, sekali lagi, apa salah unta hingga dibanding-bandingkan dengan orang kaya? Para unta tentunya boleh berbangga bahwa mereka lebih baik di mata Yesus daripada pemuda kaya dalam bacaan hari ini.<\/p>\n<p>Orang yang kaya itu bukan hanya orang yang banyak uang, tetapi juga orang merasa memiliki banyak hal dalam hidupnya sehingga tidak lagi merasa perlu bergantung pada Tuhan. Kalau kita punya banyak \u201charta\u201d dalam hidup kita, dan kita jadi terikat dan bergantung kepada hal-hal tersebut, kita ini sama seperti si Pemuda Kaya. Kita jadi lebih jelek dari unta yang memikul beban dan mau bersesakan dengan sesama unta dan juga manusia, barang serta binatang lainnya. Bukankan kita sering merasa bahwa kita memiliki banyak hal yang membuat kita harusnya \u201clonggar\u201d dan tidak mau \u201csesak\u201d? Yesus bilang bahwa, kalau kita merasa kaya, punya banyak hal yang bisa dipamerkan, kita ini bukan pemenang iman, sama seperti pemuda kaya dalam Injil hari ini. Itu bisa berarti uang, jabatan, gelar, dan segala yang kita banggakan yang membuat kita terlena dan mencari kesenangan semata seakan-akan merekalah jalan keselamatan kita. Yesus menantang kebanggaan kita itu hari ini. Kita ini harusnya bisa menjadi \u201cVietcong\u201d dan juga \u201cunta\u201d versi Kerajaan Surga yang berani \u201cbersesak-sesakan\u201d untuk meraih kemenangan (iman). Bersesak-sesakan dalam arti bahwa berani meninggalkan apapun yang<\/p>\n<p>menghalangi kita mengikuti Tuhan dan mengambil apapun sebagai beban kalau memang hal itu penting dalam mengikuti Tuhan. Kalau mau bersesak-sesakan dan merasa tidak enak, itulah justru jalan keselamatan kita. Jangan jadi orang yang memilih jalan \u201clonggar dan ringan\u201d, melainkan jadilah seperti unta dan para Vietcong yang mau bersesak-sesakan dan memikul beban.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lubuk Hati 28 Mei 2018 Mrk. 10:17-27 Sesak ala Unta (dan Vietcong) untuk Selamat! Tahun 2013, saya berkunjung ke Vietnam bersama keluarga besar saya. Ketika berada di Ho Chi Minh City, Vietnam, kami diajak ke sebuah hutan yang sudah diubah menjadi taman pertunjukkan kehebatan pasukan Vietcong saat melawan tentara Amerika pada saat perang Vietnam tahun 60an-70an. Saya melihat senjata, jebakan, pondok, peralatan masak, dan banyak hal lainnya. Tapi yang paling menarik adalah terowongan C\u1ee7 Chi yang hanya bisa dilalui oleh&#8230;<\/p>\n<p class=\"read-more\"><a class=\"btn btn-default\" href=\"https:\/\/lubukhati.org\/?p=7583\"> Read More<span class=\"screen-reader-text\">  Read More<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-7583","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-renungan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7583","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7583"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7583\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7584,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7583\/revisions\/7584"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7583"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7583"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lubukhati.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7583"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}